Banner 468 x 60px

 

Rabu, 09 Juli 2014

Makalah Analisis Kontrastif bidang Morfologi

0 komentar
KATA PENGANTAR
 الحَمْدُ للّه لاَ أَبْغِى بِهِ بّدّلاحَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِه الأمَلا ثُمَّ الصَّلاةُ وَ السَلاَمُ عَلَى خَيْرِ الْوَرَى وَعَلَى ساَدَاتِنَا الِه وَ صَحْبِه الْفُضَلا
Kalimat syukur diucapkan oleh hamba yang dhaif ini atas kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT untuk menyusun dan menuliskan hasil analisis yang sederhana ini. Shalawat dan salam disanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW yang perjalanan hidupnya menjadi inspirasi dan motivasi bagi penulis untuk membuat karya yang bermanfaat bagi penulis dan pembacanya.
Maksud penulisan makalah ini adalah sebagai bahan referensi dalam pembelajaran bahasa Arab.
Berkenaaan dengan hal ini, penulis ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Ibu Prof. DR. Yumna Rasyid, M.Pd., selaku dosen mata kuliah Analisis Kontrastif dan Analisis Kesalahan yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi terselesainya tugas makalah ini.
Akhirnya penulis sadari bahwasanya dalam penulisan makalah  yang sederhana ini masih banyak menyimpan kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis berharap saran dan kritik dari semua pihak untuk proses perbaikan.
Akhirnya teriring doa, semoga apa yang dituliskan  bisa terealisasikan dan menjadi amal manfaat bagi penulis.


Jakarta, 11 April 2014


Penulis
 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB  I PENDAHULUAN 4
1.1 Latar Belakang Masalah 4
1.2 Pembatasan Masalah 5
1.3 Perumusan Masalah 5
1.4       Tujuan Penulisan 5
    1.5        Metode Penulisan……………………………………………………………………………………………5
BAB  II KAJIAN TEORI 6
2.1 Hakikat Analisis Kontrustif 6
     2.2        Hipotesis Analisis Kontrustif……………………………………………………………………………6
    2.1       Tujuan Analisis Kontrustif……………………………………………………...7
2.2 Hakikat Morfologi 8
2.3 Objek Kajian Morfologi 10
BAB III PEMBAHASAN 18
3.1 Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia (PKJ BI) 11
3.2       Pola Kata Jamak Bahasa Arab 13
3.3 Persamaan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab 18
3.4 Perbedaan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab 18
3.5 Kesulitan Ssiswa dalam Masalah Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa           Arab 19
3.6 Solusi Masalah Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab 19
BAB  IV PENUTUP 20
4.1      kesimpulan 20
4.2 Saran dan Kritik 21
DAFTAR PUSTAKA 22

 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua, terutama dalam membaca maupun membuat sebuah kalimat, siswa sering menghadapi kesulitan dan kesalahan.Hal itu terjadi akibat siswa menggunakan pengetahuan dan pengalaman dalam bahasa pertama. Dalam hal ini, siswa menggunakan sejumlah unsur dan tata bahasa dalam bahasa pertama untuk kegiatan dalam bahasa kedua.Akibat unsur-unsur kebahasaan itu tidak terdapat dalam bahasa pertama sedangkan siswa pada saat menggunakan bahasa kedua dituntut untuk menggunakan unsur itu, maka mengakibatkan kesalahan dan kesulitan dalam berbahasa. Hal semacam ini sangat perlu diselesaikan dengan sebuah solusi.Salah sat u solusi untuk mengatasi kesulitan dan kesalahan siswa akibat pengaruh unsur-unsur kebahasaan itu adalah dengan melakukan sebuah analisis kontrastif.
Salah satu masalah yang dihadapi para siswa adalah dalam masalah morfologi antara bahasa pertama dan bahasa kedua.Seperti afiksasi, pembentukan kata kerja aktif pasif, kata ganti, konsep tunggal Jamak dan lain- lain.
Realitanya, banyak siswa yang terkecoh dalam masalah pembentukan kata, seperti penggunaaan kata tunggal dan kata jamak antara bahasa pertama dan bahasa kedua. Maka dari itu, salah satu analisis bahasa tersebut adalah analisis morfologi konsep kata tunggal dan kata jamak dari sisi pembentukan kata. Permasalahan yang kami uraikan adalah Pola Kata Jamak Bahasa Arab (PKJ BA) dan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia -  (PKJ BI) dari aspek morfologi, serta menemukan persamaan dan perbedaan konsep pembentukan antara PKJ BA dan PKJ BI.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas “ Analisis Kontrastif Konstruksi Kata Tunggal dan Jamak Bahasa Indonesia dengan Bahasa Arab”, yang meliputi pengertian analisis kontrastif, deskripsi PKJ BI, deskripsi PKJ BA, kontrastif  PKJ BI dan PKJ BA, prediksi kesulitan peserta didik pada PKJ BI dan PKJ BA, serta solusi untuk menanganinya. Yang mana ditujukan untuk memberikan satu sumbangan yang berarti untuk keberhasilan proses belajar mengajar bahasa Arab.

1.2 Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, kami membatasi masalah menjadi “Analisis Kontrastif  Konstruksi Kata Jamak Bahasa Indonesia dengan Bahasa Arab”

1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia?
2. Bagaimanakah pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Arab?
3. Bagaimanakah persamaaan pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab?
4. Bagaimanakah perbedaan pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab?
5. Apakah kesulitan siswa pada pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab?
6. Bagaimanakah solusi untuk menangani kesulitan siswa pada pola pembentukan kata jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab?
1.4 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari analisis kontrastif ini adalah :
1. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang kesulitan siswa dalam masalah kata tunggal dan jamak antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
2. Untuk mengetahui besar presentase kesalahan siswa dalam masalah kata tunggal dan jamak antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
3. Untuk mengetahui penyebab kesulitan dan kesalahan tersebut.
4. Untuk mendapatkan solusi dalam mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut.

1.5 Motode Penulisan
Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah metode studi pustaka (library research). Studi pustaka adalah mengambil dan mengkaji teori-teori yang relevan dalam permasalahan yang dibahas, berupa tujuan, sintensis, atau ringkasan keputusan tentang masalah penelitian.
 

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Hakikat Analisis Kontrastif
Analisis kontrastif adalah kegiatan memperbandingkan struktur B1 dan B2 untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa  itu. Hambatan terbesar dalam proses menguasai bahasa  kedua (B2) adalah tercampurnya sistem bahasa  pertama (B1) dengan sistem B2. Analisis kontrastif  mencoba menjembatani kesulitan tersebut dengan mengkontraskan kedua sistem bahasa  tersebut untuk meramalkan kesulitan-kesulitan yang terjadi.
Analisis Kontrastif (Contrastive Analysis) adalah sebuah  metode yang digunakan dalam mencari suatu perbedaan  antara bahasa pertama (B1) dan Bahasa Target (B2) yang sering membuat pembelajar bahasa kedua mengalami kesulitan dalam memahami suatu materi bahasa kedua yang dipelajarinya tersebut. Dengan adanya analisa kontrastif ini diharapkan pembelajar dapat memahami  bahasa kedua atau bahasa asing dengan lebih mudah.
Secara umum memahami pengertian analisis kontrastif dapat ditelusuri melaui makna kedua kata tersebut. Analisis diartikan sebagai semacam pembahasan atau uraian. Yang dimaksud dengan pembahasan adalah proses atau cara membahas yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu dan memungkmkan dapat menemukan inti permasalahannya. Permasalahan yang ditemukan itu kemudian dikupas, dikritik. diulas, dan akhirnya disimpulkan untuk dipahami. Moeliono (1988:32) menjelaskan bahwa analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Sedangkan kontrastif diartikan sebagai perbedaan atau pertentangan an tar a dua hal. Perbedaan inilah yang menarik untuk dibicarakan, diteliti. dan dipahami. Moeliono menjelaskan bahwa kontrastif diartikan sebagai bersifat membandingkan perbedaan. Istilah kontrastif lebih dikenal dalam ranah kebahasaan (linguistik). Sehubungan dengan ini kemudian muncul istilah linguistik kontrastif yang merupakan cabang ilmu bahasa.
2.2 Hipotesis Analisis Kontrastif
Perbandingan struktur antara dua bahasa  B1 dan B2 yang akan dipelajari oleh siswa menghasilkan identifikasi perbedaan antara kedua bahasa  tersebut. Perbedaan antara dua bahasa  merupakan dasar untuk memperkirakan butir-butir yang menimbulkan kesulitan belajar bahasa  dan kesalahan yang akan dihadapi oleh siswa. Dari sinilah dijabarkan hipotesis analisis kontrastif.
Dalam perkembangannya kita mengenal dua versi hipotesis anakon, hipotesis bentuk kuat menyatakan bahwa “Semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan antara B1 dan B2 yang dipelajari oleh para siswa. Sedangkan hipotesis bentuk lemah menyatakan bahwa anakon hanyalah bersifat diagnostik belaka. Karena itu anakon dan analisis kesalahan (anakes) harus saling melengkapi. Anakes mengidentifikasi kesalahan di dalam korpus bahasa  siswa, kemudian anakon menetapkan kesalahan mana yang termasuk ke dalam kategori yang disebabkan oleh perbedaan B1 dan B2. Hipotesis bentuk kuat ini didasarkan kepada asumsi-asumsi berikut ini :
1. Penyebab utama atau penyebab tunggal kesulitan belajar dan kesalahan dalam pengajaran asing adalah interferensi bahasa ibu.
2. Kesulitan belajar itu sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh perbedaan B1 dan B2.
3. Semakin besar perbedaan antara B1 dan B2 semakin akut atau gawat kesulitan belajar.
4. Hasil perbandingan antara B1 dan B2 diperlukan untuk meramalkan kesulitan dan kesalahan yang akan terjadi dalam belajar bahasa asing.
5. Bahan pengajaran dapat ditentukan secara tepat dengan membandingkan kedua bahasa itu, kemudian dikurangi dengan bagian yang sama, sehingga apa yang harus dipelajari oleh siswa adalah sejumlah perbedaan yang disusun berdasarkan kontrastif.


2.3 Tujuan Analisis Kontrastif
Dalam suatu kegiatan penemuan suatu benda atau hal yang baru, tentu diikuti dengan adanya tujuan maupun manfaat yang terjadi bilamana akan ditemukannya atau diadakannya hal atau benda yang baru tersebut. Maka, ada tiga asumsi dasar yang bertujuan ditemukannya analisis kontrastif, sebagai berikut:
a. Memberikan wawawsan tentang persamaan dan perbedaan antara bahasa pertama dengan bahasa kedua yang akan dipelajari.
b. Menjelaskan dan memperkirakan masalah-masalah yang timbul dalam belajar B2.
c. Mengembangkan bahan pelajaran bahasa kedua untuk pengajaran bahasa.
Sedangkan, Tarigan (1997) menyatakan bahwa tujuan dari analisis kontrastif yang dihubungkan dengan proses belajar-mengajar bahasa kedua, antara lain:
a. Untuk penyusunan materi pengajaran bahasa kedua, yang dirumuskan berdasarkan butir-butir yang berbeda antara kaidah (struktur) bahasa pertama dan kaidah bahasa kedua yang akan dipelajari oleh peserta didik.
b. Untuk penyusunan pengajaran bahasa kedua yang berlandas tumpukan pada pandangan linguistic strukturalis dan psikologi behavioris.
c. Untuk penyusunan kelas pembelajaran bahasa terpadu antara bahasa pertama siswa dengan bahasa kedua siswa yang harus dipelajarinya.
d. Untuk penyusunan prosedur pembelajaran atau penyajian bahan pengajaran bahasa kedua.

2.4 Hakikat Morfologi
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata “morf” yang berarti bentuk dan kata “logi” yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata; sedangkan di dalam kajian biologi morfologi berarti ilmu mengenai bentuk-bentuk sel-sel  tumbuhan atau jasad-jasad hidup.
Kalau dikatakan morfologi membicarakan masalah bentuk-bentuk dan pembentukan kata, maka semua satuan bentuk sebelum menjadi kata, yakni morfem dengan segala bentuk dan jenisnya, perlu dibicarakan. Lalu, pembicaraan mengenai pembentukan kata akan melibatkan pembicaraan mengenai komponen atau unsur  pembentukan kata itu, yaitu morfem, baik morfem dasar maupun morfem afik, dengan berbagai alat proses pembenktukan kata itu, yaitu afiks dalam proses pembentuklan kata melalui proses afiksasi, reduplisasi, ataupun pengulangan dalam proses pembentukan kata melalui proses reduplikasi, penggabungan dalam proses pembentukan kata melalui proses komposisi dan sebagainya. Jadi ujung dari proses morfologi adalah terbentuknya kata dalam bentuk dan makna sesuai dengan keperluan dalam satu tindak pertuturan. Bila bentuk dan makna yang terbentuk dari satu proses morfologi sesuai dengan yang diperlukan dalam pertuturan, maka bentuknya dapat dikatakan berterima, tetapi jika tidak sesuai dengan yang diperlukan, maka bentuk itu dikatakan tidak berterima. Dalam kajian morfologi, alasan sosial itu kita singkirkan dulu.
Di dalam Linguistik “ilmu bahasa”, morfologi merupakan salah satu struktur internnya. Menurut kamus umum Bahasa Indonesia Morfologi adalah ilmu bentuk.
Menurut Ramlan morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Dalam definisi lain di katakan bahwa Morfologi merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Contoh: kata Sepeda Motor terdiri dari dua morfem, yaitu morfem Sepeda dan morfem Motor, yang masing-masing merupakan kata.
Adapun yang dimaksud dengan morfologi bahasa Arab yang menurut bahasa berarti mengubah sesuatu dari asalnya, dan menurut istilah ialah mengubah dari asal (pokok) pertama kepada contoh yang berlainan Al Kailani mengatakan “Tasrif adalah perubahan asal yang satu menjadi contoh-contoh yang banyak bagi beberapa arti yang diharapkan, yang tidak mungkin dapat diperoleh kecuali dengannya”. Yang dimaksud asli disini ada dua pendapat, menurut ulama’ Basrah ialah masdar dan menurut ulama’ kufah ialah fi’il madhi. Sedang dimaksud dengan mengubah adalah mengubah dari pada fi’il madi ke fi’il mudhari’, masdar, isim fa’il, isim maf’ul, fi’il amar, fi’il nahi, isim zaman/makan, dan isim alat.

2.5 Objek Kajian Morfologi
Objek kajian morfologi adalah satuan-satuan morfologi, proses-proses forfologi, dan alat-alat dalam proses morfologi itu. Dalam proses morfologi dasar atau bentuk dasar merupakan bentuk yang mengalami proses morfologi. Dasar ini dapat berupa bentuk pilimorfemis (bentuk berimbuhan, bentuk ulang dan bentuk gabungan). Alat pembentuk kata dapat berupa afiks dalam proses afiksasi, dapat berupa pengulangan dalam proses reduplikasi dan berupa gabungan dalam proses komposisi.
Beberapa konsep dalam bidang morfologi yaitu:
1. Kata
2. Morfem
3. Alomorf
 
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia (PKJ BI)
Menurut Anton Moeliono bentuk jamak dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Bentuk jamak dengan melakukan pengulangan kata yang bersangkutan, seperti:

Tunggal Jamak
Kursi Kursi-kursi
Meja Meja-meja
Buku Buku-buku
Teman Teman-teman

2) Bentuk jamak dengan menambah kata bilangan, seperti:

1. Beberapa + meja (kata tunggal) -> Beberapa meja
2. Sekalian + tamu (kata tunggal) -> Sekalian tamu
3. Semua + buku (kata tunggal) -> Semua buku
4. Sepuluh + Komputer (kata tunggal) -> Sepuluh komputer

3) Bentuk jamak dengan menambah kata bantu jamak, seperti:

1. Para tamu
2. Banyak tamu

4) Bentuk jamak dengan menggunakan kata ganti orang, seperti:

1. Mereka
2. kita
3. Kami
4. Kalian

5) Pengulangan salin suara
Contoh : Sayur- mayur, corat- coret, desas- desus, warna- warni

6) Kekolektifan yang merupakan kumpulan yang sejenis, seperti : dedaunan, pepohonan, sesajian, reruntuhan, jari- jemari, tali- temali, gunung- gemunung

7) Kekolektifan yang merupakan kumpulan berbagai jenis, seperti : tumbuh- tumbuhan, kacang- kacangan, padi- padian, batu- batuan, umbi- umbian
Dalam bahasa Indonesia terdapat leksem yang bermakna jamak yaitu kata yang telah bermakna jamak meskipun tanpa pemarkah atau penanda jamak, seperti:
1. Masyarakat
2. Publik
 
3.2 Pola Kata Jamak Bahasa Arab (PKJ BA)
Dalam bahasa arab,  berkenaan dengan jumlah pada kelas nomina, BA memiliki tiga bentuk jumlah, yakni tunggal (mufrād), dual (muṡannā), dan jamak (jama’); jamak berlaku untuk lebih dari dua.
Mufrad adalah jumlah yang menunjukkan pada sesuatu yang tunggal, baik bergender laki-laki maupun perempuan, nakirah  atau ma’rifah, kata sifat maupun kata yang disifati, jāmid (kata benda yang bukan derivasi dari kata kerja) atau musytaq (kata benda yang merupakan derivasi dari kata kerja) dan berakal maupun tak berakal, seperti pada: qalamun “pena”, imra’atun “perempuan”, ḥāmidun “yang memuji”, maḥmūdun “yang dipuji”, maktabun “meja”, nabātun “tumbuh-tumbuhan”, ṭā’irun “burung”, anta “kamu laki-laki, allażī “yang (merujuk pada laki-laki)”, dan lain sebagainya.
Muṡannā adalah jumlah yang menunjukkan sesuatu yang berjumlah dua, seperti contoh-contoh mufrad di atas namun dengan menambahkan alif dan nun (اَنِ - ) di akhir kata pada nominatif, serta yā dan nūn (يْنِ-) pada kasus akusatif dan genitif, seperti: baḥrun “laut” – baḥrāni (nominatif) - baḥraini (akusatif dan genitif); allażī “yang (merujuk pada laki-laki)” – allażāni – allażaini; allatī “yang (merujuk pada perempuan)” – allatāni – allatainī; maḥmūdun - maḥmūdāni - maḥmūdaini; dan lain-lain.
Sedangkan jamak [1] pada BA mengarah pada jumlah yang lebih dari dua. Ada dua kategori jamak: pertama, hanya dengan menambahkan /وْنَ-/ wawu dan nun atau /اتٌ-/ alif dan ta pada nominatif, dan /ين-/ yā dan nūn atau /اتٍ-/ alif dan tā’ pada akusatif dan genitif; kedua: dengan beberapa pola yang akan di uraikan kemudian.
 
Kajian ini berusaha menjelaskan bentuk-bentuk jamak dan pembagiannya, namun bentuk jamak tidak dapat dilepaskan dari bentuk tunggal dan duanya. Proses terbentuknya sebuah kata hingga jamak dalam bahasa Arab yaitu:
Mufrād ( kitābu ) → Muṡannā ( kitabāni ) → jama’ ( kutubun )
Pada contoh di atas, kata kitābu ‘buku’ menunjukkan kata benda tunggal, kitabāni ‘dua buku’ menunjukkan kata benda dual, dan kutubun ‘tiga buku atau lebih’ menunjukkan kata benda jamak/berjumlah banyak.
Jamak pada bahasa Arab adalah isim yang  bermakna lebih dari dua dan berfungsi merubah wazan kata. Pembentuk jamak, ada yang hanya memanfaatkan penanda imbuhan dengan menambahkan akhiran pada kata tanpa merubah bentuk asalnya, namun ada pula yang merubah total bentuk asalnya dengan pola-pola tertentu. Kasus jamak dalam bahasa Arab memang agak rumit untuk mengingatnya, karena kebanyakan kata jamak memiliki bentuk tak beraturan, meskipun sudah ada rumusan pola-pola pembentukannya.
Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa dalam struktur bahasa Arab mengenal tiga kategori jumlah, yaitu tunggal, dua dan jamak. Kategori jumlah yang akan diuraikan berupa kategori jumlah yang terdapat pada nomina, yaitu: Mufrad (tunggal), Isim Mufrad adalah bentuk kata benda tunggal, misalnya: hayawānu “binatang” – muslimu “seorang muslim” – kitābu “buku” – qalamu “pena”; isim muṡanna adalah kata benda bermakna dua yang ditandai dengan akhiranاَنِ - /āni/ pada nominatif (rafa’) misalnya: kitabāni “dua buku”,  qalamāni “dua pena”, muslimāni “dua orang muslim”, dan يْنِ- /īna/ pada akusatif (nasb), dan genitif (jar) seperti: ‘ala al-muslimaini “dua orang muslim”; jamak pada BA menunjukkan isim yang berjumlah tiga atau lebih.
Bentuk jamak dalam bahasa Arab ada dua macam, yakni jama’ sālim dan jama’ taksir. Jamak sālim adalah sebuah bentuk jamak yang telah memiliki kaidah baku, mudah dihafal, dan tidak menyulitkan para pembelajar bahasa Arab. Jamak sālim dibagi lagi menjadi dua jenis. Pertama, jama’ mużakkar sālim, dan kedua, jama’ muannaṡ sālim. Jama’ mużakkar sālim sering disebut dengan masculine sound plural, sementara jama’ muannaṡ sālim sering disebut dengan  feminin sound plural. Sedangkan jama’ taksir disebut juga dengan the broken plural.
1. Jama’ Sālim
Jama’ sālim adalah jamak yang memiliki bentuk baku, penamaan sālim berdasarkan pola (wazan), karena pola pada jama’ sālim tidak berubah, hanya ditambahkan waw dan nūn /وْنَ-/ atau alif dan tā’ /اتٌ-/ pada nominatif, dan yā dan nūn /ين-/ atau alif dan tā’ /اتٍ-/ pada akusatif dan genitif.
Berdasarkan jenis (feminin dan maskulin) Jama’ sālim dibagi menjadi dua: (1) jamak mużakkar sālim (bergender maskulin); (2) jamak muannaṡ sālim (bergender feminin).
1) Jama’ mużakkar sālim (جمع مذكر سالم)
Jama’ mużakkar sālim adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang lebih dari dua pada jenis mużakkar (maskulin), pembentukan jamak ini dengan menambahkan waw dan nūn /وْنَ-/ pada wazan kata dalam kasus marfu’/nominatif, seperti: ta’iba al-lā’ibūn “para pemain itu telah lelah”; dengan menambahkan yā dan nūn /ين-/ -īna dalam wazan (pola) pada kasus mansūb/akusatif dan majrūr/genitif, seperti pada: akrim al-mujtahidīn “muliakanlah para mujtahid”, dalam kasus akusatif; dan nusallimu ‘alā al-musāfirīn “kami memberi salam kepada para musafir”, dalam kasus genitif.
Syarat terbentuknya jamak ini adalah:
1)      Isim yang berupa nama untuk mużakkar yang berakal, dengan syarat konsonan akhirnya bukan /tā’/ (tā’ ta’niṡ) seperti pada nama: hamzah, dan tidak murakkab (tersusun dari dua kata) seperti ‘abdu ar-rahmān; misalnya: Ahmad, sa’īd, dan khālid.
2)      Isim Sifat bagi mużakkar yang berakal, dengan syarat konsonan akhirnya bukan /tā’/ (tā’ ta’niṡ), seperti ālim “orang yang mengetahui/orang yang berilmu”, kātib “sekretaris”; namun kata tersebut memungkinkan dimasuki tā’ ta’niṡ, sehingga menjadi ālimah dan kātibah. Isim tafḍil (kata yang bermakna menyatakan lebih), seperti afḍal ”lebih utama”, dan akmāl “lebih sempurna”; kedua kata tersebut tidak terdapat tā’ namun tidak boleh dijamakkan. Isim sifat yang tidak terdapat tā’, ada dua kemungkinan bentuk, yaitu pada kata itu bisa dimasuki tā’, atau tidak bisa dimasuki tā’ karena berupa isim tafḍil, namun isim sifat yang tidak bisa dimasuki ta dan juga bukan isim taḍfil, kata tersebut mutlak tidak boleh dijamakkan, seperti kata: aḥmar “yang merah”, ṣabūr “yang sabar”, dan qatīl “yang dibunuh”.
2)      Jama’ muannaṡ sālim (جمع مؤنث سالم)
Jama’ muannaṡ sālim adalah nomina (isim) yang menunjukkan sesuatu yang lebih dari dua, dan menunjukkan gender feminin, pembentukan jamak ini dengan menambahkan alif dan tā’ (berharakat marfu’) /اتٌ-/ pada wazan kata dengan kasus marfu’/nominatif, seperti: haḍarat al-fāṭimātu “Fatimah-fatimah itu telah hadir”; dan menambahkan alif dan tā’ (berharakat kasrah) /اتٍ-/ pada wazan dalam kasus akusatif saqaitu asy-syajarāti “saya telah menyirami pepohonan”, dan dalam kasus genitif seperti: jalastu ba’īdan ‘an al-baqarāti “saya telah duduk jauh dari sapi-sapi betina itu.”
2. Jama’ at-taksīr
Jamak taksir sebagaimana jamak sālim, yaitu isim yang menunjukkan sesuatu yang lebih dari dua disertai dengan perubahan pola (wazan) pada bentuk kata tunggalnya. Dengan demikian jamak ini disebut juga dengan the broken plural (jamak yang telah rusak), karena terjadi perubahan pola dari bentuk kata tunggalnya. Misalnya:
rajulun (I)→ rajulāni (II)→ rijālun ِ(III)
Rajulun “seorang laki-laki” merupakan bentuk mufrad, rajulāni “dua orang laki-laki” bentuk muṡanna, dan rijālun “laki-laki (lebih dari dua)” adalah bentuk jamak.
Jamak Taksir terbagi menjadi dua bagian
ينقسم جمع التكسير الي قسمين : جمع قلة و جمع كثرة.
1. جمع القلة : هو ما دل علي ثلاثة فما فوقها الي العشرة.
2. جمع الكثرة : هو ما دل علي ما فوق العشرة الي غير نهاية, او ما دل علي ما فوق الثلاثة الي غير نهاية علي مذهب اخر.
Terdapat beberapa pola umum dalam pembentukan jamak taksir, yaitu sebagai berikut:
1. Pola Jamak Taksir Qillah
الأمثلة الوزن
نفس : انفس
ذراع : اذرع افعل (بفتح فسكون فضم)
سيف : اسياف, و عنق : اعناق, وقفل : اقفل. أفعال
طعام: اطعمة, ورغيف : ارغفة أفعلة
فتى : فتية, وشيخ : شيخة فعلة(بكسر فسكون ففتح) وهو سماعي
2. Pola Jamak Taksir Katsroh
الأمثلة الوزن
خُضْرٌ فُعْلٌ
ذُرُعٌ فُعُلٌ
لُجَجٌ فُعَلٌ
نِقَمٌ فِعَلٌ
قُضاةٌ فُعَلَةٌ
قتلة فَعَلَةٌ
عُذّلٌ فُعَّلٌ
كُتّلب فُعّال
رِقاب فِعال
قُلوب فُعُول
غِربان فِعلان
عَبدان فَعلان
جُلساء فُعلاء
أشداء أفعال

3.3 Persamaan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Berdasarkan pola- pola kata jamak yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dianalisis perbedaan- perbedaan pola tersebut dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
Persamaan pola jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa arab adalah sebagai berikut:
1. Jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab sama-sama memiliki beberapa pola atau bentuk
2. Satu kata dapat memilki lebih dari satu pola jamak, seperti baju- baju, beberapa baju dan semua baju. Dalam bahasa arab seperti نفوس   dan
أنفس.
3. Keduanya memilki leksem atau kata yang langsung bermakna jamak. Sedangkan dalam bahasa Indonesia terdapat leksem yang langsung bermakna jamak, seperti : masyarakat, publik, الإنسان


3.4 Perbedaan Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Berdasarkan pola- pola kata jamak yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dianalisis perbedaan- perbedaan pola tersebut dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
Perbedaan pola jamak dalam bahasa Indonesia dan bahasa arab adalah sebagai berikut:
1. Dalam bahasa arab tidak ada konsep pengulangan kata, sedangkan dalam bahasa Indonesia terdapat pola jamak dengan pengulangan katanya, seperti buku-buku.
2. Dalam bahasa Indonesia tidak ada pola gender (muannas dan muzakkar) seperti  dalam bahasa arab, yaitu jamak muzakkar salim (المسلمون) dan dalam jamak muannas salim ( المسلمات)
3. Dalam bahasa Arab pola jamaknya baku dan banyak sehingga harus dihapal sedangkan dalam bahasa Indonesia pola jamaknya tidak baku.
4. Dalam bahasa arab terdapat perbedaan pola jamak sesuai kuantitasnya yaitu jamak taksir qillah dan katsroh.

3.5 Kesulitan Siswa dalam Masalah Pola Kata  Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua, terutama dalam membuat sebuah kalimat, siswa sering menghadapi kesulitan dan kesalahan. Siswa pun mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan perubahan kata jamak dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa arab. Berikut adalah beberapa kesulitan yang dialami siswa saat proses pembelajaran :
1. Siswa pada saat menggunakan bahasa kedua dituntut untuk menggunakan konsep bahasa kedua, maka mengakibatkan kesalahan dan kesulitan dalam berbahasa, akibat unsur-unsur kebahasaan itu tidak terdapat dalam bahasa pertama.
2. Siswa sulit mengahapal pola jamak dalam bahasa Arab

3.6 Solusi Kesulitan Siswa dalam Masalah Pola Kata Jamak Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab
Setiap masalah membutuhkan solusi untuk menyelesaikan. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah siswa dalam penggunaan pola jamak bahasa Indonesia dan Bahasa Arab :
1. Guru dapat mengaplikasikan metode mind mapping untuk memudahkan siswa menguasai pola- pola jamak
2. Guru mewajibkan siswa untuk menghapal pola- pola jamak




 

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Tarigan mengemukakan bahwa Analisis Kontrastif (Contrastive Analysis), selanjutnya digunakan istilah anakon, merupakan kegiatan pembandingan dua struktur dua bahasa–bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2) – untuk menemukan perbedaan-perbedaan yang ada pada kedua bahasa tersebut.  Hasil perbedaan yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk memprediksi kesulitan belajar bahasa terutama bahasa kedua (B2).Oleh karena itu, analisis kontrastif dapat dijadikan solusi alternatifdalam pengajaran bahasa kedua, dengan melakukan analisis kontrastif, guru dapat mengetahui kesulitan dan kesalahan siswa dalam berbahasa.
Morfologi atau tata kata adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk pembentukan kata. Morfologi mengkaji seluk-beluk morfem, bagaimana mengenali sebuah morfem, dan bagaimana morfem berproses membentuk kata.
Terdapat beberapa pola jamak dalam bahasa Indonesia yaitu, pengulangan kata, penambahan kata bilangan, penambahan kata bantu jamak, dan kata ganti orang. Dalam bahasa Indonesia terdapat leksem atau kata yang langsung bermakna jamak seperti, masyarakat, publik dan lain-lain.
Bahasa arab merupakan bahasa yang memiliki struktur yang sangat kompleks, dibuktikan dengan struktur bahasa ini memuat beberapa kategori-kategori infleksional seperti jumlah, gender, dan kasus untuk kelas nomina, sedangkan jumlah, gender, kala, modus dan aspek untuk kelas verba.
Pada kategori jumlah dalam bahasa Arab, terdapat dua jenis: yaitu jamak sālim dan jamak taksir. Jamak sālim dibedakan menjadi dua berdasarkan gender maskulin di sebut juga dengan Jama’ mużakkar sālim dan berdasarkan gender feminin disebut juga dengan jama’ muannaṡ sālim. Jama’ sālim memiliki keteraturan dalam pembentukannya dengan menambahkan imbuhan di akhir kata, sedangkan jama’ taksir memiliki pola-pola yang beragam dalam pembentukannya.
Pola jamak bahasa Indonesia dan bahasa Arab memilki perbedaan yang banyak sehingga siswa mengalami kesulitan dan kesalahan dalam menerjemahkannya.
4.2 Saran dan Kritik
Untuk menyelesaikan masalah siswa mengenai pola jamak, guru harus memilih metode dan teknik pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat.

 
DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul .Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.2007
Muin, M. A. , Drs. Abdul . Analisis Konstrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Alhusna Baru. 2004
Tarigan, Henry Guntur. Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa. Bandung: Angkasa, 2009
Ismail, Moh. (Pengalih Bahasa). 1991. An-Nahwul Wadlih Tata Bahasa Arab. Surabaya: Putra Al-Ma’arif.
Nababan, Sri Utari Subyakto. Analisis Kontrastif dan Kesalahan Suatu Kajian dari Sudut Pandang Guru Bahasa. Jakarta 1994
مختصر الصرف - عبد الهادي الفضلي
http://eningherniti.blogspot.com/2010/07/konsep-jamak-dalam-bahasa-indonesia.html
http://nurrismatuw93.blogspot.com/2013/07/analisis-kontrastif-terhadap-bahasa.html
nur risma amaliyah di 7/26/2013 10:23:00 PM
http://kamusbahasaindonesia.org/jamak#ixzz2x2EA72Tw
Diposkan oleh Wahyu  Budi utami 09.39
http://wahyubudiutami.blogspot.com/2012/01/bentuk-jamak-dalam-bahasa indonesia.html




Read more...

Sabtu, 22 Maret 2014

Mikro Linguistik Bahasa Arab, Mata Kuliah Akon Akes

0 komentar
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Untuk menguasai kemampuan berbahasa dengan baik, baik bahasa ibu maupun bahasa asing, seseorang dapat mempelajarinya secara alamiah ataupun melalui lembaga formal dan informal seperti sekolah atau kursus. Dalam prosesnya, terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang, sehingga tingkat kemampuan setiap orang berbeda-beda. Kemampuan yang berbeda-beda ini pula akan berpengaruh pada peristiwa komunikasi yang berlangsung. Seseorang yang memiliki tingkat kemampuan berbahasa yang baik tentu tidak akan mengalami kesulitan untuk mengungkapkan gagasannya kepada orang lain dengan bahasa yang tepat. Tetapi pada orang yang tingkat kemampuan berbahasanya kurang maka yang terjadi adalah sebaliknya.
Dalam proses mempelajari bahasa asing termasuk di dalamnya proses pembelajaran bahasa Arab pasti tidak luput dari kesalahan. Dengan kata lain, kesalahan berbahasa merupakan suatu bagian dari pembelajaran bahasa itu sendiri. Umumnya kesalahan yang terjadi dalam berbahasa tersebut disebabkan oleh adanya interferensi bahasa dan penyamarataan. Meskipun merupakan bagian dari pembelajaran bahasa, kesalahan-kesalahan tersebut dapat mempersulit tercapainya tujuan pembelajaran bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, kesalahan-kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh siswa harus diminimalisir bahkan dihapuskan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan strategi pembelajaran yang baik.
Fenomena bahasa yang memiliki tabiat morfologi ada pada setiap bahasa, namun kasus makna yang disebabkan oleh morfem yang ada pada setiap bahasa tentu berbeda-beda. Fenomena bahasa yang ada dalam pembelajaran morfologi Arab adalah kajian perubahan bentuk kata kerja dari segi waktu yang harus disesuaikan dengan kata gantinya. Misalnya saja masih banyak siswa yang masih belum bisa menentukan bentuk kata kerja mana yang sesuai dengan kata gantinya.
Identifikasi Masalah
Berkaitan dengan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka muncul pertanyaan sebagai berikut:
Apa hakikat analisis kesalahan?
Apa hakikat kata kerja dalam kaidah morfologi Arab?
Apa hakikat kata kerja dari segi waktu?
Pembatasan Masalah
Berdasarkan beberapa pertimbangan, maka pemakalah membatasi masalah pada kesalahan bentuk kata kerja dari segi waktu yang sesuai dengan kata gantinya.
Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang lebih spesifik, yaitu:
Bentuk-bentuk kesalahan apa saja yang dilakukan oleh siswa dalam  menentukan kata kerja dari segi waktu yang sesuai dengan kata gantinya?
Berapa besar prosentase kesalahan siswa dalam  menentukan kata kerja dari segi waktu yang sesuai dengan kata gantinya?
Faktor-faktor apakah yang menyebabkan siswa mengalami kesalahan dalam menentukan kata kerja dari segi waktu yang sesuai dengan kata gantinya?

1.5 Kegunaan Penelitian
Untuk mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan siswa dalam menentukan kata kerja dari segi waktu yang sesuai dengan kata gantinya.
Untuk mengetahui besar prosentase kesalahan siswa dalam  menentukan kata kerja dari segi waktu yang sesuai dengan kata gantinya.
Untuk mengetahui penyebab kesalahan-kesalahan tersebut.
Untuk mendapatkan solusi dalam mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut.


BAB II
KAJIAN TEORI
Hakikat Analisis Kesalahan
Analisis kesalahan lahir sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap analisis kontrastif. Salah satu tokohnya ialah Jack C. Richards. Dia berpendapat bahwa unsur “ramalan” pada analisis kontrastif tidaklah selalu benar kecuali pada tingkat fonologi. Meskipun demikian, aktivitas analisis kesalahan ini dapat menjadi pelengkap aktivitas analisis kontrastif.
Menurut Corder, analisis kesalahan adalah aktivitas kajian kesalahan-kesalahan yang dibuat pembelajar BT dalam proses belajar mengajar.
Menurut Richard & Sampson, analisis kesalahan adalah kajian kesalahan pelajar BT yang ditinjau dari 7 faktor penyebab kesalahan tersebut, yaitu:
Pengalihan bahasa (language transfer), pengaruh BS masih kuat sehingga belum mampu mengungkapkan ide dalam BT dengan sempurna.
Pengalihan BT (intralingual interferences), generalisasi yang salah dalam proses belajar mengajar BT.
Situasi linguistik karena latar belakang yang berbeda.
Modalitas.
Usia (age).
Kurang stabilitasnya antarbahasa seseorang, pemerolehan bahasa yang tidak sama (fonologi, morfologi, dll) dari masing-masing individu.
Hierarki kesulitan yang semesta (universal), maksudnya dalam sistem bahasa memungkinkan ada butir-butir yang memang sukar dipelajari oleh pelajar BT, ataupun latar belakang pelajar itu.
Jadi, analisis kesalahan adalah analisis yang mendalam mengenai kesalahan-kesalahan pada pembelajar bahasa target. Dan ini mencakup tipe-tipe kesalahan berbahasa dan sebab-sebab kesalahan. Seorang guru yang baik wajib mengoreksi siswa, saat ia melihat adanya penyimpangan kebahasaan yang dilakukan oleh siswa tersebut. Ia juga harus menemukan sumber serta penyebab terjadinya kesalahan-kesalahan itu. Kesalahan-kesalahan yang telah ditemukan kemudian diklasifikasikan berdasarkan sifat dan jenis kesalahannya, lalu ditetapkan daerah kesalahannya. Langkah-langkah yang dikerjakan oleh seorang guru inilah yang disebut dengan analisis kesalahan.
Corder menggunakan 3 (tiga) istilah untuk membatasi kesalahan berbahasa, yaitu antara lain:
Lapses
Lapses adalah kesalahan berbahasa akibat penutur beralih cara untuk menyatakan sesuatu sebelum seluruh tuturan (kalimat) selesai dinyatakan selengkapnya. Untuk berbahasa lisan, jenis kesalahan ini diistilahkan dengan “slip of the tongue” sedang untuk berbahasa tulis, jenis kesalahan ini diistilahkan “slip of the pen”. Kesalahan ini terjadi akibat ketidaksengajaan dan tidak disadari oleh penuturnya.
Error
Error adalah kesalahan berbahasa akibat penutur melanggar kaidah atau aturan tata bahasa (breaches of code). Kesalahan ini terjadi akibat penutur sudah memiliki aturan (kaidah) tata bahasa yang berbeda dari tata bahasa yang lain, sehingga itu berdampak pada kekurangsempurnaan atau ketidakmampuan penutur. Hal tersebut berimplikasi terhadap penggunaan bahasa, terjadinya kesalahan berbahasa akibat penutur menggunakan kaidah bahasa yang salah.
Mistake
Mistake adalah kesalahan berbahasa akibat penutur tidak tepat dalam memilih kata atau ungkapan untuk suatu situasi tertentu. Kesalahan ini mengacu kepada kesalahan akibat penutur tidak tepat menggunakan kaidah yang diketahui benar, bukan karena kurangnya penguasaan bahasa kedua (B2).Kesalahan terjadi pada produk tuturan yang tidak benar.
Kesalahan  dalam  kajian  analisis  kesalahan  dapat  diklasifikasikan  ke  dalam  2  macam,  yaitu  kesalahan  (error)  dan  kekeliruan  (mistakes).  Kekeliruan  terkait  ketidakmampuan  menghasilkan  ujaran  berbahasa  yang  tidak  disengaja,  kekeliruan  bukan  merupakan  hasil  dari  kurangnya  kompetensi  berbahasa  yang  dimiliki  pembelajar.  Kekeliruan  ini  sifatnya  tidak  sistematis,  sehingga  ketika  pembelajar  bahasa  menyadari  kekeliruan  tersebut, maka dapat  segera  memperbaikinya.  Sebaliknya  kesalahan  (error)merupakan  kesalahan  yang  dibuat  oleh  pembelajar  bahasa  bersifat  sistematis  yang  disebabkan  karena  tidak  memiliki  kompetensi  berbahasa yang memadai. Kompetensi  yang  dimaksud  di  sini  adalah  kemampuan  pembicara  atau  penulis  untuk  melahirkan  bahasa  sesuai  dengan  kaidah  bahasa  yang  digunakannya.  Karena  bahasa  yang  dihasilkan  berwujud  kata,  kalimat  dan  makna,  maka  kesalahan  yang  perlu  dianalisis  mencakup pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.
Kontak bahasa yang terjadi dalam diri dwibahasawan menyebabkan saling berpengaruh antara bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2). Penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lain disebut transfer. Bila transfer sistem itu bersamaan, mendukung dan memudahkan pada penggunaan bahasa, itu disebut transfer positif (fasilitasi). Bila itu tidak mendukung dan memberikan kesulitan atau bertentangan, maka itu disebut transfer negatif. Akibat transfer negatif, pembelajar (siswa) mendapat kesulitan dalam belajar bahasa (B2) dan sekaligus menjadi sumber kesalahan dalam berbahasa (B2). Transfer negatif lebih dikenal dengan istilah interferensi, yakni: penggunaan sistem bahasa pertama (B1) dalam penggunaan bahasa kedua (B2), dan sistem tersebut tidak terdapat atau tidak sama dalam bahasa itu. Analisis kesalahan berbahasa adalah cara untuk mendeskripsikan fenomena kesalahan dalam bahasa kedua (B2) atau bahasa setelah bahasa pertama (B1).
2.1.1 Kategori Kesalahan Berbahasa
Kesalahan Interferensi dan bukan Interferensi (Interlingual>< Intralingual)
Kesalahan Interlingual adalah kesalahan yang mengacu pada pengaruh negatif terhadap BT. Sedangkan, kesalahan Intralingual adalah kesalahan dalam perkembangan pemerolehan BTakibat kesulitan pelajar BT dalam bahasa asing itu sendiri.Adapun sumber kesalahan itu menurut Richard adalah:
Generalisasi yang terlalu luas (over generalization) terjadi karena penerapan dan struktur (BT dan BS) menjadi satu.
Tidak mengetahui batas-batas suatu kaidah (Ignorance of Rule restriction) penerapan kaidah yang salah.
Penerapan kaidah yang kurang lengkap akibat kesulitan penerapan penggunaan struktur atau kaidah tertentu.
Kesalahan pembuatan kesimpulan konsep-konsep disebabkan interferensi yang salah tentang nuansa perbedaan dalam BT dan penyajian guru yang kurang tepat.
Kesalahan karena ketidakbenaran unsur-unsur bahasa mikrolinguistik dan interpretasi makrolinguistik.
Kesalahan dalam mikrolinguistik adalah:
Kesalahan fonologi
Kesalahan morfologi
Kesalahan kosakata,  biasanya penggunaan istilah bukan pada tempatnya (error approprianteness) yang dibagi ke dalam 4 macam yaitu:
Kesalahan referensi
Kesalahan register
Kesalahan sosial
Kesalahan struktur
Kesalahan dalam makrolinguistik yaitu kesalahan yang disebabkan oleh unsur-unsur yang tidak benar interpretasinya dalam tataran makro, contohnya interpretasi budaya silang.


Kesalahan yang mendarah-daging (fossilized errors) bagi orang-orang tertentu.
Kesalahan ini sukar dihapus karena digunakan bertahun-tahun oleh pelajar BT. Hal ini berkaitan dengan usia siswa, seperti “Saya pulang daripada surabaya”
Kesalahan global dan kesalahan lokal.
Kesalahan global adalah kesalahan linguistik yang menyebabkan penutur BT salah menafsirkan pesan atau pesan tersebut kurang dimengerti dalam konteks tekstual tersebut.
Kesalahan lokal adalah kesalahan linguistik secara gramatikal tetapi tidak menyebabkan kesalahan penafsiran makna penutur asli.
Kesalahan ini dibagi menjadi 4 macam yaitu antara lain:
Kesalahan global leksikal dan lokal leksikal, akibat kurang lengkapnyakompetensi BT.
Kesalahan global morfologis dan lokal morfologis.
Kesalahan global sintaksis& lokal sintaksis.
Kesalahan global ortografis dan lokal ortografis

2.1.2 Tujuan Analisis Kesalahan Berbahasa
Analisis kesalahan berbahasa bukanlah semata-mata harus dihindari, melainkan fenomena yang dapat dipelajari. Oleh karena itu, analisis kesalahan berbahasa memiliki tujuan yang mulia, antara lain:
Sebagai umpan balik (feedback) bagi guru dalam menentukan tujuan, bahanajar, prosedur pengajaran serta penilaian yang sudah dilaksanakannya.
Sebagai bukti bagi peneliti (penelitian) dalam mengetahui anak didik  memperoleh dan mempelajari bahasa.
Sebagai input (masukan) penentuan sumber atau tataran unsur-unsurkesalahan berbahasa pada anak didik dalam proses pemerolehan danpembelajaran bahasa (B2).

Hakikat Kata Kerja (الفعل)dalam Kaidah Morfologi Arab
Kata kerja (الفعل)adalah setiap kata yang menunjukkan terjadinya suatu kegiatan dalam waktu tertentu.Kata kerja (الفعل)digunakan untuk menerangkan subjek atau sesuatu yang dibicarakan.Kata kerja (الفعل)di dalam kaidah morfologi terbagi menjadi tujuh macam, yaitu antara lain:
Kata kerja (الفعل)ditinjau dari bangunan huruf akhirnya.
Kata kerja (الفعل)ditinjau dari bangunan huruf akhirnya terbagi menjadi 2, yaitu:
الفعل الصحيحyaitu kata kerja (الفعل)yang pada huruf aslinya tidak ada huruf illat (ا, و, ي). الفعل الصحيحterbagi menjadi 3, yaitu المهموز، المضعّف، السالم.
الفعل المعتل yaitu kata kerja (الفعل)yang pada huruf aslinya ada huruf illat (ا, و, ي). الفعل المعتلterbagi menjadi 5, yaitu المثال، الأجوف، الناقص، لفيف مفروق، لفيف مقرون.

Kata kerja (الفعل)ditinjau dari penyusunannya.
Kata kerja (الفعل)ditinjau dari penyusunannya  terbagi menjadi 2, yaitu:
الفعل المجرّدyaitu kata kerja (الفعل) yang semua huruf penyusunannya asli. الفعل المجرّدterbagi menjadi 2, yaitu الفعل المجرّد الثلاثي dan الفعل المجرّد الرباعي .
الفعل المزيد yaitu kata kerja (الفعل) yang ditambahkan pada huruf aslinya 1, 2, atau 3 huruf. الفعل المزيدterbagi menjadi 2, yaitu الفعل المزيد الثلاثي dan الفعل المزيد الرباعي.

Kata kerja (الفعل) ditinjau dari waktu kejadiannya.
Kata kerja (الفعل) ditinjau dari waktu kejadiannya terbagi menjadi 3, yaitu:
الفعل الماضيyaitu kata kerja (الفعل) yang menunjukkan kejadian di waktu lampaudan menunjukkan arti “telah….”.
الفعل المضارعyaitu kata kerja (الفعل) yang menunjukkan kejadian pada waktu berbicara atau yang akan datang dan menunjukkan arti “sedang…..”atau“akan…..”.
فعل الأمر yaitu kata kerja (الفعل) yang menuntut pelaksanaan perintah setelah waktu pembicaraan.

Kata kerja (الفعل) ditinjau dari objeknya.
Kata kerja (الفعل) ditinjau dari objeknya terbagi menjadi 2, yaitu:
الفعل اللازمyaitu kata kerja (الفعل) yang tidak membutuhkan objek.
الفعل المتعدّيyaitu kata kerja (الفعل) yang membutuhkan objek.

Kata kerja (الفعل) ditinjau dari subjeknya.
Kata kerja (الفعل)ditinjau dari subjeknya terbagi menjadi 2, yaitu:
الفعل المبنيّ للمعلومyaitu kata kerja (الفعل)yang diketahui pelakunya.
الفعل المبنيّ للمجهولyaitu kata kerja (الفعل) yang tidak diketahui pelakunya.

Kata kerja (الفعل) ditinjau dari tashrifnya.
Kata kerja (الفعل) ditinjau dari tashrifnya terbagi menjadi 2, yaitu:
الفعل الجامدyaitu kata kerja (الفعل) yang tidak bisa diubah ke kata kerja (الفعل)lain.
الفعل المتصرفyaitu kata kerja (الفعل) yang bisa diubah ke kata kerja (الفعل)lain.

Kata kerja (الفعل) ditinjau dari perubahannya.
Kata kerja (الفعل) ditinjau dari perubahannya terbagi menjadi 2, yaitu:
الفعل المبنيّyaitu kata kerja (الفعل) yang bentuknya tetap meskipun kemasukan ‘amil.
الفعل المعرب yaitu kata kerja (الفعل) yang bentuknya berubah karena kemasukan ‘amil.

Hakikat Kata Kerja (الفعل)dari Segi Waktu
Kata kerja (الفعل) ditinjau dari segi waktu terbagi menjadi 3, yaitu:
الفعل الماضي yaitu kata kerja (الفعل) yang menunjukkan kejadian di waktu lampau, dan menunjukkan arti “telah…..”.
Perubahan bentuk dalamالفعل الماضيadalah sebagai berikut
الْمُتَكَلِّمُ
(orang pertama atau orang yang berbicara)
نَحْنُ أَنَا
kita, kami saya, aku
نَصَرْنَا نَصَرْتُ





الْمُخَاطَبُ
(orang kedua atau orang yang diajak bicara)
أَنْتُنَّ أَنْتُمَا أَنْتِ أَنْتُمْ أَنْتُمَا أَنْتَ
kamu perempuan jamak kamu perempuan ganda kamu perempuan tunggal kamu laki-laki jamak kamu laki-laki ganda kamu laki-laki tunggal

نَصَرْتُنَّ نَصَرْتُمَا نَصَرْتِ نَصَرْتُمْ نَصَرْتُمَا نَصَرْتَ




الْغَائِبُ
(orang ketiga atau orang yang dibicarakan)
هُنَّ هُمَا هِيَ هُمْ هُمَا هُوَ
mereka perempuan jamak mereka perempuan ganda dia perempuan tunggal mereka laki-laki jamak mereka laki-laki ganda dia laki-laki tunggal

نَصَرْنَ نَصَرَتَا نَصَرَتْ نَصَرُوْا نَصَرَا نَصَرَ

Keterangan:
Kata ganti yang bersambung pada fi’il madhi
(ضمائر الرفع المتصلة بالأفعال الماضية )              adalah:
التاء المتحركة terdapat 7 buah, yaitu نَصَرْتُ ، نَصَرْتَ ، نَصَرْتُمَا  نَصَرْتُمْ، نَصَرْتِ ، نَصَرْتُمَا ، نَصَرْتُنَّ
ألف الاثنين terdapat 2 buah, yaituنَصَرَا ، نَصَرَتَا
واو الجماعة  terdapat hanya sebuah, yaitu نَصَرُوْا
نون النسوة terdapat hanya sebuah, yaitu نَصَرْنَ
نا "فاعل"  terdapat hanya sebuah, yaitu نَصَرْنَا

Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il pada fi’il madhi
ضمائر الرفع المستترة بالأفعال الماضية   adalah :
Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il yang kedudukannya “dia laki-laki tunggal” ضمير مستتر تقديره "هو"terdapat hanya sebuah, yaitu نَصَرَ
Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il yang kedudukannya “dia perempuan tunggal” ضمير مستتر تقديره "هي"terdapat hanya sebuah, yaituنَصَرَتْ

الفعل المضارعyaitu kata kerja (الفعل) yang menunjukkan kejadian pada waktu berbicara atau yang akan datang dan menunjukkan arti “sedang…..” atau “akan…..”.
Perubahan bentuk dalam الفعل المضارع adalah sebagai berikut
الْمُتَكَلِّمُ
(orang pertama atau orang yang berbicara)
نَحْنُ أَنَا
kita, kami saya, aku
نَنْصُرُ أَنْصُرُ





الْمُخَاطَبُ
(orang kedua atau orang yang diajak bicara)
أَنْتُنَّ أَنْتُمَا أَنْتِ أَنْتُمْ أَنْتُمَا أَنْتَ
kamu perempuan jamak kamu perempuan ganda kamu perempuan tunggal kamu laki-laki jamak kamu laki-laki ganda kamu laki-laki tunggal

تَنْصُرْنَ تَنْصُرَانِ تَنْصُرِيْنَ تَنْصُرُوْنَ تَنْصُرَانِ تَنْصُرُ
الْغَائِبُ
(orang ketiga atau orang yang dibicarakan)
هُنَّ هُمَا هِيَ هُمْ هُمَا هُوَ
mereka perempuan jamak mereka perempuan ganda dia perempuan tunggal mereka laki-laki jamak mereka laki-laki ganda dia laki-laki tunggal

يَنْصُرْنَ تَنْصُرَانِ تَنْصُرُ يَنْصُرُوْنَ يَنْصُرَانِ يَنْصُرُ

Keterangan:
Kata ganti yang bersambung pada fi’il mudhari
(ضمائر الرفع المتصلة بالأفعال المضارعة )              adalah:
ألف الاثنين terdapat 4 buah, yaitu تَنْصُرَانِ ، تَنْصُرَانِ  يَنْصُرَانِ ، تَنْصُرَانِ
واو الجماعة terdapat 2 buah, yaitu تَنْصُرُوْنَ ، يَنْصُرُوْنَ
نون النسوةterdapat 2 buah, yaitu تَنْصُرْنَ ، يَنْصُرْنَ
الياء المخاطبةterdapat hanya sebuah, yaitu تَنْصُرِيْنَ

Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il pada fi’il mudhari (ضمائر  الرفع المستترة بالأفعال المضارعة )  adalah:
Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il yang kedudukannya “dia laki-laki tunggal” (ضمير مستتر تقديره "هو") terdapat hanya sebuah, yaituيَنْصُرُ
Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il yang kedudukannya “dia perempuan tunggal” (ضمير مستتر تقديره "هي") terdapat hanya sebuah, yaituتَنْصُرُ
Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il yang kedudukannya “saya/aku” (ضمير مستتر تقديره "أنا") terdapat hanya sebuah, yaitu أَنْصُرُ
Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il yang kedudukannya “kita/kami” (ضمير مستتر تقديره "نحن") terdapat hanya sebuah, yaituنَنْصُرُ
Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il yang kedudukannya “kamu laki-laki tunggal” (ضمير مستتر تقديره "أَنْتَ") terdapat hanya sebuah, yaituتَنْصُرُ

فعل الأمرyaitu kata kerja (الفعل) yang menuntut pelaksanaan perintah setelah waktu pembicaraan.
الْمُتَكَلِّمُ
(orang pertama atau orang yang berbicara)
نَحْنُ أَنَا
kita, kami saya, aku
X X


الْمُخَاطَبُ
(orang kedua atau orang yang diajak bicara)
أَنْتُنَّ أَنْتُمَا أَنْتِ أَنْتُمْ أَنْتُمَا أَنْتَ
kamu perempuan jamak kamu perempuan ganda kamu perempuan tunggal kamu laki-laki jamak kamu laki-laki ganda kamu laki-laki tunggal

اُنْصُرْنَ اُنْصُرَا اُنْصُرِيْ اُنْصُرُوْا اُنْصُرَا اُنْصُرْ



الْغَائِبُ
(orang ketiga atau orang yang dibicarakan)
هُنَّ هُمَا هِيَ هُمْ هُمَا هُوَ
mereka perempuan jamak mereka perempuan ganda dia perempuan tunggal mereka laki-laki jamak mereka laki-laki ganda dia laki-laki tunggal

X X X X X X









Keterangan:
Kata ganti yang bersambung pada fi’il ‘amr
(ضمائر الرفع المتصلة بالأفعال الأمر )                adalah:
ألف الاثنين terdapat 2 buah, yaitu اُنْصُرَا ، اُنْصُرَا
واو الجماعة terdapat hanya sebuah, yaituاُنْصُرُوْا
نون النسوة  terdapat hanya sebuah, yaituاُنْصُرْنَ
الياء المخاطبةterdapat hanya sebuah, yaituاُنْصُرِيْ

Kata ganti yang tersimpan dalam fi’il pada fi’il ‘amr
 ضمائر الرفع المستترة بأفعال الأمر adalah kata ganti yang tersimpan dalam fi’il yang kedudukannya “kamu laki-laki tunggal” (ضمير مستتر تقديره "اَنْتَ") terdapat hanya sebuah, yaitu اُنْصُرْ











BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini akan dipaparkan mengenai tujuan penelitian, tempat dan waktu penelitian, metode penelitian, populasi dan sampel, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, serta kisi-kisi soal.

Tujuan Penelitian
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai bentuk- bentuk kesalahan, besar prosentase kesalahan, dan faktor penyebab kesalahan dalam menentukan kata kerja dari segi waktu yang sesuai dengan kata gantinya yang dilakukan oleh siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al-Wathoniyah 14 Rorotan, JakartaUtara.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Al-Wathoniyah 14 Rorotan, Jakarta Utara dan waktu yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah sejak tanggal 13-16 Mei tahun 2013.

Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif berupa analisis kesalahan. Pertama-tama kesalahan dikumpulkan, lalu  diidentifikasi, kemudian diklasifikasikan dan diprosentasekan data-data kesalahan dalam penentuan kata kerja dari segi waktu yang sesuai dengan kata gantinya, kemudian dianalisis.

Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas XI Madrasah Aliyah Al-Wathoniyah 14 Rorotan, Jakarta Utara.Sedangkan sampel yang digunakan adalah sebanyak 10 orang.


Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Mengumpulkan data berupa hasil tes siswa.
Mencari dan mendeskripsikan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam setiap jawaban.
Mencatat kesalahan-kesalahan yang ditemukan.
Mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan dalam setiap kelompok jenis kesalahan yang telah ditentukan.
Menghitung frekuensi dan prosentase kesalahan tersebut.

Kisi-kisi Soal
No Unit Kompetensi Dasar Indikator Jumlah Soal
1 Memahami الفعل الماضي  sesuai dengan kata gantinya Menentukan الفعل الماضي  dengan menggunakan ضمير مستتر تقديره هو 1 buah (butir soal nomor 11)

  Menentukan  الفعل الماضي dengan menggunakan  ضمير مستتر تقديره هي 1 buah (butir soal nomor 1)

  Menentukan الفعل الماضي dengan menggunakan ضمير الرفع المتصل بألف الاثنين للمخاطبَيْن 1 buah (butir soal nomor 2)

  Menentukan  الفعل الماضي dengan menggunakanضمير الرفع المتصل بالتاء المتحركة للمخاطبات 1 buah (butir soal nomor 3)

  Menentukan  الفعل الماضي dengan menggunakan  ضمير الرفع المتصل بواو الجماعة للمخاطبِين 1 buah (butir soal nomor 4)

2 Memahami الفعل المضارع  sesuai dengan kata gantinya Menentukan الفعل المضارع dengan menggunakan ضمير الرفع المتصل بألف الاثنين للمخاطبتَين 1 buah (butir soal nomor 5)

  Menentukan  الفعل المضارع dengan menggunakan ضمير مستتر تقديره أنا 1 buah (butir soal nomor 6)

  Menentukan  الفعل المضارع dengan menggunakan ضمير الرفع المتصل بنون النسوة للغائبات 1 buah (butir soal nomor 7)

  Menentukan الفعل المضارع dengan menggunakan ضمير مستتر تقديره نحن 1 buah (butir soal nomor 12)

  Menentukan  الفعل المضارع dengan menggunakan ضمير مستتر تقديره هي 1 buah (butir soal nomor 13)

3 Memahami فعل الأمرsesuai dengan kata gantinya Menentukan فعل الأمر dengan menggunakan ضمير مستتر تقديره اَنْتَ 1 buah (butir soal nomor 8)

  Menentukan فعل الأمر dengan menggunakan ضمير الرفع المتصل بألف الاثنين للمخاطبتين و للمخاطبَيْن 2 buah (butir soal nomor 9  dan 15)

  Menentukan فعل الأمر  dengan menggunakan ضمير الرفع المتصل بواو الجماعة للمخاطبِيْنَ 1 buah (butir soal nomor 10)

  Menentukan فعل الأمر dengan menggunakan ضمير الرفع المتصل بالياء المخاطبة 1 buah (butir soal nomor 14)


Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa angket soal (teks).Instrumen penelitian berjumlah 15 butir soal.




























































BAB  IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Data Kesalahan
Instrumen penelitian ini berjumlah 15 butir soal yang merupakan angket soal berbahasa Arab dan sampel penelitian berjumlah 10 orang siswa. Jadi jumlah keseluruhan soal yang dikerjakan oleh siswa adalah 150 butir soal. Dari jumlah 150 butir soal ditemukan beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa.
Jumlah dan prosentase kesalahan yang dilakukan siswa dalam menentukan kata kerja sesuai dengan kata gantinya adalah sebagai berikut:
Butir Soal
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 ∑ Betul per siswa ∑ Salah per siswa
Responden
A 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 12 3
B 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 8 7
C 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 7 8
D 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 9 6
E 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 14 1
F 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 10 5
G 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 11 4
H 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 0 5 10
I 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 13 2
J 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 9 6
∑Betul per butir soal 4 7 8 8 3 9 5 8 8 6 9 7 8 5 3 98 52
∑Salahper butir soal 6 3 2 2 7 1 5 2 2 4 1 3 2 5 7

Adapun untuk menentukan persentase dari setiap jenis kesalahan yang ada, menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:
P :  prosentase kesalahan yang dicari
  :  jumlah kesalahan yang dialami siswa
  :  jumlah ketidaksalahan yang dialami siswa
Tingkat prosentase kesalahan:
0%   P < 20% : sangat rendah
20%     P < 40% : rendah
40%     P < 60% : sedang
60%       P < 80% : tinggi
80%     P < 100% : sangat tinggi

Jumlah dan prosentase kesalahan siswa dalam menentukan kata kerja yang sesuai dengan kata gantinya. Berikut tabel prosentase kesalahan
Responden ∑ Jawaban Betul ∑ Jawaban Salah ∑ Betul + ∑ Salah Prosentase Kesalahan Tingkat Prosentase Kesalahan

A 12 3 15 20% Rendah
B 8 7 15 47% Sedang
C 7 8 15 54% Sedang
D 9 6 15 40% Sedang
E 14 1 15 7% Sangat Rendah
F 10 5 15 34% Rendah
G 11 4 15 27% Rendah
H 5 10 15 67% Tinggi
I 13 2 15 14% Sangat Rendah
J 9 6 15 40% Sedang
Jumlah 98 52 150 35% Rendah

Keterangan :
Dari tabel di atas dapat diketahui terdapat 150 jawaban siswa yang terdiri dari 98 jawaban yang benar dan 52 jawaban yang salah. Oleh karena itu, dapat ditentukan prosentase kesalahan dari total keseluruhan siswa yaitu 35% yang berada pada tingkat prosentase kesalahan Rendah.   Dan kesalahan tertinggi siswa terdapat pada siswa H yang berada pada  tingkat prosentase kesalahan 67% (Tinggi) dengan jumlah jawaban salah sebanyak 10 butir soal dari 15 butir soal, sedangkan kesalahan terendah siswa terdapat pada siswa E yang berada pada tingkat prosentase kesalahan  7% (Sangat Rendah) dengan jumlah jawaban salah sebanyak 1 butir soal dari 15 butir soal.

Hasil Analisis Data
Penyajian bentuk-bentuk kesalahan dalam memahami kata kerja sesuai dengan bentuk kata gantinya akan diuraikan menurut kategori kesalahannya terdiri dari:
No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

1 Penggunaanضمير مستتر تقديره هي di dalam  الفعل الماضي nomor 1 أكَلَتْ أكَلْتِ 6


Total Kesalahan 6
Prosentase Kesalahan 60%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

2 Penggunaanضمير الرفع المتصل بألف الاثنين للمخاطبَيْنِ di dalam الفعل الماضي nomor 2 ذَهَبَا ذَهَبْنَا 3


Total Kesalahan 3
Prosentase Kesalahan 30%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

3 Penggunaan ضمير الرفع المتصل بالتاء المتحركة للمخاطبات di dalam الفعل الماضي nomor 3 كَتَبْتُنَّ كَتَبْنَ 2


Total Kesalahan 2
Prosentase Kesalahan 20%




No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

4 Penggunaan ضمير الرفع المتصل بواو الجماعة للمخاطبين  di dalam الفعل الماضي nomor 4 دَخَلُوْا دَخَلْتُمْ 2


Total Kesalahan 2
Prosentase Kesalahan 20%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

5 Penggunaan ضمير مستتر تقديره هو  di dalam الفعل الماضي nomor 11 الأبُ قَرَأ الْجَرِيْدَةَ الأبُ قَرَأتْ الْجَرِيْدَةَ 1


Total Kesalahan 1
Prosentase Kesalahan 10%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

6 Penggunaan ضمير الرفع المتصل بألف الاثنين للغائبتين di dalam الفعل المضارع nomor 5 تَشْرَبَانِ يَشْرَبَانِ 7


Total Kesalahan 7
Prosentase Kesalahan 70%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

7 Penggunaan ضمير مستتر تقديره أنا di dalam الفعل المضارع nomor 6 أجْلِسُ يَجْلِسُ 1


Total Kesalahan 1
Prosentase Kesalahan 10%


No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

8 Penggunaan ضمير الرفع المتصل بنون النسوة للغائبات di dalam الفعل المضارع nomor 7 يَفْهَمْنَ تَفْهَمِيْنَ 5


Total Kesalahan 5
Prosentase Kesalahan 50%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

9 Penggunaan ضمير مستتر تقديره نحن di dalam الفعل المضارع nomor 12 نَحْنُ نَلْعَبُ كُرَّةَ الْقَدَمِ نَحْنُ تَلْعَبُ كُرَّةَ الْقَدَمِ 3


Total Kesalahan 3
Prosentase Kesalahan 30%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

10 Penggunaan ضمير مستتر تقديره هي di dalam الفعل المضارع nomor 13 زَيْنَبُ تَدْخُلُ الْفَصْلَ زَيْنَبُ يَدْخُلُ الْفَصْلَ 2


Total Kesalahan 2
Prosentase Kesalahan 20%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

11 Penggunaan ضمير مستتر تقديره اَنْتَ  di dalam فعل الأمر nomor 8 افْتَحْ افْتَحِيْ 2


Total Kesalahan 2
Prosentase Kesalahan 20%


No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

12 Penggunaan ضمير الرفع المتصل بألف الاثنين للمخاطبَيْنِ di dalam فعل الأمر nomor 9 & 15 افْهَمَا افْهَمْنَ 2
يَا زَيْد وَ حَسَن اُنْصُرَا الضُّعَفَاءَ ! يَا زَيْد وَ حَسَن اُنْصُرُوا الضُّعَفَاءَ ! 7

Total Kesalahan 9
Prosentase Kesalahan 90%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

13 Penggunaan ضمير الرفع المتصل بواو الجماعة للمخاطبِيْنَ di dalam فعل الأمر nomor 10 انْطِقُوْا انْطِقْ 4


Total Kesalahan 4
Prosentase Kesalahan 40%

No. Kategori Kesalahan Butir Soal Jawaban Benar Jawaban Salah Jumlah Kesalahan

14 Penggunaan ضمير الرفع المتصل بالياء المخاطبة di dalam فعل الأمر nomor 14 يَا عَائِشَة، اِطْبَخِيْ الْمَكْرُوْنَةَ ! يَا عَائِشَة، اِطْبَخْ الْمَكْرُوْنَةَ ! 5


Total Kesalahan 5
Prosentase Kesalahan 50%






4.3 Deskripsi Kesalahan
Setelah menganalisis data kesalahan di atas, dapat dirumuskan bahwa kesalahan yang terbanyak terdapat pada kategori penggunaan ضمير الرفع المتصل بألف الاثنين للمخاطبَيْنِ di dalam فعل الأمر dengan prosentase kesalahan sebanyak 90% (Sangat Tinggi).
Dan dapat dirumuskan pula bahwa penyebab dari kesalahan yang terjadi adalah kesalahan intralingual yaitu kesalahan yang disebabkan oleh kesulitan yang ada dalam bahasa target. Adapun sumber kesalahan itu adalah karena generalisasi yang terlalu luas (over generalization) terjadi karena penerapan dan struktur (BT dan BS) menjadi satu, siswa kurang memahami batas-batas suatu kaidah dan penerapan kaidahnya. Dan bisa juga dikarenakan kesalahan pembuatan kesimpulan konsep-konsep yang muncul akibat interferensi yang salah tentang nuansa perbedaan dalam BT, contohnya penyajian materi oleh guru yang kurang tepat. Sering kita menemukan di lembaga-lembaga bahasa Arab yang membelajarkan siswa dalam mentashrifkan kata kerja dari segi waktu secara salah, contohnya نَصَرَ – نَصَرَا – نَصَرُوْا – نَصَرَتْ – نَصَرَتَا – نَصَرْنَ hal itu akan membuat para siswa hanya bisa menghafal susunan tashrif  tersebut tanpa mengetahui konsep siapa pelakunya. Mungkin dengan mentashrifkan secara benar seperti contoh di bawah:
هُوَ نَصَرَ – هُمَا نَصَرَا – هُمْ نَصَرُوْا – هِيَ نَصَرَتْ – هُمَا نَصَرَتَا...
akan membuat siswa paham atas konsep siapa pelakunya di dalam kata kerja.








BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa total kesalahan yang dilakukan :52⁄150 x 100 =  35%. Untuk prosentase kesalahan sebesar 20%  P < 40% (taraf rendah) berarti siswa cukup mampu dalam menentukan kata ganti di dalam kata kerja dari segi waktu. Dan kategori kesalahan terbanyak terdapat pada penggunaanضمير الرفع المتصل بألف الاثنين للمخاطبَيْنِ di dalam فعل الأمر dengan prosentase kesalahan sebanyak 90% (Sangat Tinggi). Dan dapat disimpulkan bahwa penyebab kesalahan tersebut terjadi karena kesalahan intralingual yaitu kesalahan yang disebabkan oleh kesulitan yang terdapat dalam bahasa target.

Saran
Dari hasil penelitian diketahui bahwa masih kurangnya pemahaman siswa dalam menentukan kata ganti di dalam kata kerja dari segi waktu. Oleh karena itu, diharapkan para siswa lebih memahami konsep kata ganti di dalam kata kerja dan ketika mempelajari kaidah bahasa Arab maka jangan hanya memahami konsep kata kerjanya saja tetapi harus juga mengetahui siapa pelakunya dan perubahannya seperti apa.








DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian – Suatu Penden Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Munawari, Akhmad. 2008. Belajar Cepat Tata Bahasa Arab. Yogyakarta: Nurma Media Idea.
Nababan.1994. Analisis Kontrastif Dan Kesalahan Suatu Kajian Dari Sudut Pandang Guru Bahasa. Jakarta: Ikip Rawamangun.
Rasyid, Yumna. 2011. Al-fi’lu shighah wa ‘anwauhu.Jakarta: FBS UNJ.
Rofiq, Aunur. 2007. Ringkasan Kaidah-kaidah Bahasa Arab. Jawa Timur: Pustaka Al-Furqon

Read more...

KISAH KEAJAIBAN ADZAN

1 komentar

KISAH KEAJAIBAN ADZAN
Dering suara Hand Phone (HP) di malam nan sunyi membangunkan tidur Ustadz Abdurahman yang sedang beristirahat di rumahnya..

Saat itu jam menunjukkan pukul 10 malam,dilayar HP beliau Muncul nomor yang tidak dikenal..

Beliau sebenarnya tidak ingin mengangkatnya, namun karena beliau penasaran akhirnya beliau mengangkatnya dan mulai menyapa : Assalamu’alaikum, siapa ini..??

Kemudian penelpon itu menjawab : Wa’alaikumussalam, Ini Ahmad, ustadz, maaf saya mengganggu ustadz malam ini..

Ustadz, saya mohon datanglah kesini, saudara saya sedang kritis, dia baru saja kecelakaan dan dokternya mengatakan kalau dia sudah tidak bisa berbuat banyak, tolonglah kami ustadz..!!

Ustad Abdurrahman baru paham kalau yang menelpon barusan adalah salah seorang pengurus masjid besar Bully, New South Wales Australia..

Ustad Abdurrahman mengenal Ahmad karena di daerahnya, pengurus masjid terdaftar dengan rapi dan mendapat pengakuan dari pemerintah..

Mereka sering bertemu apabila ada acara Fun Raising, Ied Festival, bahkan acara-acara yang diadakan oleh pemerintah Australia..

Sejenak Ustad Abdurrahman bangun dari tempat tidurnya, Kemudian beliau bergegas berangkat setelah mendapatkan nomor kamar di sebuah Rumah Sakit dari si penelpon..

Assalamualaikum : sapanya ketika memasuki ruangan dimana Abdullah terbaring tak berdaya..

Perban serta bau obat meliputi disekujur tubuhnya..

Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah,Ustad,terimakasih atas kedatangannya, saya mohon ucapkanlah sesuatu untuk Abdullah, dokter sudah tidak mampu berbuat banyak dan mengatakan jika dia akan meninggat,tolong katakan sesuatu pada Abdullah : Pinta kakaknya dengan menangis..

Beliau memandang di sekitar ruangan itu telah ada beberapa keluarga yang juga menangis..

Baik, saya akan mencoba bercakap-cakap dengannya, tolong jangan menangis disini karena hanya akan membuatnya tidak bisa berkata apa apa (sedih) : kata Ustad Abdurrahman..

Kemudian beliau mendekat ke tubuh Abdullah yang penuh dengan luka..

Di lihatnya sebuah sosok yang masih hidup, tetapi tidak bergerak sedikitpun, bahkan menggerakkan bibir dan mengedipkan mata saja ia tak mampu..

Kemudian Ustad Abdurrahman duduk tepat disebelah kanan kepala Abdullah, sehingga memungkinkan beliau untuk berbicara ditelinga Abdullah dengan jarak paling dekat..

Sejenak Beliau berdoa dan kemudian menggenggam lemah tangan Abdullah..

Assalamu’alaikum saudaraku, saya Ustad Abdurrahman dari Wollongong..

Saudaraku, saya datang kesini untuk menemuimu, saya tahu kamu adalah muslim yang baik, kamu telah menolong ALLAH untuk mengumandangkan adzan setiap hari di masjid..

Kamu mengingatkan orang-orang untuk sholat di masjid, saya yakin kalau ALLAH dan semua orang menyayangi kamu, ALLAH akan menolong kamu, DIA akan memberimu kesehatan dan kebahagiaan..

Saudaraku, kami masih ingin mendengar engkau mengumandangkan adzan dimasjid, dapatkah engkau melakukannya, ALLAH akan menyukainya, Tolong engkau kumandangkan adzan untuk kami..

Sejenak terlihat airmata keluar dari kedua matanya dan menetes melewati pipi Abdullah..

Tak berapa lama kelopak matanya bergerak-gerak perlahan, kemudian matanya membuka sedikit demi sedikit..

Bibirnyapun kemudian bergerak- gerak perlahan, seolah ia berusaha untuk mengumandangkan adzan..

Ustad Abdurrahman memandang wajah Abdullah dengan tersenyum : Alhamdulillah,teruskan saudaraku, kumandangkan adzan untuk kami..Dan.. SubhanALLAH, secara tidak diduga monitor alat pendeteksi jantung yang dipasangkan di tubuh Abdullah menunjukkan kerja jantung yang berangsur-angsur normal, itu menunjukkan jika Abdulloh telah melewati masa kritisnya..

Ahmad yang mengetahui hal itu kemudian melakukan sujud syukur di dalam ruangan itu, kemudian diikuti saudaranya yang lain..

Ahmad memeluk Ustad Abdurrahman dan berkali-kali mengucapkan terima kasih..

Tak berapa lama Sang Dokter muncul kembali dan mengecek kesehatan Abdullah..

Seraya bertanya : Apa yang terjadi..??

Apa yang telah kamu berikan kepadanya..?? Ia bertanya kepada Ahmad yang berada di dekatnya..

“Adzan” Jawab Ahmad dengan tersenyum.

Adzan..?? Apakah adzan yang telah menyembuhkannya..??

Tanya sang dokter kepada Ustad Abdurrahman yang juga masih berada disitu..

Ya, ALLAH menyembuhkannya dengan Adzan : jawab Ustad Abdurrahman dengan tersenyum pula..

Sang dokter yang bukan muslim tersebut semakin terheran-heran, kemudian ia mengangguk-angguk, ikut tersenyum dan berkata kepada Ustad Abdurrahman : Suatu hari saya ingin bertanya kepadamu tentang Adzan, tolong beri aku nomer yang bisa dihubungi, katanya..

Dengan senang hati dokter : jawab Ustad Abdurrahman penuh keyakinan..

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada ALLAH, mengerjakan amal saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri..

(QS.Fushshilat: 33)

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) ALLAH, niscaya DIA akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

(QS. Muhammad [47] : 7)

Maha Benar ALLAH, Dengan Segala Firman-NYA.

Subhanallah...

Semoga kisah ini menjadi Ikhtibar dan pengajaran buat kita semua. Aamiin.
Read more...