Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 17 Maret 2018

Sejarah pencipta lagu 17 agustus dan sejarah pangeran diponegoro adalah ulama besar

0 komentar

"PONOROGO - JETIS - TEGALSARI DAN SEJARAH BANGSA"
================
(Untuk para guru tolong di disampaikan ke murid2nya karna penting)

Dahulu, ada tokoh pendidikan internasional, bernama  Dr. Sudjatmoko (Rektor Universitas PBB).

Beliau pernah berkata, pada zaman akhir ini, alternatif pendidikan terbaik adalah pondok pesantren, dengan catatan: memakai manageman modern.

Secara metode mengaji tetap memakai kitab salafiyah, namun dalam hal tata-kelola menggunakan manajemen modern.

Santri pondok pesantren itu ampuh.

_Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti penjajah Belanda adalah santri dan tarekat/thariqah._

_Ada seorang santri yang juga penganut tarekat, namanya Abdul Hamid._

Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta.

*Mondok pertama kali di Pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH Hasan Besari.*

Abdul Hamid *ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani* Kertosuro.

*Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi* Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta.

Terakhir Abdul Hamid *ngaji ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad* Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama lima tahun, 1825-1830.

Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari.

Abdul Hamid adalah Putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur.

Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang.

Menjadi nama di Kodam Jawa Tengah.

Terkenal dengan nama: Pangeran Diponegoro.

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro.

Dalam kurun lima tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.

_Nama aslinya_ *Abdul Hamid.*
_Nama populernya_ *Diponegoro.*

Adapun *nama lengkapnya adalah* _Kyai Haji Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong._

Tidak hanya Diponegoro, anak bangsa yang didik para ulama menjadi tokoh bangsa.

Diantaranya, di Yogjakarta ada seorang ulama bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan.

Punya santri banyak, salah satunya bernama _Suwardi Suryaningrat._

_*Suwardi Suryaningrat*_ ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional *yang terkenal dengan nama* _*Ki Hajar Dewantara.*_

Jadi, *Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang ulama besar.*

Sayangnya, *sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah,* _yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani._
Itu sudah baik, namun belum komplit.

*Ki Hajar Dewantara*  _selain punya ajaran Tut Wuri Handayani,_ *juga punya ajaran Al-Quran Al-Karim.*

Perlu diketahui bahwa ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.

Sang Sayyid tersebut menyusun lagu syukur.

Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan _H Muthahar._

_H Mutahar_ Itu *bukan* _Haji Muthahar,_ *namun* _Habib Husein Muthahar,_ *yang menciptakan lagu syukur.*
Beliau adalah Pak Dhenya Habib Umar Mutohar SH Semarang.

_Jadi, *yang menciptakan* lagu *syukur* yang kita semua hafal adalah *seorang sayyid, cucu/ keturunan baginda Nabi Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wassalam.*_

Mari kita nyanyikan bersama-sama.

_Dari yakinku teguh_
_Hati ikhlasku penuh_
_Akan karuniamu_
_Tanah air pusaka_
_Indonesia merdeka_
_Syukur aku sembahkan_
_Kehadiratmu tuhan_

*Itu yang menyusun cucu nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga kauman Semarang.*

Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.

Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.

Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid.   Hebat !!!

Lebih hebatnya lagi, *Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.*

Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat dzuhur.

Sampai pada kalimat hayya alas shalâh, terngiang suara adzan.

Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.
Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S” nya, “A” nya, “H” nya.

Kemudian pena berjalan, tertulislah dan lahirlah lagu :

_17 Agustus tahun 45_
_Itulah hari kemerdekaan kita_
_Hari merdeka nusa dan bangsa_
_Hari lahirnya bangsa Indonesia_
_Merdeka_
_Sekali merdeka tetap merdeka_
_Selama hayat masih dikandung badan_
_Kita tetap setia tetap setia_
_Mempertahankan indonesia_
_Kita tetap setia tetap setia_
_Membela negara kita_

*Maka peran para ulama, kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.*

Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, _minta didampingi putra ulama atau kyai._

Tampillah seorang dari kampung Batu Ampar, Maya Kumbung, Sumatera Barat.
Siapa beliau?
H. Mohammad Hatta.
Beliau putra ulama.

*Bung Hatta* _adalah putra Ustadz Kyai Haji Jamil, *Guru Thariqah Naqsyabandiyyah – Kholidiyyah.*_

Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.

Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra ulama dan putra penganut tarekat/thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.

Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh.
*Jangan sekali-kali memotong sejarah.*
Jika anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah anda akan dipotong oleh Allah SWT. 
Semoga bermanfaat.

Read more...

Sabtu, 20 Januari 2018

Sumber Bencana Alam

0 komentar

~"WASPADALAH, SUMBER BENCANA"~
Oleh★ Kiai Hasan Abdullah Sahal★

#Manusia ingat dunia lupa akherat adalah sumber bencana, manusia berusaha tanpa berdoa adalah bencana, manusia berdoa tanpa berusaha adalah bencana. Yang di atas tidak merasa kalau di atas, tidak mau bertanggung jawab atas amanatnya. Yang di bawah juga tidak mau tahu kapan taat dan kapan tidak taat. Disinilah sumber bencana “Karena adanya kekosongan, al-ajwaf-jawfa’, keropos, memikirkan materi tidak memikirkan moral, orang memikirkan moral tidak memikirkan materi, akhirnya kekosongan”.

#Alam rusak karena manusia, manusia tidak menempatkan dirinya sebagai makhluk yang akan memimpin alam. Nabi kita, Nabi Muhammad itu rahmatan lil’alamin, "wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin, wa nunazzilu minal Qur’ani maa huwa syifaa’un wa rahmatun." Rahmah, untuk supaya ke-rahmatanlil’alamin-nya Nabi kita Muhammad, untuk menjadi fungsinya al Qur’an sebagai syifa’ dan rahmah perlu hidayah, dan Islam itu lah yang namanya hidayah .

#Bagaimana alam di sekitar ini tetap abadi, tetap terjaga, tetap bermanfaat? Semua itu untuk manusia di dalam beribadah kepada Allah, “Lakum” (untuk kalian manusia). Di dalam al Qur’an itu “khalaqo lakum maa fissamaawaati wal ardh” “ja’ala lakumul ardho”, lakum, “alladzii ja’ala lakumul ardho firoosyan wassamaa_a binaa_an", Lakum. Kamu kalau bertanya “Hai kebo, hai wedus, hai kadal, kodok, kamu diciptakan untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu wahai manusia”. Bertanya kepada nyamuk “Kamu nyamuk diciptakan di dunia untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu manusia”. Apalagi tumbuh-tumbuhan, untukmu . Tetapi manusia diciptakan “liya’buduni” untuk menyembah Allah.

#Sumber bencana karena apa? “Karena meninggalkan fungsi”. Jadi, mengapa terjadi bencana disana-sini? “Karena adanya kehilangan atau perpindahan atau kerusakan fungsi”. Manusia capek jadi manusia, binatang pengen jadi manusia juga nggak bisa, laki-laki bosan jadi laki-laki, perempuan juga bosan jadi perempuan, payah. Monyet-monyet itu sekarang itu pada protes, karena apa? Karena manusia ganti nama, kalau pacaran mereka jadi cinta monyet. Marah mereka, mbok cinta manusia kenapa cintanya kok cinta monyet? Mbok cintanya “cinta kirik (anak anjing)” gitu, kok nama saya yang dipake? Kerbau itu juga marah. Mereka pengen ganti nama, karena apa? Karena namanya sudah dikorup oleh manusia, dicopet oleh manusia, kenapa nama saya dipake? itu di atap kita ada cicak, mbok namanya “kumpul cicak” kenapa nggak itu?, kumpul tanpa akad nikah itu. Marah, kecewa mereka.

#Laki-laki bosan jadi laki-laki, pakai giwang, pakai anting-anting, pakai kalung, tinggal kasih lonceng aja itu. Perempuan capeee’ jadi perempuan, pengen jadi laki-laki. Cape’ bosan jadi perempuan, ulah tingkahnya itu, teruskan sendiri. Gajah cape, di Lampung itu gajah pakai jilbab, warnanya hijau, dihiasi, tapi di atasnya itu ada makhluk ndak pakai baju, yang tertutup auratnya hanya tinggal seperempat atau sepersepuluh dari badannya. Bingung, ini manusianya mana? binatangnya mana? Itu di Lampung, manusia cape berpakaian. Betul? Ya Allah…

#Sumber bencana, La hawla wa la quwwata illa billah. Kita yang bertanggungjawab mengembalikan manusia kepada kemanusiaan yang sempurna. Kamu jadi santri harus bisa macam-macam termasuk pramuka, renang dan lain-lain. Kamu kalau berada di sungai, di danau, naik sampan, meskipun kamu pinter bahasa Arab, pinter bahasa Inggris, Matematika 9, Fisika 9, tapi nggak bisa berenang, kalau sampan terguling apa yang terjadi? Hah? Bahasa Arabmu itu ghoiru musta’mal ketika itu.

“SOMBONGNYA MANUSIA KARENA BISANYA, LUPA BERAPA YANG TIDAK DIBISAI”. Itulah makanya, disinilah banyak kekosongan akhirnya banyak tidak beres, sumber bencana.

#Kita jangan menyalahkan orang lain. Yang harus disalahkan adalah diri kita sendiri. Sekarang di Indonesia, terjadi bencana. Dulu waktu Tsunami di Aceh, apa komentar orang? “itu gara-gara Aceh banyak maksiat, karena disana banyak bid’ah, banyak khurofat, atau mau keluar dari Indonesia, akhirnya diterjang oleh Tsunami”, yang ngomong itu kira-kira orang Jawa Barat. Habis itu ganti Jawa Barat kena Tsunami, banjir lagi. Apa kata orang Jawa Tengah? “Ooo, itu gara-gara banyak maksiat, disitu banyak molimo, disitu banyak syirik, banyak orang yang berbuat maksiat, makanya dapat adzab dari Allah”, seakan-akan dia orang yang sholeh.

#Habis itu kena lagi, ganti Jogja yang kena gempa, apa kata orang lain? “wah itu gara-gara banyak syirik, disana banyak bid’ah, banyak orang yang maksiat, banyak orang yang kumpul kebo, pasti itu dapat adzab dari Allah”, yang ngomong itu seakan-akan orang sholeh. Jalan lagi, Jawa Timur lumpur Lapindo. Apa katanya? “gara-gara maksiat”. Seakan-akan orang hanya tinggal menyalahkan orang lain, seakan-akan dirinya yang paling sholeh. Ini termasuk sumber bencana. Apa sumber bencana? “Karena merasa dirinya itu sholeh, seakan-akan dirinya itu paling takut atau taqwa, kemudian menyalahkan orang lain”.

#Celakanya, waktu ada Tsunami itu ada selebriti atau artis yang ngomong “Ini peringatan dari Tuhan supaya orang-orang jangan sombong, yang sombong itu adalah orang yang suka mengkritik artis-artis”. Padahal Ulama’ kemarin mengatakan “Kita mendapat bencana karena banyak zina, banyak maksiat, banyak mengumbar aurat, banyak hubungan yang tidak beres, dan sebagainya dan sebagainya”, yang dimaksudkan adalah kaum artis. Besok pagi baru artis ada yang ngomong, “gara-gara maksiat”, apa maksiatnya? “Itu lho orang-orang yang menjelek-jelekkan artis” . Ini yang menjadi sumber bencana “Menyalahkan orang lain, membela diri tidak pada tempatnya”.

#Maka, “MARI KITA ISI HIDUP INI DENGAN YANG BERMANFAAT, JADILAH MANUSIA YANG BERMANFAAT, JANGAN HANYA PANDAI MEMANFAATKAN DAN JANGAN SAMPAI HANYA DIMANFAATKAN”.

●Pesan saya kepada kalian, sama halnya saya berpesan kepada anak kandung saya sendiri meskipun bukan saya yang mengandung, “JANGAN SAMPAI KAMU TIDAK MEMPUNYAI KEUNGGULAN YANG DIANDALKAN”. Keunggulan yang baik-baik, bukan seperti: keunggulan saya adalah ngebut di jalanan, nongkrong di tepi jalan, dan sebagainya, diteruskan sendirilah. “BERSYUKURLAH KAMU MENJADI SANTRI” ●

●"Semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Kyai-kyai kita, guru-guru kita selalu mengharapkan dan mendoakan kita menjadi orang yang alim dan sholeh, mempunyai peradaban sendiri, merubah keadaan yang kacau ini menjadi baik. Dalam bahasa Ustadz Syukri “Kita punya peradaban sendiri, kita ini perang peradaban dengan orang luar (non muslim), maka pandai-pandailah kamu mempantas-pantaskan dirimu sebagai santri sebagai ustadz, sebagai alumni Gontor. Pantas pola pikirnya, sikapnya dan tingkah lakunya”●

★☆★Sambutan Beliau saat Musyawarah Kerja Koordinator Gerakan Pramuka di Pondok Modern Darussalam Gontor★☆★

[Jazaakumullah khairan bagi siapapun yang menulis ulang dan yang ikut sebarkan posting an #spiritGONTOR ini.... Semoga jadi amal jariyah bagi kita semua... Aamiinn Allahumma Aamiinn]

Read more...

Jumat, 12 Januari 2018

Kisah pengorbanan pimpinan pondok Modern Darussalam Gontor

0 komentar

Yah allah wahai zat maha mendengar rahmatilah guru kami dan mudahkan lah urusan beliau, dan berkahilah amal nya, dan mudahkan lah kami untuk meneladani nya

Satu hari, saya diperintahkan mengikuti Pimpinan Pesantren (Kyai Syukri) untuk perjalanan ke Subang dengan pesawat. Beliau diminta untuk memberikan sambutan peresmian sebuah Masjid di sebuah cottage di subang. Sampai disana, ternyata beliau tidak hanya meresmikan Masjid disana, tapi juga bertemu dengan IKPM, mengunjungi pondok alumni, bersilaturrahmi dengan saudara beliau di Bandung, mengunjungi sentra kebun nanas, dan berkunjung ke BEC untuk beli HP. Hari pertama saya sudah kewalahan mengiringi semua kegiatan beliau. Begitu datang langsung pertemuan dengan pemilik Masjid, kemudian langsung pergi ke pertemuan IKPM Subang, sampai jam 01 malam baru selesai, dan pulang sampai penginapan pukul 01.30 dini hari. Masih juga menemui tamu yang sudah lama menunggu beliau di cottage. Saya betul-betul kaget, karena pada pukul 04.00 beliau sudah siap untuk ke masjid dan memimpin Jamaah di sana. Saya yang masih muda saja teller mengikuti aktifitas beliau yang dahsyat itu.

Keesokan harinya, saya dipanggil beliau menghadap, Kemudian di hadapan sang pemilik Masjid, beliau menyatakan : “Ul (panggilan kecil saya memang UUL), kalau kamu kepengen tahu, darimana biaya perjalanan dinas saya di Subang ini, silahkan tanya sama Pak Ibrahim ini (pemilik masjid). Beliau inilah yang memberikan biaya perjalanan dinas kita hingga sampai disini sekarang ini. Jadi tidak pakai Uang Pondok. Kalau ada yang mempertanyakan, dari mana Kyai Gontor itu uangnya, kok kemana-mana jalan-jalan terus. Maka sepeserpun uang pondok tidak kami pakai, kecuali untuk acara yang memang di maksudkan untuk kepentingan pesantren sendiri….dari yang mengundang kami-lah biaya perjalanan dinas kami selama ini…” Aku terpaku, kembali harus aku akui…pengorbananku ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Usaha yang beliau sudah lakukan...

Sekali lagi saya mendengar hal yg mungkin menurut sebagian orang terasa "aneh". Sebuah kenyataan bahwa ternyata, bahkan sampai detik ini sekalipun KH Hasan Abd Sahal tidak punya Mobil Pribadi..!! Dan KH Abd Syukri Zarksyi itu, membeli mobil setelah beliau sakit. Setelah beliau tidak bisa mensopiri sendiri mobil beliau...Jadi selama ini mobil yg dipakai beliau berdua itu ternyata mobil dinas dari Pondok. Yang pemakaiannya ditentukan, hari apa yg dibayai pondok, hari apa saja yg beliau gunakan dengan biaya beliau sendiri.. Saya mendengar ini langsung dari Guru yang alumni Gontor. Sanhat dkat dengan Pak Hasan. Masya Allah...Gontor, pesantren dengan 24.000 santri di seluruh cabangnya. Kyai-nya belum punya mobil pribadi?? Ya Rahman...kecil nian apa yg saya lakukan ya Allah, jika di Banding apa yg beliau lakukan... "Ada dua orang yg mukafaah ("gaji" bulanan yg sama sekali jumlahnya tidak bisa ditentukan) tidak diambil sampai sekarang...Pak Syukri dan Pak Hasan..." Lanjut guru itu. "Saya ingat Pak Syukri dulu pernah berkata : Saya tidak pernah ambil mukafaah saya...tapi kalian lihat, anak istri saya tercukupi, anak saya bisa kuliah, saya punya rumah...itulah...hidup-hidupilah pondok, maka kalian akan hidup...!!" Kali ini mata beiau berkaca-kaca... *** Kyai kami...Ayah kami...Guru kami...Ya Allah Rahmati beliau berdua...

Read more...

Selasa, 26 Desember 2017

Kunci diterima nya amal

0 komentar

KUNCI DITERIMA AMAL

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu." 

▶ (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi).

🌸 Dalam lafadz lain:

فإن قبلت منه قبل سائر عمله وإن ردت عليه عليه رد سائر عمله

Apabila shalatnya diterima maka akan diterima semua amalnya. Dan apabila ditolak, maka akan ditolak seluruh amalnya."

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang benar benar menjaga shalatnya, rukun dan syaratnya serta kekhusyuannya akan menyebabkan  amal  lainnya diterima, oleh karena itu jagalah waktu-waktu shalat dan selenggarakan lah dengan berjamaah agar keutamaan shalat tersebut sempurna.

Hadits tersebut menegaskan juga bahwa satu satu nya cara untuk menebus shalat yang ketinggalan dan tidak sempat tertunaikan adalah dengan melakukan shalat shalat Sunnah. Tidak ditemukan cara yang yang dianjurkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk menyempurnakan dan mengganti  shalat  yang tertinggal  kecuali dengan 
cara seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut.

Terdapat lima tingkatan terkait dengan shalat seseorang, yaitu   :

🍁 *1. Mu’aqab (kelompok yang diazab).*
Mereka adalah _golongan manusia yang mengerjakan sholat, tetapi salah menjalankannya dan jauh dari sempurna. Selain syarat dan rukunnya diabaikan, mulai dari pelaksanaan wudlu hingga soal thaharah  lainnya juga tidak mendapat perhatian. Dapat dikatakan, mereka itu shalat asal-asalan. Waktu shalat sering dilakukan diluar waktunya,sering terlambat, bahkan seringkali tidak dilaksanakan. Merekalah dalam al-Qur’an disebut *An shalatihim sahun* _"orang yang dhalimun linafsihi" yaitu orang yang menzalimi diri sendiri_.

🍃 *2. Muhasab (kelompok yang dihisab)*.
Golongan ini adalah _mereka yang rajin melaksanakan shalat, menjaga waktu-waktunya, demikian juga syarat, wajib dan rukunnya. Secara lahiriyah seluruh ketentuan mengenai shalat sudah dipenuhinya. Wudlunya bagus, pakaiannya nenutup aurat, tidak terkena najis, menghadap qiblat, tepat waktu, demikian juga semua rukun shalat tidak cacat. Sayang, satu hal yang kurang pada kelompok ini adalah kehadiran hatinya. Pada saat shalat, hati dan pikirannya tidak dijaga sehingga melayang-melayang entah kemana_.

🌹 *3. Mukaffar’anhu (yang diampuni dosa-dosanya).*
Setingkat lebih baik lagi adalah _kelompok orang-oramg yang senantiasa menjaga batasan-batasan shalat, menjalankan wajib dan rukunnya, bahkan menjalankan sunnah-sunnahnya, sekaligus bersungguh-sungguh disisi Allah SWT dari segala godaan nafsu was-was yang mengotori pikiran dan perasaannya. Dalam shalatnya mereka sibuk menjaga hati dan pikirannya. Mereka berkosentrasi penuh agar setan tidak berkesempatan  mencuri shalatnya_.

🌻 *4.Mutsah (yang diberi pahala).*
Tak sekedar diampuni dosa-dosanya, _mereka termasuk orang yang berhak mendapat pahala yang berlimpah. Mereka ini adalah segolongan kecil orang  yang *aqimush-shalat* (menegakkan shalat),tidak sekedar menjalankannya. _Golongan ini menegakkan shalat dengan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan hatinya tenggelam dalam menjaga batasan-batasanya. Mereka tidak membiarkan hatinya sedikitpun terlena dari segala hal yang dapat mengganggu konsentrasi shalatnya. Pada tingkatan ini seluruh anggota tubuhnya berzikir, pikirannya berzikir, juga hatinya berzikir.

🍀 *5. Muqarrib min Rabbihi (yang mendekatkan diri kepada Allah.)*
Tingkatkan yang paling tinggi adalah orang yang menegakkan shalat sampai pada tahap *Muqarribin* yaitu _orang-orang yang dekat dengan Allah. Ketika shalat, golongan ini merasa benar-benar bertemu dan berhadapan dengan Allah. Jika tidak melihat Allah, maka mereka yakin bahwa Allah melihatnya. Mereka meletakan hatinya dihadapan Allah, merasa diawasi Allah, dan hatinya penuh dengan kedekatan kepada Allah. Dihatinya telah sirna segala was-was dan segala pikiran diluar shalat. Mereka itulah orang-orang yang disebut Nabi SAW sebagai_ *muhsinin*

Firman Allah Subhanahu wa Taala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ  اَنَا فَاعْبُدْنِيْ  ۙ  وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Innaniii anallohu laaa ilaaha illaaa ana fa'budnii wa aqimish-sholaata lizikrii

"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 14)

Read more...

Rabu, 20 Desember 2017

Kisah istri Nabi Luth Alaihisslaam

0 komentar

*WALI'AH PUN TERCYDUK KARENA PRO LGBT*

Nabi Luth memiliki istri bernama Wali'ah. Sebagaimana banyak dinukil oleh para mufassir, Ibnu Abbas mengatakan bahwa Wali'ah tidak termasuk pelaku LGBT. Terbukti ia menikah dengan Nabi Luth dan mempunyai beberapa anak.

Jika Al-Qur'an pernah menyebut pengkhianatan yang dilakukan oleh istri Nabi Luth dan Nabi Nuh (fakhonatahuma), itu adalah pengkhianatan aqidah dan keberpihakan pada agenda musuh. Bukan pengkhianatan berupa baghyun atau fahisyah.

Salah satu versi sejarah menyebutkan, bahwa semula Wali'ah adalah istri yang baik. Sayang ia terpengaruh oleh seorang wanita tua yang menawarkan kekayaan berupa emas dan perak, dengan syarat ia harus bersedia memberi tahu penduduk Sodom, jika ada lelaki tampan yang bertamu ke rumahnya. Rumah Nabi Luth memang sering kedatangan tamu dari kaum lain.

Iman Wali'ah kalah dengan nafsu dan hasrat akan kekayaan dunia. Ia menerima tawaran wanita tua itu. Ia pun memberitahu kaum Sodom, setiap kali ada lelaki tampan yang bertamu pada suaminya.

Sementara itu, da’wah Nabi Luth kepada kaumnya tidak menambah apa-apa kecuali perlawanan dan kesombongan. Mereka terus-menerus mempertontonkan kekejian dan kemungkaran. Hingga Nabi Luth memohon pertolongan kepada Allah, “Ya Tuhanku, tolonglah aku atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (QS. Al Ankabut: 30).

Alloh mengabulkan doa Nabi Luth, dan mengutus Malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat datang ke Negeri Sodom dengan menyerupai dua orang lelaki yang tampan. Nabi Luth merasa susah dan sempit dadanya karena kedatangan mereka. Ia takut kedua tamunya akan menjadi mangsa seperti biasanya. (QS. Huud: 77)

Sementara bagi Wali'ah ini adalah peluang untuk mendapatkan pundi-pundi emas. Maka dengan diam-diam ia memberitahukan kedatangan kedua pemuda tampan itu kepada kaumnya.

Kaum Sodom pun berdatangan ke rumah Nabi Luth dengan penuh kebringasan. Luth mencoba mencegah mereka dengan menawarkan untuk menikahi putri-putrinya. Hal itu bagi Luth lebih ringan dari pada mereka berbuat bejat kepada tamunya. Namun mereka tidak berminat sedikit pun kepada putri-putri Luth.

Tiba-tiba tamu itu berkata kepada Nabi Luth: “Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak dapat mengganggu engkau.” Kemudian mereka berkata lagi: “Bukakan pintu dan tinggalkanlah kami bersama mereka!”.

Nabi Luth pun membuka pintu rumahnya. Kaumnya menyerbu masuk dengan penuh kegilaan menuju ke arah tamu-tamu Nabi Luth. Ketika itulah, Malaikat menunjukkan kelebihannya, ia mengembangkan sayapnya dan memukul orang-orang durjana itu.

Akhirnya mata mereka menjadi buta seketika. Mereka berteriak kesakitan dan bingung mencari arah. Bertanyalah Nabi Luth kepada Malaikat: “Apakah kaumku akan dibinasakan saat ini juga?” Malaikat menjawab bahwa azab akan ditimpakan kepada kaumnya pada waktu Subuh nanti.

Malaikat memerintahkan Nabi Luth untuk pergi pada akhir malam nanti bersama semua keluarganya, terkecuali istrinya. Istrinya Wali'ah termasuk yang akan diadzab. Karena ia telah berpihak dan turut membantu orang-orang berbuat kerusakan (QS. Huud: 81).

Kisah Wali'ah ini memberi pelajaran penting tentang keberpihakan. Betapa keberpihakan terhadap kekejian dan kemungkaran akan menyeret pada kebinasaan. Apapun yang menjadi alasan. Entah karena tendensi materi, empati yang bukan pada tempatnya, atau karena intelektualitas yang kebablasan.

_@hakimuddinsalim_

Read more...

Kisah istri Nabi Luth Alaihisslaam

0 komentar

*WALI'AH PUN TERCYDUK KARENA PRO LGBT*

Nabi Luth memiliki istri bernama Wali'ah. Sebagaimana banyak dinukil oleh para mufassir, Ibnu Abbas mengatakan bahwa Wali'ah tidak termasuk pelaku LGBT. Terbukti ia menikah dengan Nabi Luth dan mempunyai beberapa anak.

Jika Al-Qur'an pernah menyebut pengkhianatan yang dilakukan oleh istri Nabi Luth dan Nabi Nuh (fakhonatahuma), itu adalah pengkhianatan aqidah dan keberpihakan pada agenda musuh. Bukan pengkhianatan berupa baghyun atau fahisyah.

Salah satu versi sejarah menyebutkan, bahwa semula Wali'ah adalah istri yang baik. Sayang ia terpengaruh oleh seorang wanita tua yang menawarkan kekayaan berupa emas dan perak, dengan syarat ia harus bersedia memberi tahu penduduk Sodom, jika ada lelaki tampan yang bertamu ke rumahnya. Rumah Nabi Luth memang sering kedatangan tamu dari kaum lain.

Iman Wali'ah kalah dengan nafsu dan hasrat akan kekayaan dunia. Ia menerima tawaran wanita tua itu. Ia pun memberitahu kaum Sodom, setiap kali ada lelaki tampan yang bertamu pada suaminya.

Sementara itu, da’wah Nabi Luth kepada kaumnya tidak menambah apa-apa kecuali perlawanan dan kesombongan. Mereka terus-menerus mempertontonkan kekejian dan kemungkaran. Hingga Nabi Luth memohon pertolongan kepada Allah, “Ya Tuhanku, tolonglah aku atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (QS. Al Ankabut: 30).

Alloh mengabulkan doa Nabi Luth, dan mengutus Malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat datang ke Negeri Sodom dengan menyerupai dua orang lelaki yang tampan. Nabi Luth merasa susah dan sempit dadanya karena kedatangan mereka. Ia takut kedua tamunya akan menjadi mangsa seperti biasanya. (QS. Huud: 77)

Sementara bagi Wali'ah ini adalah peluang untuk mendapatkan pundi-pundi emas. Maka dengan diam-diam ia memberitahukan kedatangan kedua pemuda tampan itu kepada kaumnya.

Kaum Sodom pun berdatangan ke rumah Nabi Luth dengan penuh kebringasan. Luth mencoba mencegah mereka dengan menawarkan untuk menikahi putri-putrinya. Hal itu bagi Luth lebih ringan dari pada mereka berbuat bejat kepada tamunya. Namun mereka tidak berminat sedikit pun kepada putri-putri Luth.

Tiba-tiba tamu itu berkata kepada Nabi Luth: “Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak dapat mengganggu engkau.” Kemudian mereka berkata lagi: “Bukakan pintu dan tinggalkanlah kami bersama mereka!”.

Nabi Luth pun membuka pintu rumahnya. Kaumnya menyerbu masuk dengan penuh kegilaan menuju ke arah tamu-tamu Nabi Luth. Ketika itulah, Malaikat menunjukkan kelebihannya, ia mengembangkan sayapnya dan memukul orang-orang durjana itu.

Akhirnya mata mereka menjadi buta seketika. Mereka berteriak kesakitan dan bingung mencari arah. Bertanyalah Nabi Luth kepada Malaikat: “Apakah kaumku akan dibinasakan saat ini juga?” Malaikat menjawab bahwa azab akan ditimpakan kepada kaumnya pada waktu Subuh nanti.

Malaikat memerintahkan Nabi Luth untuk pergi pada akhir malam nanti bersama semua keluarganya, terkecuali istrinya. Istrinya Wali'ah termasuk yang akan diadzab. Karena ia telah berpihak dan turut membantu orang-orang berbuat kerusakan (QS. Huud: 81).

Kisah Wali'ah ini memberi pelajaran penting tentang keberpihakan. Betapa keberpihakan terhadap kekejian dan kemungkaran akan menyeret pada kebinasaan. Apapun yang menjadi alasan. Entah karena tendensi materi, empati yang bukan pada tempatnya, atau karena intelektualitas yang kebablasan.

_@hakimuddinsalim_

Read more...

Selasa, 19 Desember 2017

Kisah Sodom di desa Legetang, Dieng Jawa Tengah Indonesia

0 komentar

Azab itu pernah terjadi di sebuah desa bernama Legetang , Dieng th 1955

Buat yg blom pernah dengar dongeng tentang kisah Sodom & Gomorach versi Indonesia

Dalam semalam desa Legetang hilang lenyap seketika...

Ada sekelumit kisah nyata yang pernah terjadi pada sebagian
bangsa ini yang mungkin kita telah lupa. Dan sayangnya, peristiwa
yang penuh dengan pelajaran ini sama sekali tidak disinggung-
singgung sedikit pun di dalam buku pelajaran di sekolah. Kita dan
anak-anak kita tidak pernah tahu jika ada suatu desa yang
penduduknya nyaris sama dengan kaum Sodom-Gomorah, senang
bermaksiat, yang terkubur seluruhnya dalam satu malam hingga
tidak bersisa. Satu desa bersama seluruh penduduknya lenyap dalam
satu malam tertutup puncak sebuah gunung yang berada agak jauh
dari lokasi desa itu.
Inilah kisah tentang Dukuh Legetang, yang masuk dalam wilayah
Banjarnegara, Jawa Tengah. Kejadiannya di tahun 1955.
Pada saat itu, Dukuh Legetang yang terletak di Desa Pekasiran,
Kecamatan Batur, Banjarnegara, merupakan sebuah dukuh yang
makmur. Berbagai kesuksesan di bidang pertanian menghiasi
kehidupan dukuh (desa) itu.
Penduduknya cukup makmur dan kebanyakan para petani yang
cukup sukses. Mereka bertani sayuran, kentang, wortel, kobis, dan
sebagainya.
Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian
menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak
panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah dan sayur
yang dihasilkan juga lebih baik dari yang lain.
Namun bukannya mereka bersyukur, dengan segala kenikmatan ini
mereka malah banyak melakukan kemaksiatan. Barangkali ini yang
dinamakan “istidraj” atau disesatkan Allah dengan cara diberi
rezeki yang banyak namun orang tersebut akhirnya makin tenggelam
dalam kesesatan.
Masyarakat Dukuh Legetang umumnya ahli maksiat. Perjudian di
dukuh ini merajalela, begitu pula minum-minuman keras. Tiap malam
mereka mengadakan pentas Lengger, sebuah kesenian tradisional
yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung
kepada perzinaan. Ada juga anak yang malah melakukan
kemaksiatan bersama ibunya sendiri. Beragam kemaksiatan lain
sudah sedemikian parah di dukuh ini.
Pada suatu malam, 17 April 1955, turun hujan yang amat lebat di
dukuh itu. Tapi masyarakat Dukuh Legetang masih saja tenggelam
dalam kemaksiatan. Barulah pada tengah malam hujan reda. Tiba-
tiba terdengar suara keras seperti sebuah bom besar dijatuhkan di
sana, atau seperti suara benda yang teramat berat jatuh. Suara
itu terdengar sampai ke desa-desa tetangganya. Namun malam itu
tidak ada satu pun yang berani keluar karena selain suasana
teramat gelap, jalanan pun sangat licin.
Pada pagi harinya, masyarakat yang ada di sekitar Dukuh Legetang
yang penasaran dengan suara yang amat keras itu barulah keluar
rumah dan ingin memeriksa bunyi apakah itu yang terdengar amat
Cumiakkan telingan tadi malam. Mereka sangat kaget ketika di
kejauhan terlihat puncak Gunung Pengamun-amun sudah terbelah,
rompal. Dan mereka lebih kaget bukan kepalang ketika melihat Dukuh
Legetang sudah tertimbun tanah dari irisan puncak gunung
tersebut. Bukan saja tertimbun tapi sudah berubah menjadi sebuah
bukit, dengan mengubur seluruh dukuh beserta warganya. Dukuh
Legetang yang tadinya berupa lembah, kini sudah menjadi sebuah
gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati.
Gegerlah kawasan Dieng…
Seperti diceritakan oleh salah satu saksi hidup peristiwa ini, Toyib
(71) ‘’Suara ‘guntur ’-nya (sebutan longsor di daerah setempat) itu
sampai terdengar ke rumah saya. Padahal, rumah saya Desa
Kepakisan,’’ kisah Toyib yang saat peristiwa itu berusia 11 tahun.
Lanjut Toyib, akan tetapi karena gelapnya malam dan hawa dingin
menusuk tulang, membuat warga yang mendengar suara
mengejutkan itu tidak berani keluar rumah untuk memeriksanya.
Baru esok paginya diketahui, ternyata suara itu berasal dari
longsoran lereng sisi tenggara Gunung Pengamun-amun yang tepat
menimpa Dukuh Legetang. Dari kejauhan terlihat puncak Gunung
Pengamun-amun sudah ‘rompal’ (Jw. Terbelah).
Bukan saja tertimpa tapi juga berubah menjadi sebuah bukit yang
mengubur seluruh dukuh beserta warganya. Dukuh Legetang yang
tadinya berupa lembah, kini berubah menjadi gundukan tanah
menyerupai bukit.
Menyadari peristiwa itu, sontak masyarakat di sekitar Dukuh
Legetang terkejut. Kemudian banyak yang berteriak ‘Legetang
guntur !’, situasi saat itu menjadi ramai dan membuat masyarakat
berbondong-bondong untuk melihat lokasi kejadian.
‘’Walaupun dusun yang lain juga hampir sama, tapi Dukuh Legetang
sudah terlalu parah, terutama maksiat-maksiat masalah seks
bebas,’’ kata Toyib.
Dari 351 korban jiwa, terdapat 19 orang yang berasal dari luar
Dukuh Legetang. Sementara itu, masih ada dua orang warga asli
Legetang yang selamat dari bencana tersebut.
‘’Yang hidup cuma disisakan dua sama Allah, itu perempuan semua.
Mungkin disisakan dua biar untuk sejarah keadaan desa sini, tapi
sekarang sudah meninggal,’’ imbuhnya.
Masyarakat sekitar terheran-heran. Seandainya Gunung Pengamun-
amun sekedar longsor, maka longsoran itu pasti hanya akan
menimpa lokasi di bawahnya. Akan tetapi kejadian ini jelas bukan
longsornya gunung. Antara Dukuh Legetang dan Gunung Pengamun-
amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih
ada. Namun sungai dan jurang itu sama sekali tidak terkena
longsoran. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu malam tadi
terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang.
Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah
Yang Maha Kuasa?
Quote:
Dan apabila gunung-gunung diterbangkan,” (QS. at-Takwir: 3).
Untuk memperingati kejadian itu, pemerintah setempat mendirikan
sebuah tugu yang hari ini masih bisa dilihat siapa pun.
Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:
Quote:
“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG
PENDUDUK DUKUH LEGETANG
SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA
SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN
PADA TG. 16/17-4-1955″
Salah seorang saksi tragedi Legetang, Suhuri warga Pekasiran RT
03/04 yang kini berusia sekitar 72 tahun mengatakan, musibah
terjadi malam hari pukul 23.00 saat musim hujan. ”Saya dan
beberapa teman malam itu tidur di masjid. Saya baru dengar kabar
gunung Pengamunamun longsor jam tiga pagi,” katanya. Suhuri
mengaku lemas seketika begitu mendengar kabar tersebut, karena
kakak kandungnya, Ahmad Ahyar, bersama istri dan 6 anaknya
tinggal di dusun Legetang. Namun Suhuri maupun keluarganya dan
warga lain tak berani langsung ke dusun yang berjarak sekitar 800
meter dari pusat desa Pekasiran, karena beredar kabar tanah dari
lereng gunung Pengamunamun masih terus bergerak.
Lenyapnya desa Legetang dan penghuninya juga menyimpan
misteri, karena Suhuri dan beberapa warga Desa Pekasiran lain
seusianya yang kini masih hidup mengatakan, antara kaki gunung
sampai perbatasan kawasan pemukiman di dusun itu sama sekali
tidak tertimbun, padahal jaraknya beberapa ratus meter.
”Longsoran tanah itu seperti terbang dari lereng gunung dan jatuh
tepat di pemukiman. Sangat aneh”, kata Suhuri sembari
menjelaskan, gejala lereng gunung akan longsor sudak diketahui 70
hari sebelum kejadian. Para pencari rumput pakan ternak dan kayu
bakar untuk mengasap tembakau rajangan di samping untuk
memasak, melihat ada retakan memanjang dan cukup dalam di
tempat itu. Tapi tanda-tanda tadi tak membuat orang waspada,
meski sering jadi bahan obrolan di Legetang. Orang baru
menghubung-hubungkan soal retakan di gunung itu setelah
Legetang kiamat,” katanya.
Waktu itu semua orang tercengang dan suasana mencekam melihat
seluruh kawasan dusun Legetang terkubur longsoran tanah. Tak ada
sedikit pun bagian rumah yang kelihatan. Tanda-tanda kehidupan
penghuninya juga tak ada, kenang Suhuri.
Sungguh kisah tenggelamnya dukuh Legetang ini menjadi
peringatan bagi kita semua bahwa azab Allah swt yang seketika itu
tak hanya terjadi di masa lampau, di masa para nabi, tetapi azab
itu pun bisa menimpa kita di zaman ini. Bahwa sangat mudah bagi
Allah swt untuk mengazab manusia-manusia lalim dan durjana
dalam hitungan detik. Andaikan di muka bumi ini tak ada lagi
hamba-hamba-NYa yang bermunajat di tengah malam menghiba
ampunan-Nya, mungkin dunia ini sudah kiamat.
Jika Anda dari daerah Dieng menuju ke arah (bekas) dukuh Legatang
maka akan melewati sebuah desa bernama Pakisan. Sepanjang jalan
itu Anda mungkin akan heran melihat wanita-wanitanya banyak
yang memakai jilbab panjang dan atau cadar. Memang sejak dulu
masyarakat Pakisan itu masyarakat yang agamis, bertolak belakang
dengan dukuh Legetang, tetangga desanya yang penuh dengan
kemaksiatan.
Wallahu a’lam bisshawab.

https://m.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/desa-yang-hilang-kisah-nyata-sodom-gomorah-di-banjarnegara.htm

Read more...