Banner 468 x 60px

 

Rabu, 09 Juli 2014

Makalah Analisis kontrastif bahasa arab bidang fonologi

0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Sebagai manusia, makhluk sosial yang bisa saling berkomunikasi (mahluq al-mantiq), tentunya tidak pernah terlepas dari bahasa sebagai medianya. Majunya era globalisasi ini, semakin menambah pengetahuan masyarakat dan berkembang pula menjadi masyarakat tutur yang multilingual. Namun, proses untuk menjadi masyarakat yang bilingual atau multilingual tidaklah mulus, banyak masalah dan hambatan yang dialami oleh masyarakat yang belajar bahasa target yang disebabkan beberapa faktor. Diantaranya adalah faktor budaya yang berbeda.
            Dalam pembelajaran bahasa target saat ini (bahasa Arab), juga memiliki kendala yang sama namun tidak terlalu signifikan. Bahasa Arab yang sedang berkembang di Indonesia, baru sekedar pemahaman nahwu, shorf, balaghoh dan sering kali mengabaikan pembelajaran fonologinya. Bagaimana bunyinya? Bagaimana cara mengucapkannya? Sehingga tidak heran walaupun banyak orang atau santri yang telah lama belajar bahasa Arab, namun masih terdapat berbagai jenis kesalahan bunyi atau kesalahan ucap yang dipengaruhi oleh dialek masing-masing. Padahal bunyi adalah bagian utama dan terutama dalam bahasa. Komunikasi lisan tidak akan terjadi bila tidak ada bunyi.
            Akibat tidak mengindahkan bunyi, banyak masyarakat Indonesia yang telah belajar bahasa Arab namun ketika berkomunikasi dengan penutur aslinya, dia tidak memahami apa yang dibicarakan. Ada pula kemungkinan negatif lain yang dapat terjadi seperti terjadinya perubahan makna baik akibat perubahan kata karena kesalahan ucap, tekanan, nada, jeda, waqaf, panjang-pendek dan lain sebagainya.
            Oleh karena itu, tema makalah ini dibuat berdasarkan kendala-kendala yang terjadi dalam bidang fonologi. Karena ulama linguistik modern pun mengatakan perlunya diadakan pengkajian tentang ilmu bunyi mengingat sulitnya menuturkan bunyi-bunyi dari berbagai bahasa, karena banyaknya ragam dan variasi bahasa itu sendiri. Penjabaran ini pun dilakukan dengan tujuan agar bisa mempermudah atau menambah wawasan baru tentang ilmu bunyi agar nantinya para masyarakat yang belajar bahasa asing lainnya terhindar dari berbagai kesalahan tutur yang dapat membuat penutur aslinya tidak paham atau perubahan makna.
B. Ruang Lingkup
            Ruang Lingkup kajian fonologi ini mencakup pengertian fonologi itu sendiri, fonem, fonologi segmental yang terdiri dari vokal, diftong, konsonan, dan gugus konsonan, serta fonologi Suprasegmental yang terdiri dari tekanan, nada, dan jeda.

C. Rumusan masalah
1.  Bagaimana Bentuk Fonologi dalam bahasa Indonesia dan Arab?
2. Bagaimana bentuk persamaan dan perbedaan dari Bentuk-bentuk fonologi bahasa Indonesia dan Arab?
3. Bagaimana  Analisis Konstrastif bentuk fonologi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
4. Mengapa para pelajar Indonesia yang belajar bahasa Arab mengalami kesulitan dalam mempelajari fonologi Arab?

D. Tujuan Penulisan
Makalah ini dibuat dengan tujuan agar para pengajar dan pelajar bahasa target, yakni bahasa Arab dapat mengetahui bunyi – bunyi yang sama dan berbeda, serta dapat memprediksi kesulitan-kesuliatan yang akan dialami dalam pembelajaran agar dapat ditemukan solusi terbaik untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran.















BAB II
KAJIAN  TEORITIK

Ilmu bunyi dalam bahasa arab diistilahkan dengan ilmu ashwat yaitu ilmu yang mempelajari tentang pembentukan, perpindahan dan penerimaan bunyi bahasa. Sebagai ilmu yang dewasa kemudian bercabang lagi menjadi ilmu yang lebih spesifik yaitu ilmu fonetik, ilmu fonologi, ilmu akustik dll.
Ilmu fonetik adalah cabang ilmu dari ilmu bunyi yang khusus membicarakan masalah – masalah bunyi tanpa memperhatikan fungsi dan makna bunyi. Berbeda dengan fonologi, fonologi  adalah sebuah cabang ilmu bunyi yang membicarakan masalah – masalah bunyi dengan memperhatikan fungsi dan makna bunyi tersebut. Masalah saling mempengaruhi antar bunyi yaitu idgham, ikfa , imalah qubra, imalah shugra, tekanan, jeda dan jeda.
 Khalil bin ahmad telah menyusun sebuah kamus bahasa arab yang entrinya disusun berdasarkan makhraj bunyi yang terjauh dari tenggorokan. Dari pihak lain  ibnu jinni dalam bukunya Sirru Shinaat Al I’rab telah memperkenalkan organ bicara, mahraj, sifat – sifat bunyi, vokal panjang dan pendek dan berbagai fenomena bunyi seperti tebal dan tipis.
Ilmu bunyi arab merupakan ilmu murni kreatif dari ilmuwan Arab, bukan hasil adopsi dari ilmuwan Yunani seperti yang dituduhkan beberapa kalangan.
            Dalam ilmu fonologi sendiri dibagi menjadi dua, yaitu segmental dan suprasegmental. Fonologi Segmental terdiri dari bunyi vokal, konsonan, diftong dan gugus konsonan . Sedangkan fonologi suprasegmental terdiri dari tekanan, nada dan jeda .
   Adapun yang termasuk fonologi Segmental adalah vokal, diftong, konsonan dan gugus konsonan. Vokal adalah bunyi yang bersuara, yang terjadi dengan penerobosan terhadap klep pita suara melalui tekanan, sedangkan dalam pembentukannya, udara yang datang dari paru-paru tidak mendapat hambatan di kerongkongan dan rongga mulut dan tidak mendapatkan penyempitan di saluran udara yang  mengakibatkan adanya geseran. Selain itu ada diftong, diftong adalah dua huruf vokal yang melambangkan satu bunyi vokal yang tidak dapat dipisahkan (Moeliono). Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi pada bagian awal dan akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan ini menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strukturnya. Namun yang dihasilkan bukan dua buah bunyi, melainkan hanya sebua bunyi karena berada dalam satu silabel. Diftong terjadi jika vokal rangkap tersebut ada didalam satu suku kata. Adapun jika terletak disuku kata yang berbeda maka tidak bisa disebut diftong.
Adapun yang dimaksud dengan “gugus konsonan”  ialah “gabungan dua konsonan, atau lebih, yang termasuk dalam satu suku kata yang sama”. Dalam bahasa Indonesia, gugus konsonan pada dasarnya berasal dari kata asing (kata pungut), dan banyak orang menyelipkan fonem /a/ untuk memisahkan konsonan yang berdekatan. Dalam bahasa Indonesia, gugus konsonan tidak terdapat dalam posisi akhir kecuali dalam kata pungut. Gugus yang terdiri dari tiga konsonan jarang terdapat dalam bahasa Indonesia, apabila ada (dari kata pungut) mka ada kecenderungan untuk menyisipkan /a/ diantara konsonan kedua dan ketiga. Oleh karena langka terdapat dalam bahasa Indonesia, pelajar tidak mengetahui bagaimana lafalnya kalau tidak mendapat latihan-latihan yang cermat. Kecenderungan lain ialah untuk hanya melafal konsonan pertama dan kedua dari gugus tersebut pada akhir kata.
Konsonan adalah bunyi huruf mati
Bagian Fonologi yang kedua adalah fonologi suprasegmental. Yang termasuk dalam suprasegmental adalah tekanan, nada, jeda dan waqaf. Nada adalah sebuah unsur dalam ucapan yang dapat membantu seseorang untuk mengekspresikan emosinya dan berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Apabila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi. Sebaliknya, apabila diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu akan disertai juga dengan nada rendah. Pada bahasa-bahasa tertentu, nada bisa bersifat fonemis maupun morfemis. Sedangkan jeda adalah pemutusan suatu arus bunyi – bunyi segmental ketika diujarkan oleh penutur. Sebagai akibatnya, akan terjadi kesenyapan di antara bunyi – bunyi yang terputus itu. Kesenyapan ini bisa berada di posisi awal, tengah dan akhir ujaran. Waqaf adalah tempat berhenti sejenak di antara kata – kata atau penggalan kata dalam proses bicara, dengan maksud untuk menunjukkan tempst berakhirnya suatu lafal atau penggalan kata dan memulai kata – kata atau penggalan kata yang baru.









Bab III
PEMBAHASAN

A.      AKON FONEM SEGMENTAL

1.      Analisis Kontrastif Fonem Vokal(الأصوات الصتئتة)
Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Bahasa Arab memiliki tiga vokal pendek atau vokal utama(الصوائت القصيرة), yaitu /a/ atau (َ ), /i/ atau (ِ) dan /u/ (ُ). Dan vokal panjang)الصوائت الطويلة) yaitu alif (ىا) Wawىو)) dan Ya (ىي).Bahasa Indonesia memiliki enam vokal, yaitu /i/, /a/, /u/, /e/, /o/, /ə/   
Distribusi vokal lebih lanjut dijelaskan melalui tabel di bawah ini.

Tabel Pembentukan Vokal Bahasa Indonesia
Fonem
Posisi Bibir
Tinggi Rendah Lidah
Maju Mundur Lidah
Bulat
T.Bulat
Tnggi
sdng
Rndh
Dpn
Tngh
Blkng
A
V



v

v

I

v
V


V


U
V

V




V
E

v

v

V


O
V


v



V
ə

v

v


v





Tabel Pembentukan Vokal Bahasa Arab
Fonem
Posisi Bibir
Tinggi Rendah Lidah
Maju Mundur Lidah
Bulat
T.Bulat
Tnggi
sdng
Rndh
Dpn
Tngh
Blkng
َ

v


v

v

ِ

v
V


V


ُ
v

V




V
ىا

v

v


v

ىي

v

v

V


ىو
v


v



V

Dari Tabel Pembentukan Vokal Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia diatas dapat terlihat bahwasanya;
1.      Tidak semua huruf vokal Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab yang sama, sama pula pembentukannya tetapi ada pula yang berbeda seperti yang terjadi pada;
ü A dan َpada posisi bibir
2.      Tidak semua Vokal Pendek dan Vokal Panjang bahasa Arab mempunyaipembentukan vokal yang sama, seperti yang terjadi pada;
ü َ dan ىاpada tinggi rendahnya lidah

Tabel Posisi Vokal  Bahasa Indonesia Dalam Fonem

Posisi
Fonem
Awal
Tengah
Akhir
I
/itik/itik
/pizza/pizza
/pagi/pagi
E
/ekor/ekor
/nenek/nenek
/sore/sore
∂
/∂mas/ emas
/ruw∂t/ ruwet
/tip∂/ tipe
A
/anak/anak
/sakit/sakit
/pita/pita
U
/uler/uler
/masuk/masuk
/bau/bau
O
/obat/obat
/balon/balon
/baso/baso











Tabel Posisi Vokal  Bahasa Arabالأصوات الصائتة)  )Dalam Fonem
اخر الكلمة
وسط الكلمة
أول الكلمة
الحرف
عصا
باب
اسم
ا
غزو
كوب
ولد
و
اقصي
ميناء
يتيم
ي






Selain Vokal Pendek dan Panjang di dalam Bahasa Arab juga terdapat Vokal Tebal dan Vokal Tipis, Yaitu;
                              ·          Vokal Tebal (مفخمة), bila ada konsonan palatal empat, yaitu ص، ض، ط، ظ.  Contoh: صبر، ضرب، طلب، ظلم
                              ·          Semi Tebal, bila ada konsonan velar yaitu       غ، ق، خcontoh; خير، غير، قير
Contoh; خير، غير، قير
                              ·          Vokal Tipis yaitu semua vokal selain diatas ; سفر

Vokal bahasa Arab dan bahasa Indonesia terdapat kepersisan, aspek persaman dan perbedaan, yaitu:
Aspek Persamaan antara vokal Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia;
1.      Kepersisan antar kasroh qosirohِ : / i / dalam bahasa Indonesia, demikian pula antara dhommah qosirohُ  :  dengan / u / , dan antara fathah qosirohَ: dengan / ∂ /.
2.     Aspek persamaan antara fathah tawilah / ا  َ/ dengan / a /, yaitu sama samavokal terbuka tidak bulat, dan sekaligus berbeda karena / َا  / vokal depan dan panjang sedangkan / a / vokal tengah dan pendek.

Aspek Perbedaan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab;
1.        Didalam bahasa Indonesia terdapat vocal panjang seperti pada bahasa    arab : / i / , /u: /, dan / æ /. 
2.        Didalam bahasa Arab tidak terdapat vocal / e / dan / o . Sedangkan didalam bahasa Indonesia terdapat.
3.        Didalam bahasa Arab terdapat Vokal Tebal dan tipis, sedangkan dibahasa Indonesia tidak ada vokal tebal dan tipis.

2.      ANALISIS KONTRASTIF AKON DIFTONG
            Berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, diftong dibedakan menjadi Diftong Naik dan Diftong Turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua. Sebaliknya, disebut diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.
            Dalam bahasa Indonesia, terdapat 3 diftong, yakni [ai], [au] dan [oi] yang masing-masing dapat dituliskan secara fonemis /ay/, /aw/, /oy/. (moeliono). Contoh bunyi [ai] terjadi pada kata cukai, landai, ramai. Contoh bunyi [au] terjadi pada kata kerbau, harimau, halau. Dan contoh bunyi [oi] terjadi pada kata amboi.
            Sedangkan dalam bahasa Arab, terdapat 2 diftong, yakni [au] dan [ai]. Kedua diftong ini dipakai bila و dan ي berada setelah huruf berbaris fathah. Contoh bunyi أو، لو، يوم، خوف، ليس، بين، شيئ  . namun, terdapat perbedaan antara istilah vokal rangkap bahasa Indonesia dengan bahasa Arab. Jika dalam bahasa Indonesia, diftong sama dengan vokal rangkap, namun dalam bahasa Arab, vokal rangkap berarti tanwin. Dan dalam bahasa Arab, bunyi vokal diwakili dengan tanda harakat, bukan dari bentuk huruf Hijaiyahnya, karena semua huruf hijaiyah adalah huruf konsonan.
a. Persamaan Antara Diftong bahasa Indonesia dan bahasa Arab
            1. Sama-sama terdapat bunyi [au] dan [ai]
            2. Sama dalam bentuk pengucapannya
           
            b. Perbedaan Antara Diftong Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
1. Bahasa Indonesia mengenal 3 diftong sedangkan bahasa Arab hanya mengenal 2  diftong
2. Bentuk penulisan vokal diftong dalam bahasa Indonesia ditandai dengan huruf vokal a-i-u-o, sedangkan bahasa Arab penulisan vokal diftongnya ditandai dengan harakat fathah yang bertemu huruf sukun pada huruf و dan ي.
c. Kesulitan yang Mungkin Dihadapi Siswa
1. Siswa mungkin akan mengalami kesulitan ketika membaca huruf Arab yang tidak berharokat, sehingga mereka tidak mengetahui kata tersebut termasuk diftong atau tidak.
d. Solusi
1. Mengajarkan kepada siswa yang belajar bahasa target (Arab) tentang kaidah-kaidah / tatabahasa Arab agar dapat melafalkan dengan benar dan tepat tanda harakat pada teks
2. Memberi harakat pada kalimat yang ditulis untuk dilafalkan siswa.


3. Analisis kontrastif bunyi Konsonan(صوامت)
Bunyi konsonan ada 2 macam, yaitu yang bersuara (voiced) dan yang tidak bersuara (voiceless). Dalam Bahasa Indonesia ada 24 fonem konsonan, yaitu; p, b, t,v,d, c, j, k, g, f, s, z, x, h, m, n, r, l,y, w,kh,ng, hamzah dan sy.  Dan dalam Bahasa Arab terdapat 28 konsonan. Yaitu ;
أ،ب،ت،ث،ج،ح،خ،د،ذ،ر،ز،س،ش،ص،ض،ط،ظ،ع،غ،ف،ق،ك،ل،م،ن،و،ه،ي
a.      Persamaan dan Perbedaan Pada Konsonan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Adapun di dalam konsonan ditemukan persamaan (kepersisan), perbedaan, dan kemiripan, yaitu sebagai berikut :
(1)          Persamaan antara / ب / dengan  / b /,
(2)          Persamaan antara / م / dengan / m /,
(3)          Persamaan antara / ف / dengan / f /,
(4)          Persamaan antara / ز / dengan / z /,
(5)          Persamaan antara / س / dengan / s /,
(6)          Persamaan antara / ر / dengan / r /,
(7)          Persamaan antara / د / dengan / d /,
(8)          Persamaan antara / ت / dengan / t /,
(9)          Persamaan antara / ل / dengan / l /,
(10)      Persamaan antara / ن / dengan / n /,
(11)      Persamaan antara / ش / dengan / sy /,
(12)      Persamaan antara / ي / dengan / y /,
(13)      Persamaan antara / ك / dengan / k /,
(14)      Persamaan antara / ھ / dengan / h /, dan
(15)      Persamaan antara / و / dengan / w /
(16)      Persamaan antara / ج /  dengan / j /
(17)      Persamaan antara / غ / dengan / g /
(18)      Persamaan antara / خ / dengan / kh /
(19)      Persamaan antara / ق / dengan / q /
Di prediksi siswa Indonesia tidak akan menemui kesulitan dalam menuturkan bunyi – bunyi Arab diatas, karena mereka telah terbiasa menuturkannya dalam bahasa ibu mereka. Oleh karena itu, dalam proses pengajaran bahasa Arab bunyi – bunyi ini tidak perlu mendapat perhatian ekstra.
b.      Perbedaan Konsonan Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia yaitu;
1.      bahwa didalam bahasa Indonesia tidak terdapat Bunyi konsonan mufakhkham, yaitu / ص /, /  ض /, / ط /, / ق/, /ظ /, / خ /, /غ /.
2.      Sin (س) Arab dideskripsikan /apikoalveolar/geseran/tidak bersuara/ sedangkan S bahasa Indonesia dideskripsikan : /laminoaveolar/geseran/tidak bersuara/
3.      Zai  (ز) Arab dideskripsikan :apikoaveolar/geseran/bersuara/sedangkan Z bahasa Indonesia dideskripsikan : /laminoaveolar/geseran/bersuara/
4.      Dal (د ) Arab dideskripsikan :/apikoalveolar/letupan/bersuara/sedangkan D bahasa Indonesia dideskripsikan apikopalatal/letupan/bersuara/
5.      Lam (ل ) Arab dideskripsikan :/apikopalatal/geseran/sampingan/bersuara/ sedangkan L bahasa Indonesia dideskripsikan : /apikoaveolar/geseran/sampingan/bersuara
6.      Nun (ن) Arab dideskripsikan :/apikopalatal/geseran/nasal/bersuara/ sedangkan N bahasa Indonesia dideskripsikan :/apikoalveolar/geseran/nasal/bersuara
7.      Hamzah(ء) Arab dideskripsikan : /glotal/letupan/bersuara/ sedangkan hamzah bahasa indonesia dideskripsikan :/glottal/letupan/antara/
Perbedaan diatas sangat tipis dan sulit membuktikannya secara empiris, perbedaan tersebut hanyalah perbedaan secara ilmiah. Untuk mendapatkan penuturan yang benar yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, penuturan sesuai deskripsi harus diupayakan.
Diprediksi santri indonesia akan membuat kesalahan dalam menuturkan bunyi – bunyi diatas, walaupun mereka tidak merasa bahwa mereka salah, karena mereka telah terbiasa menuturkan bunyi yang mirip dengan bunyi arab. Oleh karena itu, seorang guru, tutor tahsin qiraah dan hakim diminta untuk memperhatikan dan menyakinkan bahwa bunyi yang dituturkan adalah sesuai dengan deskripsi bunyi arab.
c.       Konsonan yang ada dalam bahasa arab, tidak ada dalam bahasa indonesia
1.      Tsa (ث)
2.      Dzal (ذ)
3.      Zha (ظ)
4.      Shad (ص)
5.      Tha (ط)
6.      Ra (ر)
7.      Lam (ل)
8.      Dhad (ض)
9.      Ha (ح)
10.  Ain (ع)
d.      Konsonan yang ada di dalam bahasa indonesia, tidak ada dalam bahasa arab
1.      P
2.      V
3.      C
4.      Ny
5.      Ng
e.      Kesulitan yang akan dialami Pelajar BT dalam masalah Konsonan dan Solusi untuk Menanggulanginya:
1.      Siswa akan sulit dalam melafalkan konsonan mufakhamah pada Bahasa Arab (/ ص /, /  ض /, / ط /, / ق/, /ظ /, / خ /, /غ /.) karena dalam Bahasa Indonesia tidak terdapat konsonan Mufakhomah.
2.      Siswa akan sulit mengucapkan huruf ش karenah tidak terdapat dalam Konsonan BahasaIndonesia.
3.      Siswa yang cadel akan sulit mengucapkan konsonan /r/ dan /ر /.
4.      Seseorang dari tanah sunda buasanya akan mengalami kesulitan dalam pelafalan konsonan /ف/, karena lebih terbiasa dengan /pa/.
5.      Seseorang yang berasal dari tanah jawa biasanya akan mengalami kesulitan dalam pelafalan huruf /ع/ dan mereka biasa membaca dengan/nga/.
Solusi dari kesulitan- kesulitan diatas maka bahwasannya pendidik bahasa Arab harus memperhatikan kesulitan- kesulitan tersebut dalam melafalkan huruf- huruf konsonan yang khusus yang banyak terdapat kesulitan dalam pelafalannya. Pendidik harus lebih intensif serta memperhatikan dengan jelas satu persatu siswa dalam pelafalan konsonan tersebut, jangan biarkan siswa tersebut terus menerus berada dalam kesalahan, sebagai pendidik harus terus memantau, mengajari, serta mengevaluasi. Serta pendidik pula harus membiasakan diri untuk menggunakan makhroj huruf yang benar dan mengajarkannya pada siswa dengan baik dan benar.
Selain pendidik orang tua juga berperan dalam pelafalan suatu fonem. Sedari kecil hendaknya bagi para orang tua untuk membiasakan anak- anaknya dalam mengucapkan sesuatu dengan benar tanpa harus ada yang di cadel- cadelkan. Karena biasanya orang tua suka meniru bahasa anak yang belum terlalu fasih dalam mengucapkan sesuatu sehingga anak tersebut menganggap bahwasannya apa yang dia katakan dan diikuti oleh orang tuanya itu benar. Maka anak tersebut terus menerus akan menggunakan bahasa dengan pelafalan yang kurang fasih tersebut. maka hendaknya untuk para orang tua biasaknlah berbahasa dengan baik dalam pelafalannya maupun dalam tata bahasa dan lain sebagainya, dan terapkan pada anak- anak anda sejak dini karena bagaimanapun bahasa merupakan sumber dari adanya komunikasi, tanpa adanya bahasa maka lumpuhlah komunikasi.


Tabel Perbandingan Konsonan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Tempat Artikulasi / Makharij
Cara pengucapan / Artikulasi
Letup
Geseran
Tengah-tengah
B
T
B
T
Pd.
B
Lt.
B
Tr.
B
Ns.
B
Sv.
B
kh
rq
kh
rq
Kh
rq
kh
rq
Bilabials

b
ب

p







m
م
w
و
Labio dentals





v

F
ف





Inter dentals




ظ
ذ

ث





Apiko alveolars





z
ز
ص
S
س


r
ر


Apiko-dental alveolars
ض
d
د
ط
t
ت





L
ل

n
ن

Fronto palatals

j

c



sy
ش
ج


Ny

Medio palatals












y
ي
Dorso velars

g

k
ك
غ

خ
kh



Ng

Dorso uvular

ء
ق










Root paryngeal





ع

ح





Glottal







ه








3.      Analisis Kontrastif gugus- gugus Konsonan
        
Gugus Konsonan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
1.      Gugus yang konsonan keduanya /l/
*   Gugus /kl/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
klasik
-
Inklusif
-
-
أكل(akl)

*   Gugus /fl/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Flora
-
inflamasi
-
-
طفل(thifl)






*   Gugus /bl/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
blokade
-
gamblang
-
-
حبل(Habl)

*   Gugus /sl/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Slogan
-
-
-
-
نسل(cucu)

2.      Gugus yang konsonan keduanya getar /r/
Ø Gugus /br/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
brankas
-
Ambruk
-
-
صبر(shabr)

Ø Gugus /tr/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
tradisional
-
Netral
-
-
ستر(satr)





Ø Gugus /dr/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
drama
-
Indra
-
-
صدر(shodr)

3.      Gugus yang konsonan keduanya desis /s/
Ø Gugus /ks/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Ksatria
-
Ekstra
-
Kompleks
عكس(aks)


4.      Gugus yang konsonan keduanya /k/
Ø Gugus /sk/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
sketsa
-
-
-
-
نسك

5.      Gugus yang terdiri dari tiga konsonan
Ø Gugus /skr/
Awal
Tengah
Akhir
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Skripsi
-
Manuskrip
-
-
-

        Konsonan ganda bahasa Arab. Dengan menggandakan konsonan  yang sama , Contoh:
1.        Huruf   دّ = dd pada kosa kata مدّ- يمدّ = مدد
2.        Huruf  رّ  = rr pada kosa kata مرّ- يمرّ = مرر
Contoh konsonan rangkap ditengah
No
Kosa kata bahasaarab
transliterasi
  1.  
مجلّة
majallatun
  1.  
كرّم
karroma
  1.  
مصلّى
mushallah

Contoh Konsonan rangkap diakhir
No
Kosa kata bahasaarab
transliterasi
1.       
شكّ
Sakka
2.       
مدّ
madda
3.       
مرّ
Marro
*        Persamaan dan perbedaan gugus konsonan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
1.      Pelafalan Gugus konsonan Bahasa Idonesia sama dengan Mad Layyin pada Bahasa Arab
2.      Didalam Bahasa Arab Hanya terdapat gugus konsonan pada tengah dan akhir kata sedangkan di dalam Bahasa Indonesia hanya terdapat gugus konsonan pada awal dan tengah kata.
3.      Dalam Bahasa Indonesia tidak terdapat gugus konsonan yang menggandakan konsonanan yan sama tetapi dalam bahasa arab ada.
4.      Dalam Bahasa Indonesia terdapat gugus dengan tiga konsonan sedangkan didalam bahasa Arab tidak ada.
*        Prediksi kesulitan yang akan dialami Pelajar BT (bahasa Arab) dan solusinya
1.        Pelajar Bahasa Arab akan sulit dalam mengucapkan gugus konsonan dalam bahasa arab baik di akhir kata dalam bahasa arab.
2.        Pelajar Bahasa Arab akan sulit dalam mengucapkan gugus konsonanyang menggandakan konsonan yang sama karena dalam Bahasa Indonesia tidak ada.
Solusi untuk masalah tersebut adalah guru harus terus- menerus mengulang kata- kata yang mengandung gugus konsonan agar siswa tersebut terlatih dan mudah dalam melafalkannya.

B.      AKON FONEM SUPRASEGMENTAL
1.      Tekanan
Dalam sebagian bahasa, tekanan mempunyai peran yang sangat penting dalam pembedaan bentuk dan makna kata, dalam artian bahwa tanpa keikutsertaan tekanan dalam penuturan kalimat, kita tidak akan dapat mengerti maksud kalimat itu secara utuh.
Dalam Bahasa Indonesia pada kata [məmbəri] ketika diucapkan pada penggalan pertama [məm] bermakna sama dengan ketika diucapkan dengan tekanan pada penggalan kedua [bə] atau penggalan ketiga [ri].
Dalam Bahasa Arab pada kata [ضرب], apabila terjadi tekanan pada konsonan pertama, kedua, atau ketiga maknanya akan tetap sama.
Jadi Tekanan (pada kata) dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab tidak terjadi perubahan makna didalamnya.
Dalam bahasa Indonesia tekanan (pada kalimat) dapat mempengaruhi perubahan makna
Contoh :
·         Diatidakmaupergi. (tekananpadasuku kata <ma>berartibahwa orang itumeskipundipaksateteappadatempatnya.
·         Diatidakmaupergi. (tekananpadasuku kata <dia>berartibahwa orang itusaja yang tidakmaupergi, sedangkan orang lain sudahberangkat.

Pada kalimat Bahasa Arab tidakberlakukarena dalam bahasa Arab terdapat aturan tata bahasa yang sudah ditentukan yang dapat mengidetifikasi maksud dari kalimat tersebut.

2.      NADA
            Dalam bahasa-bahasa bernada atau tonal, seperti bahsa Thai, Vietnam, Mandarin, nadanya bersifat morfemis (merubah makna). Dalam bahasa tonal biasanya dikenal lima macam nada, yaitu:
a. Nada naik atau meninggi, biasanya diberi tanda garis ke atas (/)
b. Nada datar, biasanya diberi tanda garis lurus mendatar (-)
c. Nada turun atau merendah , biasanya diberi tanda (\)
d. Nada turun naik, yakni nada yang merendah lalu meninggi, biasanya diberi tanda (\/)
e. nada naik turun, yaitu nada yang meninggi lalu merendah, biasanya diberi tanda (/\)
            Nada yang menyertai bunyi segmental di dalam kalimat disebut intonasi. Dalam hal ini, dibedakan menjadi 4 macam angka. Nada yang paling tinggi diberi tanda dengan angka 4 terus menurun hingga nada yang paling rendah diberi tanda angka 1. Secara umum, nada yang normal yang digunakan oleh seorang pembicara adalah nada (2). Nada (4) sangat jarang digunakan oleh seorang penutur kecuali jika ia meluapkan emosinya seperti marah, terkejut, kesakitan atau sangat bahagia.
Sebuah nada selalu mengandung suatu gerakan berlagu dengan jarak waktu yang bervariasi. Namun, tidak selalu keseluruhan gerakan itu yang penting, artinya yang dapat membedakan nada itu dari nada-nada yang lain yang digunakan oleh bahasa. Ada bahasa nada yang nadanya pungtual,  artinya hanya satu unsur yang diperhatikan untuk identifikasi, yaitu suatu titik dilengkung lagu, misalnya titik tertinggi atau titik yang paling rendah.  Didalam sebagian besar bahasa bernada pungtual, nada menandai  sebuah suku kata dan setiap suku kata memiliki nada. Seperti pada bahasa mandarin contohnya, kata “mà” artinya  marah, Sedang kan “má” artinya kuda dan “mǎ” artinya ibu.
a. Persamaan Nada dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab bukanlah bahasa intonasi, oleh karena itu, perubahan intonasi / nada pada kedua bahasa ini tidak selamanya mengubah pengertian. Intonasi terjadi karena pengaruh dialek seseorang atau kebiasaan seseorang yang berbahasa. Namun dalam beberapa kondisi, intonasi / nada dapat berfungsi sebagai pembeda antara kalimat positif dengan kalimat Tanya, menyatakan persetujuan, penolakan, keheranan atau ketakjuban.
Berikut beberapa fungsi kebahasaan yang sama dari kedua bahasa tersebut:
1. Fungsi Semantik yang membedakan makna kalimat. Seperti kata ما شاء الله jika diucapkan dengan nada menurun, artinya bisa menunjukkan rasa menahan amarah, dan bila diucapkan dengan nada yang agak tinggi artinya bisa menunjukkan rasa takjub
2. Fungsi Ketatabahasaan, yang membedakan bentuk kalimat. Seperti kalmat ما أجمل هذا لمظاهر apabila dituturkan dengan nada biasa, maka akan menjadi kalimat takjub. Namun jika dituturkan dengan intonasi naik-turun maka akan menjadi kalimat Tanya.
                                                                                                      
b. Perbedaan Nada dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Tidak ada perbedaan secara signifikan antara nada dalam bahasa Arab dan dalam bahasa Indonesia. Perbedaan mendasar dari kedua bahasa ini adalah jika dalam bahasa Indonesia, satu struktur bisa berubah artinya menjadi kalimat Tanya dengan nada tanpa penambahan kata, maka dalam bahasa Arab, umumnya selain mengubah nada, bahasa Arab memerlukan kata Tanya “istifham” sebagai tambahannya.
c. Kesulitan yang Mungkin di alami siswa
siswa merasa kesulitan dalam menuturkan intonasi kalimat Tanya pada kalimat positif dalam bahasa Arab jika tanpa penambahan huruf istifham.

d. Solusi        
            mengajarkan siswa beberapa diksi atau pilihan kata yang tepat dalam bahasa Arab
Perlu dicatat bahwa nada tinggi dan rendah memiliki fungsional yang sama. Walaupun penutur dan warna suara penuturnya berbeda-beda, tetap saja nada tinggi atau rendahnya dapat dikenali karena adanya kontras dengan nada yang terdapat pada suku-suku kata berikutnya.
3.      Jeda (Juncture) dan Waqaf.
Kesenyapan awal terjadi ketika bunyi itu akan diujarkan,misalnya ketika akan mengujarkan kalimat ini buku terjadi kesenyapan yang tak terbatas sebelumnya. Kesenyapan tengah terjadi antara ucapan kata – kata dalam kalimat, misalnya antara ucapan kata ini dan buku pada ini buku; atau ucapan antar suku kata, misalnya antara suku kata i dan ni pada kata ini, walau kesenyapan ini sangat singkat. Kesenyapan akhir terjadi pada akhir ujaran, misalnya ujaran akhir kalimat ini buku terjadi kesenyapan yang tak terbatas sesudahnya.
Kesenyapan awal dan akhir ujaran ditandai dengan palang rangkap memanjang (♯), kesenyapan di antara kata ditandai dengan palang rangkap pendek (#), sedangkan kesenyapan di antara suku kata di tandai dengan palang tunggal ( + ). Dengan demikian, kalimat ini buku kalau di transkripsikan dengan memperhatikan kesenyapan terlihat sebagai berikut :
( ♯ i + ni # bu + ku ♯ )
Kesenyapan juga bisa disebut sendi (juncture) karena kesenyapan itu sekaligus merupakan tanda batas antara bentuk – bentuk linguistikbaik dalam tataran kalimat, klause, frase, morfem, silaba maupun fonem.
Dalam penuturan, keempat jenis suprasegmental tersebut selalu menyertakan bunyi – bunyi segmental. Kerja sama keempat jenis suprasegmental sejak awal hingga akhir penuturan disebut intonasi. Jadi intonasi pada dasarnya bercirikan gabungan nada, tekanan,dan jeda.
Selain itu ada juga waqaf. Para linnguis arab terutama ulama klasik kurang memperhatikan masalah waqaf ini sebagai mana mestinya,walaupun dalam bahasa arab banyak terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa waqaf berfungsi sebagai fonem, yang dapat membedakan arti kalimat.
Tampaknya perhatian para ahli linguistik arab tentang waqaf terkonsentrasi dalam al qur’an. Diantaranya tanda waqaf lazim, yang harus berhenti ((م :
انما يستجيب الذين يسمعون (م) والموتى يبعثهم الله (سورة الأنعام : ٣٦






















BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

1.     Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa fonologi yang merupakan sebuah cabang ilmu bunyi yang membicarakan masalah – masalah bunyi dengan memperhatikan fungsi dan makna bunyi tersebut. Fonologi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab ternyata tidak semua sama. Ada beberapa bunyi yang dipakai dalam bahasa Indonesia namun tidak dipakai dalam bahasa Arab, atau sebaliknya dipakai dalam bahasa Arab namun tidak dalam bahasa Indonesia seperti huruf tebal, dan lafal-lafal huruf yang tidak dikenal dalam abjad Indonesia.
Hampir di setiap bagian fonologi antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab memiliki banyak persamaan dan perbedaan. Persamaan fonologi diantara keduanya adalah adanya diftong, sama-sama bukan bahasa nada (tonal) yang artinya nada tersebut selalu dapat mengubah makna. Selain itu, keduanya juga memiliki tekanan, dan jeda. Sedangkan perbedaannya terdapat pada makhroj huruf, gugus konsonan yang berbeda, karena bahasa Arab tidak memiliki gugus konsonan kecuali harokat pada akhir kata disukunkan.
Karena terdapat persamaan dan perbedaan itulah banyak terjadi kesulitan yang dihadapi oleh pembelajar bahasa target dalam pelafalan huruf vokal, difthong, konsonan, dan gugus konsonan. Selain dari berbedanya huruf tulisan dan bunyinya, hal ini juga disebabkan karena perbedaan budaya komunikasi dan tatabahasa diantara keduanya. Solusinya dengan cara membiasakan pembelajar bahasa target menggunakan bahasa target dengan benar baik dari segi bahasa maupun tata bahasa.

2.      Saran
Dengan adanya persamaan dan perbedaan serta prediksi kesulitan yang telah dijelaskan sebelumnya, guru disarankan untuk lebih kreatif lagi dalam menganalisis para siswanya dan inovatif dalam mengembangkan metode dan media mengajarnya.


Daftar Pustaka

Muslich, Masnur. 2010. Fonologi bahasa indonesia tinjauan deskriptif sistem bunyi bahasa indonesia. Edisi I. Jakarta: Bumi Aksara.
Marsono. 1993. Fonologi. Yogjakarta: Gadjah mada university
HP, Ahmad dan Alek Abdullah. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama
Mansyur, Mohammad, dkk. 1992. Belajar Aktif Bahasa Arab. Jakarta: PT. Grasindo
Martinet, Andre. 1980. Ilmu Bahasa: Pengantar. Yogyakarta: Kanisius
Nababan, Sri Utari Subyakto.1994. Analisis Konstraktif dan Kesalahan: Suatu Pengantar. Jakarta: IKIP Jakarta
Nasution, Ahmad Sayuti Anshari.2010. Bunyi Bahasa :’ilm Al-ashwat Al-‘Arobiyyah’. Jakarta: Amzah
Suwandi, Sarmiji. 2008. Serba Linguistik. Surakarta: UNS Press


Read more...

Makalah Analisis Kontrastif bidang Morfologi

0 komentar
KATA PENGANTAR
 الحَمْدُ للّه لاَ أَبْغِى بِهِ بّدّلاحَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِه الأمَلا ثُمَّ الصَّلاةُ وَ السَلاَمُ عَلَى خَيْرِ الْوَرَى وَعَلَى ساَدَاتِنَا الِه وَ صَحْبِه الْفُضَلا
Kalimat syukur diucapkan oleh hamba yang dhaif ini atas kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT untuk menyusun dan menuliskan hasil analisis yang sederhana ini. Shalawat dan salam disanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW yang perjalanan hidupnya menjadi inspirasi dan motivasi bagi penulis untuk membuat karya yang bermanfaat bagi penulis dan pembacanya.
Maksud penulisan makalah ini adalah sebagai bahan referensi dalam pembelajaran bahasa Arab.
Berkenaaan dengan hal ini, penulis ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Ibu Prof. DR. Yumna Rasyid, M.Pd., selaku dosen mata kuliah Analisis Kontrastif dan Analisis Kesalahan yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi terselesainya tugas makalah ini.
Akhirnya penulis sadari bahwasanya dalam penulisan makalah  yang sederhana ini masih banyak menyimpan kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis berharap saran dan kritik dari semua pihak untuk proses perbaikan.
Akhirnya teriring doa, semoga apa yang dituliskan  bisa terealisasikan dan menjadi amal manfaat bagi penulis.


Jakarta, 11 April 2014


Penulis
 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB  I PENDAHULUAN 4
1.1 Latar Belakang Masalah 4
1.2 Pembatasan Masalah 5
1.3 Perumusan Masalah 5
1.4       Tujuan Penulisan 5
    1.5        Metode Penulisan……………………………………………………………………………………………5
BAB  II KAJIAN TEORI 6
2.1 Hakikat Analisis Kontrustif 6
     2.2        Hipotesis Analisis Kontrustif……………………………………………………………………………6
    2.1       Tujuan Analisis Kontrustif……………………………………………………...7
2.2 Hakikat Morfologi 8
2.3 Objek Kajian Morfologi 10
BAB III PEMBAHASAN 18
3.1 Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia (PKJ BI) 11
3.2       Pola Kata Jamak Bahasa Arab 13
3.3 Persamaan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab 18
3.4 Perbedaan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab 18
3.5 Kesulitan Ssiswa dalam Masalah Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa           Arab 19
3.6 Solusi Masalah Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab 19
BAB  IV PENUTUP 20
4.1      kesimpulan 20
4.2 Saran dan Kritik 21
DAFTAR PUSTAKA 22

 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua, terutama dalam membaca maupun membuat sebuah kalimat, siswa sering menghadapi kesulitan dan kesalahan.Hal itu terjadi akibat siswa menggunakan pengetahuan dan pengalaman dalam bahasa pertama. Dalam hal ini, siswa menggunakan sejumlah unsur dan tata bahasa dalam bahasa pertama untuk kegiatan dalam bahasa kedua.Akibat unsur-unsur kebahasaan itu tidak terdapat dalam bahasa pertama sedangkan siswa pada saat menggunakan bahasa kedua dituntut untuk menggunakan unsur itu, maka mengakibatkan kesalahan dan kesulitan dalam berbahasa. Hal semacam ini sangat perlu diselesaikan dengan sebuah solusi.Salah sat u solusi untuk mengatasi kesulitan dan kesalahan siswa akibat pengaruh unsur-unsur kebahasaan itu adalah dengan melakukan sebuah analisis kontrastif.
Salah satu masalah yang dihadapi para siswa adalah dalam masalah morfologi antara bahasa pertama dan bahasa kedua.Seperti afiksasi, pembentukan kata kerja aktif pasif, kata ganti, konsep tunggal Jamak dan lain- lain.
Realitanya, banyak siswa yang terkecoh dalam masalah pembentukan kata, seperti penggunaaan kata tunggal dan kata jamak antara bahasa pertama dan bahasa kedua. Maka dari itu, salah satu analisis bahasa tersebut adalah analisis morfologi konsep kata tunggal dan kata jamak dari sisi pembentukan kata. Permasalahan yang kami uraikan adalah Pola Kata Jamak Bahasa Arab (PKJ BA) dan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia -  (PKJ BI) dari aspek morfologi, serta menemukan persamaan dan perbedaan konsep pembentukan antara PKJ BA dan PKJ BI.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas “ Analisis Kontrastif Konstruksi Kata Tunggal dan Jamak Bahasa Indonesia dengan Bahasa Arab”, yang meliputi pengertian analisis kontrastif, deskripsi PKJ BI, deskripsi PKJ BA, kontrastif  PKJ BI dan PKJ BA, prediksi kesulitan peserta didik pada PKJ BI dan PKJ BA, serta solusi untuk menanganinya. Yang mana ditujukan untuk memberikan satu sumbangan yang berarti untuk keberhasilan proses belajar mengajar bahasa Arab.

1.2 Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, kami membatasi masalah menjadi “Analisis Kontrastif  Konstruksi Kata Jamak Bahasa Indonesia dengan Bahasa Arab”

1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia?
2. Bagaimanakah pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Arab?
3. Bagaimanakah persamaaan pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab?
4. Bagaimanakah perbedaan pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab?
5. Apakah kesulitan siswa pada pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab?
6. Bagaimanakah solusi untuk menangani kesulitan siswa pada pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab?
1.4 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari analisis kontrastif ini adalah :
1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang kesulitan siswa dalam masalah kata tunggal dan jamak antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
2. Untuk mengetahui besar presentase kesalahan siswa dalam masalah kata tunggal dan jamak antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
3. Untuk mengetahui penyebab kesulitan dan kesalahan tersebut.
4. Untuk mendapatkan solusi dalam mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut.

1.5 Motode Penulisan
Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah metode studi pustaka (library research). Studi pustaka adalah mengambil dan mengkaji teori-teori yang relevan dalam permasalahan yang dibahas, berupa tujuan, sintensis, atau ringkasan keputusan tentang masalah penelitian.
 

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Hakikat Analisis Kontrastif
Analisis kontrastif adalah kegiatan memperbandingkan struktur B1 dan B2 untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa  itu. Hambatan terbesar dalam proses menguasai bahasa  kedua (B2) adalah tercampurnya sistem bahasa  pertama (B1) dengan sistem B2. Analisis kontrastif  mencoba menjembatani kesulitan tersebut dengan mengkontraskan kedua sistem bahasa  tersebut untuk meramalkan kesulitan-kesulitan yang terjadi.
Analisis Kontrastif (Contrastive Analysis) adalah sebuah  metode yang digunakan dalam mencari suatu perbedaan  antara bahasa pertama (B1) dan Bahasa Target (B2) yang sering membuat pembelajar bahasa kedua mengalami kesulitan dalam memahami suatu materi bahasa kedua yang dipelajarinya tersebut. Dengan adanya analisa kontrastif ini diharapkan pembelajar dapat memahami  bahasa kedua atau bahasa asing dengan lebih mudah.
Secara umum memahami pengertian analisis kontrastif dapat ditelusuri melaui makna kedua kata tersebut. Analisis diartikan sebagai semacam pembahasan atau uraian. Yang dimaksud dengan pembahasan adalah proses atau cara membahas yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu dan memungkmkan dapat menemukan inti permasalahannya. Permasalahan yang ditemukan itu kemudian dikupas, dikritik. diulas, dan akhirnya disimpulkan untuk dipahami. Moeliono (1988:32) menjelaskan bahwa analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Sedangkan kontrastif diartikan sebagai perbedaan atau pertentangan an tar a dua hal. Perbedaan inilah yang menarik untuk dibicarakan, diteliti. dan dipahami. Moeliono menjelaskan bahwa kontrastif diartikan sebagai bersifat membandingkan perbedaan. Istilah kontrastif lebih dikenal dalam ranah kebahasaan (linguistik). Sehubungan dengan ini kemudian muncul istilah linguistik kontrastif yang merupakan cabang ilmu bahasa.
2.2 Hipotesis Analisis Kontrastif
Perbandingan struktur antara dua bahasa  B1 dan B2 yang akan dipelajari oleh siswa menghasilkan identifikasi perbedaan antara kedua bahasa  tersebut. Perbedaan antara dua bahasa  merupakan dasar untuk memperkirakan butir-butir yang menimbulkan kesulitan belajar bahasa  dan kesalahan yang akan dihadapi oleh siswa. Dari sinilah dijabarkan hipotesis analisis kontrastif.
Dalam perkembangannya kita mengenal dua versi hipotesis anakon, hipotesis bentuk kuat menyatakan bahwa “Semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan antara B1 dan B2 yang dipelajari oleh para siswa. Sedangkan hipotesis bentuk lemah menyatakan bahwa anakon hanyalah bersifat diagnostik belaka. Karena itu anakon dan analisis kesalahan (anakes) harus saling melengkapi. Anakes mengidentifikasi kesalahan di dalam korpus bahasa  siswa, kemudian anakon menetapkan kesalahan mana yang termasuk ke dalam kategori yang disebabkan oleh perbedaan B1 dan B2. Hipotesis bentuk kuat ini didasarkan kepada asumsi-asumsi berikut ini :
1. Penyebab utama atau penyebab tunggal kesulitan belajar dan kesalahan dalam pengajaran asing adalah interferensi bahasa ibu.
2. Kesulitan belajar itu sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh perbedaan B1 dan B2.
3. Semakin besar perbedaan antara B1 dan B2 semakin akut atau gawat kesulitan belajar.
4. Hasil perbandingan antara B1 dan B2 diperlukan untuk meramalkan kesulitan dan kesalahan yang akan terjadi dalam belajar bahasa asing.
5. Bahan pengajaran dapat ditentukan secara tepat dengan membandingkan kedua bahasa itu, kemudian dikurangi dengan bagian yang sama, sehingga apa yang harus dipelajari oleh siswa adalah sejumlah perbedaan yang disusun berdasarkan kontrastif.


2.3 Tujuan Analisis Kontrastif
Dalam suatu kegiatan penemuan suatu benda atau hal yang baru, tentu diikuti dengan adanya tujuan maupun manfaat yang terjadi bilamana akan ditemukannya atau diadakannya hal atau benda yang baru tersebut. Maka, ada tiga asumsi dasar yang bertujuan ditemukannya analisis kontrastif, sebagai berikut:
a. Memberikan wawawsan tentang persamaan dan perbedaan antara bahasa pertama dengan bahasa kedua yang akan dipelajari.
b. Menjelaskan dan memperkirakan masalah-masalah yang timbul dalam belajar B2.
c. Mengembangkan bahan pelajaran bahasa kedua untuk pengajaran bahasa.
Sedangkan, Tarigan (1997) menyatakan bahwa tujuan dari analisis kontrastif yang dihubungkan dengan proses belajar-mengajar bahasa kedua, antara lain:
a. Untuk penyusunan materi pengajaran bahasa kedua, yang dirumuskan berdasarkan butir-butir yang berbeda antara kaidah (struktur) bahasa pertama dan kaidah bahasa kedua yang akan dipelajari oleh peserta didik.
b. Untuk penyusunan pengajaran bahasa kedua yang berlandas tumpukan pada pandangan linguistic strukturalis dan psikologi behavioris.
c. Untuk penyusunan kelas pembelajaran bahasa terpadu antara bahasa pertama siswa dengan bahasa kedua siswa yang harus dipelajarinya.
d. Untuk penyusunan prosedur pembelajaran atau penyajian bahan pengajaran bahasa kedua.

2.4 Hakikat Morfologi
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata “morf” yang berarti bentuk dan kata “logi” yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata; sedangkan di dalam kajian biologi morfologi berarti ilmu mengenai bentuk-bentuk sel-sel  tumbuhan atau jasad-jasad hidup.
Kalau dikatakan morfologi membicarakan masalah bentuk-bentuk dan pembentukan kata, maka semua satuan bentuk sebelum menjadi kata, yakni morfem dengan segala bentuk dan jenisnya, perlu dibicarakan. Lalu, pembicaraan mengenai pembentukan kata akan melibatkan pembicaraan mengenai komponen atau unsur  pembentukan kata itu, yaitu morfem, baik morfem dasar maupun morfem afik, dengan berbagai alat proses pembenktukan kata itu, yaitu afiks dalam proses pembentuklan kata melalui proses afiksasi, reduplisasi, ataupun pengulangan dalam proses pembentukan kata melalui proses reduplikasi, penggabungan dalam proses pembentukan kata melalui proses komposisi dan sebagainya. Jadi ujung dari proses morfologi adalah terbentuknya kata dalam bentuk dan makna sesuai dengan keperluan dalam satu tindak pertuturan. Bila bentuk dan makna yang terbentuk dari satu proses morfologi sesuai dengan yang diperlukan dalam pertuturan, maka bentuknya dapat dikatakan berterima, tetapi jika tidak sesuai dengan yang diperlukan, maka bentuk itu dikatakan tidak berterima. Dalam kajian morfologi, alasan sosial itu kita singkirkan dulu.
Di dalam Linguistik “ilmu bahasa”, morfologi merupakan salah satu struktur internnya. Menurut kamus umum Bahasa Indonesia Morfologi adalah ilmu bentuk.
Menurut Ramlan morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Dalam definisi lain di katakan bahwa Morfologi merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Contoh: kata Sepeda Motor terdiri dari dua morfem, yaitu morfem Sepeda dan morfem Motor, yang masing-masing merupakan kata.
Adapun yang dimaksud dengan morfologi bahasa Arab yang menurut bahasa berarti mengubah sesuatu dari asalnya, dan menurut istilah ialah mengubah dari asal (pokok) pertama kepada contoh yang berlainan Al Kailani mengatakan “Tasrif adalah perubahan asal yang satu menjadi contoh-contoh yang banyak bagi beberapa arti yang diharapkan, yang tidak mungkin dapat diperoleh kecuali dengannya”. Yang dimaksud asli disini ada dua pendapat, menurut ulama’ Basrah ialah masdar dan menurut ulama’ kufah ialah fi’il madhi. Sedang dimaksud dengan mengubah adalah mengubah dari pada fi’il madi ke fi’il mudhari’, masdar, isim fa’il, isim maf’ul, fi’il amar, fi’il nahi, isim zaman/makan, dan isim alat.

2.5 Objek Kajian Morfologi
Objek kajian morfologi adalah satuan-satuan morfologi, proses-proses forfologi, dan alat-alat dalam proses morfologi itu. Dalam proses morfologi dasar atau bentuk dasar merupakan bentuk yang mengalami proses morfologi. Dasar ini dapat berupa bentuk pilimorfemis (bentuk berimbuhan, bentuk ulang dan bentuk gabungan). Alat pembentuk kata dapat berupa afiks dalam proses afiksasi, dapat berupa pengulangan dalam proses reduplikasi dan berupa gabungan dalam proses komposisi.
Beberapa konsep dalam bidang morfologi yaitu:
1. Kata
2. Morfem
3. Alomorf
 
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia (PKJ BI)
Menurut Anton Moeliono bentuk jamak dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Bentuk jamak dengan melakukan pengulangan kata yang bersangkutan, seperti:

Tunggal Jamak
Kursi Kursi-kursi
Meja Meja-meja
Buku Buku-buku
Teman Teman-teman

2) Bentuk jamak dengan menambah kata bilangan, seperti:

1. Beberapa + meja (kata tunggal) -> Beberapa meja
2. Sekalian + tamu (kata tunggal) -> Sekalian tamu
3. Semua + buku (kata tunggal) -> Semua buku
4. Sepuluh + Komputer (kata tunggal) -> Sepuluh komputer

3) Bentuk jamak dengan menambah kata bantu jamak, seperti:

1. Para tamu
2. Banyak tamu

4) Bentuk jamak dengan menggunakan kata ganti orang, seperti:

1. Mereka
2. kita
3. Kami
4. Kalian

5) Pengulangan salin suara
Contoh : Sayur- mayur, corat- coret, desas- desus, warna- warni

6) Kekolektifan yang merupakan kumpulan yang sejenis, seperti : dedaunan, pepohonan, sesajian, reruntuhan, jari- jemari, tali- temali, gunung- gemunung

7) Kekolektifan yang merupakan kumpulan berbagai jenis, seperti : tumbuh- tumbuhan, kacang- kacangan, padi- padian, batu- batuan, umbi- umbian
Dalam bahasa Indonesia terdapat leksem yang bermakna jamak yaitu kata yang telah bermakna jamak meskipun tanpa pemarkah atau penanda jamak, seperti:
1. Masyarakat
2. Publik
 
3.2 Pola Kata Jamak Bahasa Arab (PKJ BA)
Dalam bahasa arab,  berkenaan dengan jumlah pada kelas nomina, BA memiliki tiga bentuk jumlah, yakni tunggal (mufrād), dual (muṡannā), dan jamak (jama’); jamak berlaku untuk lebih dari dua.
Mufrad adalah jumlah yang menunjukkan pada sesuatu yang tunggal, baik bergender laki-laki maupun perempuan, nakirah  atau ma’rifah, kata sifat maupun kata yang disifati, jāmid (kata benda yang bukan derivasi dari kata kerja) atau musytaq (kata benda yang merupakan derivasi dari kata kerja) dan berakal maupun tak berakal, seperti pada: qalamun “pena”, imra’atun “perempuan”, ḥāmidun “yang memuji”, maḥmūdun “yang dipuji”, maktabun “meja”, nabātun “tumbuh-tumbuhan”, ṭā’irun “burung”, anta “kamu laki-laki, allażī “yang (merujuk pada laki-laki)”, dan lain sebagainya.
Muṡannā adalah jumlah yang menunjukkan sesuatu yang berjumlah dua, seperti contoh-contoh mufrad di atas namun dengan menambahkan alif dan nun (اَنِ - ) di akhir kata pada nominatif, serta yā dan nūn (يْنِ-) pada kasus akusatif dan genitif, seperti: baḥrun “laut” – baḥrāni (nominatif) - baḥraini (akusatif dan genitif); allażī “yang (merujuk pada laki-laki)” – allażāni – allażaini; allatī “yang (merujuk pada perempuan)” – allatāni – allatainī; maḥmūdun - maḥmūdāni - maḥmūdaini; dan lain-lain.
Sedangkan jamak [1] pada BA mengarah pada jumlah yang lebih dari dua. Ada dua kategori jamak: pertama, hanya dengan menambahkan /وْنَ-/ wawu dan nun atau /اتٌ-/ alif dan ta pada nominatif, dan /ين-/ yā dan nūn atau /اتٍ-/ alif dan tā’ pada akusatif dan genitif; kedua: dengan beberapa pola yang akan di uraikan kemudian.
 
Kajian ini berusaha menjelaskan bentuk-bentuk jamak dan pembagiannya, namun bentuk jamak tidak dapat dilepaskan dari bentuk tunggal dan duanya. Proses terbentuknya sebuah kata hingga jamak dalam bahasa Arab yaitu:
Mufrād ( kitābu ) → Muṡannā ( kitabāni ) → jama’ ( kutubun )
Pada contoh di atas, kata kitābu ‘buku’ menunjukkan kata benda tunggal, kitabāni ‘dua buku’ menunjukkan kata benda dual, dan kutubun ‘tiga buku atau lebih’ menunjukkan kata benda jamak/berjumlah banyak.
Jamak pada bahasa Arab adalah isim yang  bermakna lebih dari dua dan berfungsi merubah wazan kata. Pembentuk jamak, ada yang hanya memanfaatkan penanda imbuhan dengan menambahkan akhiran pada kata tanpa merubah bentuk asalnya, namun ada pula yang merubah total bentuk asalnya dengan pola-pola tertentu. Kasus jamak dalam bahasa Arab memang agak rumit untuk mengingatnya, karena kebanyakan kata jamak memiliki bentuk tak beraturan, meskipun sudah ada rumusan pola-pola pembentukannya.
Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa dalam struktur bahasa Arab mengenal tiga kategori jumlah, yaitu tunggal, dua dan jamak. Kategori jumlah yang akan diuraikan berupa kategori jumlah yang terdapat pada nomina, yaitu: Mufrad (tunggal), Isim Mufrad adalah bentuk kata benda tunggal, misalnya: hayawānu “binatang” – muslimu “seorang muslim” – kitābu “buku” – qalamu “pena”; isim muṡanna adalah kata benda bermakna dua yang ditandai dengan akhiranاَنِ - /āni/ pada nominatif (rafa’) misalnya: kitabāni “dua buku”,  qalamāni “dua pena”, muslimāni “dua orang muslim”, dan يْنِ- /īna/ pada akusatif (nasb), dan genitif (jar) seperti: ‘ala al-muslimaini “dua orang muslim”; jamak pada BA menunjukkan isim yang berjumlah tiga atau lebih.
Bentuk jamak dalam bahasa Arab ada dua macam, yakni jama’ sālim dan jama’ taksir. Jamak sālim adalah sebuah bentuk jamak yang telah memiliki kaidah baku, mudah dihafal, dan tidak menyulitkan para pembelajar bahasa Arab. Jamak sālim dibagi lagi menjadi dua jenis. Pertama, jama’ mużakkar sālim, dan kedua, jama’ muannaṡ sālim. Jama’ mużakkar sālim sering disebut dengan masculine sound plural, sementara jama’ muannaṡ sālim sering disebut dengan  feminin sound plural. Sedangkan jama’ taksir disebut juga dengan the broken plural.
1. Jama’ Sālim
Jama’ sālim adalah jamak yang memiliki bentuk baku, penamaan sālim berdasarkan pola (wazan), karena pola pada jama’ sālim tidak berubah, hanya ditambahkan waw dan nūn /وْنَ-/ atau alif dan tā’ /اتٌ-/ pada nominatif, dan yā dan nūn /ين-/ atau alif dan tā’ /اتٍ-/ pada akusatif dan genitif.
Berdasarkan jenis (feminin dan maskulin) Jama’ sālim dibagi menjadi dua: (1) jamak mużakkar sālim (bergender maskulin); (2) jamak muannaṡ sālim (bergender feminin).
1) Jama’ mużakkar sālim (جمع مذكر سالم)
Jama’ mużakkar sālim adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang lebih dari dua pada jenis mużakkar (maskulin), pembentukan jamak ini dengan menambahkan waw dan nūn /وْنَ-/ pada wazan kata dalam kasus marfu’/nominatif, seperti: ta’iba al-lā’ibūn “para pemain itu telah lelah”; dengan menambahkan yā dan nūn /ين-/ -īna dalam wazan (pola) pada kasus mansūb/akusatif dan majrūr/genitif, seperti pada: akrim al-mujtahidīn “muliakanlah para mujtahid”, dalam kasus akusatif; dan nusallimu ‘alā al-musāfirīn “kami memberi salam kepada para musafir”, dalam kasus genitif.
Syarat terbentuknya jamak ini adalah:
1)      Isim yang berupa nama untuk mużakkar yang berakal, dengan syarat konsonan akhirnya bukan /tā’/ (tā’ ta’niṡ) seperti pada nama: hamzah, dan tidak murakkab (tersusun dari dua kata) seperti ‘abdu ar-rahmān; misalnya: Ahmad, sa’īd, dan khālid.
2)      Isim Sifat bagi mużakkar yang berakal, dengan syarat konsonan akhirnya bukan /tā’/ (tā’ ta’niṡ), seperti ālim “orang yang mengetahui/orang yang berilmu”, kātib “sekretaris”; namun kata tersebut memungkinkan dimasuki tā’ ta’niṡ, sehingga menjadi ālimah dan kātibah. Isim tafḍil (kata yang bermakna menyatakan lebih), seperti afḍal ”lebih utama”, dan akmāl “lebih sempurna”; kedua kata tersebut tidak terdapat tā’ namun tidak boleh dijamakkan. Isim sifat yang tidak terdapat tā’, ada dua kemungkinan bentuk, yaitu pada kata itu bisa dimasuki tā’, atau tidak bisa dimasuki tā’ karena berupa isim tafḍil, namun isim sifat yang tidak bisa dimasuki ta dan juga bukan isim taḍfil, kata tersebut mutlak tidak boleh dijamakkan, seperti kata: aḥmar “yang merah”, ṣabūr “yang sabar”, dan qatīl “yang dibunuh”.
2)      Jama’ muannaṡ sālim (جمع مؤنث سالم)
Jama’ muannaṡ sālim adalah nomina (isim) yang menunjukkan sesuatu yang lebih dari dua, dan menunjukkan gender feminin, pembentukan jamak ini dengan menambahkan alif dan tā’ (berharakat marfu’) /اتٌ-/ pada wazan kata dengan kasus marfu’/nominatif, seperti: haḍarat al-fāṭimātu “Fatimah-fatimah itu telah hadir”; dan menambahkan alif dan tā’ (berharakat kasrah) /اتٍ-/ pada wazan dalam kasus akusatif saqaitu asy-syajarāti “saya telah menyirami pepohonan”, dan dalam kasus genitif seperti: jalastu ba’īdan ‘an al-baqarāti “saya telah duduk jauh dari sapi-sapi betina itu.”
2. Jama’ at-taksīr
Jamak taksir sebagaimana jamak sālim, yaitu isim yang menunjukkan sesuatu yang lebih dari dua disertai dengan perubahan pola (wazan) pada bentuk kata tunggalnya. Dengan demikian jamak ini disebut juga dengan the broken plural (jamak yang telah rusak), karena terjadi perubahan pola dari bentuk kata tunggalnya. Misalnya:
rajulun (I)→ rajulāni (II)→ rijālun ِ(III)
Rajulun “seorang laki-laki” merupakan bentuk mufrad, rajulāni “dua orang laki-laki” bentuk muṡanna, dan rijālun “laki-laki (lebih dari dua)” adalah bentuk jamak.
Jamak Taksir terbagi menjadi dua bagian
ينقسم جمع التكسير الي قسمين : جمع قلة و جمع كثرة.
1. جمع القلة : هو ما دل علي ثلاثة فما فوقها الي العشرة.
2. جمع الكثرة : هو ما دل علي ما فوق العشرة الي غير نهاية, او ما دل علي ما فوق الثلاثة الي غير نهاية علي مذهب اخر.
Terdapat beberapa pola umum dalam pembentukan jamak taksir, yaitu sebagai berikut:
1. Pola Jamak Taksir Qillah
الأمثلة الوزن
نفس : انفس
ذراع : اذرع افعل (بفتح فسكون فضم)
سيف : اسياف, و عنق : اعناق, وقفل : اقفل. أفعال
طعام: اطعمة, ورغيف : ارغفة أفعلة
فتى : فتية, وشيخ : شيخة فعلة(بكسر فسكون ففتح) وهو سماعي
2. Pola Jamak Taksir Katsroh
الأمثلة الوزن
خُضْرٌ فُعْلٌ
ذُرُعٌ فُعُلٌ
لُجَجٌ فُعَلٌ
نِقَمٌ فِعَلٌ
قُضاةٌ فُعَلَةٌ
قتلة فَعَلَةٌ
عُذّلٌ فُعَّلٌ
كُتّلب فُعّال
رِقاب فِعال
قُلوب فُعُول
غِربان فِعلان
عَبدان فَعلان
جُلساء فُعلاء
أشداء أفعال

3.3 Persamaan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Berdasarkan pola- pola kata jamak yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dianalisis perbedaan- perbedaan pola tersebut dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
Persamaan pola jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa arab adalah sebagai berikut:
1. Jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab sama-sama memiliki beberapa pola atau bentuk
2. Satu kata dapat memilki lebih dari satu pola jamak, seperti baju- baju, beberapa baju dan semua baju. Dalam bahasa arab seperti نفوس   dan
أنفس.
3. Keduanya memilki leksem atau kata yang langsung bermakna jamak. Sedangkan dalam bahasa Indonesia terdapat leksem yang langsung bermakna jamak, seperti : masyarakat, publik, الإنسان


3.4 Perbedaan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Berdasarkan pola- pola kata jamak yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dianalisis perbedaan- perbedaan pola tersebut dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
Perbedaan pola jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa arab adalah sebagai berikut:
1. Dalam bahasa arab tidak ada konsep pengulangan kata, sedangkan dalam bahasa Indonesia terdapat pola jamak dengan pengulangan katanya, seperti buku-buku.
2. Dalam bahasa Indonesia tidak ada pola gender (muannas dan muzakkar) seperti  dalam bahasa arab, yaitu jamak muzakkar salim (المسلمون) dan dalam jamak muannas salim ( المسلمات)
3. Dalam bahasa Arab pola jamaknya baku dan banyak sehingga harus dihapal sedangkan dalam bahasa Indonesia pola jamaknya tidak baku.
4. Dalam bahasa arab terdapat perbedaan pola jamak sesuai kuantitasnya yaitu jamak taksir qillah dan katsroh.

3.5 Kesulitan Siswa dalam Masalah Pola Kata  Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua, terutama dalam membuat sebuah kalimat, siswa sering menghadapi kesulitan dan kesalahan. Siswa pun mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan perubahan kata jamak dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa arab. Berikut adalah beberapa kesulitan yang dialami siswa saat proses pembelajaran :
1. Siswa pada saat menggunakan bahasa kedua dituntut untuk menggunakan konsep bahasa kedua, maka mengakibatkan kesalahan dan kesulitan dalam berbahasa, akibat unsur-unsur kebahasaan itu tidak terdapat dalam bahasa pertama.
2. Siswa sulit mengahapal pola jamak dalam bahasa Arab

3.6 Solusi Kesulitan Siswa dalam Masalah Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Setiap masalah membutuhkan solusi untuk menyelesaikan. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah siswa dalam penggunaan pola jamak bahasa Indonesia dan Bahasa Arab :
1. Guru dapat mengaplikasikan metode mind mapping untuk memudahkan siswa menguasai pola- pola jamak
2. Guru mewajibkan siswa untuk menghapal pola- pola jamak




 

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Tarigan mengemukakan bahwa Analisis Kontrastif (Contrastive Analysis), selanjutnya digunakan istilah anakon, merupakan kegiatan pembandingan dua struktur dua bahasa–bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2) – untuk menemukan perbedaan-perbedaan yang ada pada kedua bahasa tersebut.  Hasil perbedaan yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk memprediksi kesulitan belajar bahasa terutama bahasa kedua (B2).Oleh karena itu, analisis kontrastif dapat dijadikan solusi alternatifdalam pengajaran bahasa kedua, dengan melakukan analisis kontrastif, guru dapat mengetahui kesulitan dan kesalahan siswa dalam berbahasa.
Morfologi atau tata kata adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk pembentukan kata. Morfologi mengkaji seluk-beluk morfem, bagaimana mengenali sebuah morfem, dan bagaimana morfem berproses membentuk kata.
Terdapat beberapa pola jamak dalam bahasa Indonesia yaitu, pengulangan kata, penambahan kata bilangan, penambahan kata bantu jamak, dan kata ganti orang. Dalam bahasa Indonesia terdapat leksem atau kata yang langsung bermakna jamak seperti, masyarakat, publik dan lain-lain.
Bahasa arab merupakan bahasa yang memiliki struktur yang sangat kompleks, dibuktikan dengan struktur bahasa ini memuat beberapa kategori-kategori infleksional seperti jumlah, gender, dan kasus untuk kelas nomina, sedangkan jumlah, gender, kala, modus dan aspek untuk kelas verba.
Pada kategori jumlah dalam bahasa Arab, terdapat dua jenis: yaitu jamak sālim dan jamak taksir. Jamak sālim dibedakan menjadi dua berdasarkan gender maskulin di sebut juga dengan Jama’ mużakkar sālim dan berdasarkan gender feminin disebut juga dengan jama’ muannaṡ sālim. Jama’ sālim memiliki keteraturan dalam pembentukannya dengan menambahkan imbuhan di akhir kata, sedangkan jama’ taksir memiliki pola-pola yang beragam dalam pembentukannya.
Pola jamak bahasa Indonesia dan bahasa Arab memilki perbedaan yang banyak sehingga siswa mengalami kesulitan dan kesalahan dalam menerjemahkannya.
4.2 Saran dan Kritik
Untuk menyelesaikan masalah siswa mengenai pola jamak, guru harus memilih metode dan teknik pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat.

 
DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul .Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.2007
Muin, M. A. , Drs. Abdul . Analisis Konstrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Alhusna Baru. 2004
Tarigan, Henry Guntur. Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa. Bandung: Angkasa, 2009
Ismail, Moh. (Pengalih Bahasa). 1991. An-Nahwul Wadlih Tata Bahasa Arab. Surabaya: Putra Al-Ma’arif.
Nababan, Sri Utari Subyakto. Analisis Kontrastif dan Kesalahan Suatu Kajian dari Sudut Pandang Guru Bahasa. Jakarta 1994
مختصر الصرف - عبد الهادي الفضلي
http://eningherniti.blogspot.com/2010/07/konsep-jamak-dalam-bahasa-indonesia.html
http://nurrismatuw93.blogspot.com/2013/07/analisis-kontrastif-terhadap-bahasa.html
nur risma amaliyah di 7/26/2013 10:23:00 PM
http://kamusbahasaindonesia.org/jamak#ixzz2x2EA72Tw
Diposkan oleh Wahyu  Budi utami 09.39
http://wahyubudiutami.blogspot.com/2012/01/bentuk-jamak-dalam-bahasa indonesia.html




Read more...