Banner 468 x 60px

 

Senin, 30 Agustus 2021

TELADAN KH. IMAM ZARKASYI

0 komentar

 TELADAN KH. IMAM ZARKASYI

Teladan 1:

Beliau keturunan Rasulullah tetapi tidak mau diberi gelar habib, sayyid maupun syarif. Beliau meminta supaya dipanggil Pak Zar. Beliau selalu mengajarkan bahwa kemuliaan itu karena seberapa besar perjuangan dan pengorbanan untuk agama, bukan karena keturunan.

Teladan 2:

Beliau keturunan 2 wali sekaligus: Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) dan Raden Rahmat (Sunan Ampel), namun beliau tidak pernah menyebutnya.

Teladan 3:

Beliau keturunan raja Cirebon, namun tidak pernah berbangga diri dan menyebut-nyebut sebagai keturunan ningrat.

Teladan 4:

Beliau mewakafkan tanahnya total 16 hektar untuk perjuangan agama, padahal ekonomi keluarga waktu itu sangat sulit. Untuk menghidupi keluarga dengan menulis dan jualan buku setelah tanah habis diwakafkan.

Teladan 5: 

Saya pernah mendengar dari Pak Shoiman Luqmanul Hakim bahwa Pak Zar (panggilan untuk K.H. Imam Zarkasyi), selalu Shalat Tahajjud di tanah komplek pondok sehingga tidak ada jengkal tanah di Gontor yang tidak dishalattahajudi oleh beliau. Hal ini saya ceritakan kepada Pak Aman Nasution, komentar Pak Aman, "Iya benar, saya pernah mengontrol tengah malam, tiba-tiba saya lihat ada bayangan di atas tumpukan batu-batu di area Gedung Saudi sekarang, Pak Aman langsung bertanya, "Ini malaikat atau nanusia?!", Sambil teriak, tiba-tiba bayangan tadi nenjawab, "Aman, ini aku". Benar ternyata bayangan yang di atas tumpukan batu itu adalah Pak Zar yang sedang shalat tahajjud.

Teladan 6:

Rabithah al-‘Alam al-Islamy memberi bantuan kepada pondok sekian juta, dan juga kepada pribadi Pak Zar, tetapi bantuan uang yang seharusnya untuk pribadi beliau tersebut semuanya oleh Pak Zar diberikan ke pondok.

Teladan 7:

Sewaktu Pak Zar ditawari Pak Harto untuk menjadi Menteri Agama, jawaban Pak Zar, "Yang mau jadi menteri banyak, yang mau jadi kiai sedikit, maka saya memilih jadi kiai saja." Namun murid beliau yang menteri agama: Luqman Hakim Saifuddin dan KH. Maftuch Basyuni (Kakak Ipar KH. Musthofa Bisri/Gusmus). 

Teladan 8:

Pak Zar kalau hari Jumat akan berangkat ke masjid jam 10 pagi sewaktu santri main bola volley, dan balik dari masjid jam 3 sore sewaktu santri juga main volley sore.

Teladan 9:

Pak Zar kalau bersyukur biasanya shalat tahajud 100 rakaat, pernah saya ceritakan kepada Bu Mimien (putri beliau) dan Bu Mimien menyatakan, "Iya, sebab saya ditugasi untuk menghitung dengan lidi, satu lidi, satu rakaat."

Teladan 10:

Suatu hari Pak Chalid Raimin (staff pengasuhan) melihat Pak Zar membuat sendiri hanger dari kawat sewaktu akan menjemur pakaian. Biasanya Pak Zar menjemur pakaian seperti kaus dalam di depan rumah dekat pohon nangka. Cholid bertanya, "Pak Yai, Kenapa hangernya dibuat sendiri?", beliau menjawab, "Selagi masih bisa dibuat kenapa harus beli"

Teladan 11:

Sewaktu Pak Zar akan diberi doktor hanoris causa oleh IKIP Malang, beliau menjawab, "Murid saya sudah banyak jadi doktor, maka saya tidak perlu lagi."

Teladan 12:

Karena beliau orang yang zuhud dan wira’i betul selama hidup, ilmu, diri dan semua yang dimilikinya diserahkan total untuk perjuangan agama, maka segala titah dan doanya tidak main-main. Hal ini terbukti saat terjadi tragedi maret di Gontor, oknum yang terlibat ingin menjatuhkan beliau dan pesantren yang dipimpinnya semuanya tidak selamat. Ada yang mati kecelakaan, cacat, dan sebagainya.


Subhanallah... Sang pejuang sejati,


Sumber : Grup Whastapp

Read more...

Kamis, 17 September 2020

Membeli keringat Guru

0 komentar

 MEMBELI KERINGAT GURU


Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada gurunya,


Murid : "Jika memang benar para guru adalah orang-orang yang pintar, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang-orang kaya raya itu?


Gurunya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangan nya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan.


Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan  berkata : " Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram".


"Berapa harga emas seberat itu? "


Murid mengernyitkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia mejawab,


"Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 milyard rupiah,"


Guru : "Baik lah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga emas 5000 gram, adakah yang bersedia membelinya?"


Murid berkata : "Timbangan emas tidak lebih berharga dari emasnya, saya bisa mendapatkan timbangan tersebut dengan harga dibawah dua juta rupiah, mengapa harus membayar sampai 4 milyar?"


Guru menjawab : "Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasimu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar kemajuanmu. "


Guru berkata lagi, "Satu lagi pertanyaanku. Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian ditangan kanannya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : "Ditangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kananku ini, tanpa keringat ini tidak akan ada berlian, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian"


"Apakah ada yang mau membeli keringatnya? "


"Tentu tidak." Ujar guru lagi.


"Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru, menjadi keringat itu, dan kalianlah yang menjadi berliannya."


Sang murid menangis, ia memeluk gurunya dan berkata : "Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya kalian, terima kasih guru. Kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kemajuan kami, setiap kilau berlian kami, ada tetes keringatmu..."


Guru berkata : "Biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki disisi ilahi rabbi, karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak-pernik di dunia ini."


* Untuk semua guruku, termasuk guru ngajiku. Terima kasih atas segenap perjuanganmu yang telah mendidikku. Barakallahu....

Read more...

Jumat, 28 Februari 2020

Berobat dengan Air Liur dan Tanah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw

0 komentar
SUNNAH YANG DITINGGALKAN DAN TERLUPAKAN

Yaitu berobat dengan liur dan tanah, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu an'ha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila ingin meruqyah orang sakit beliau membasahi jari tangannya dengan liurnya kemudian membenamkannya kedalam tanah kemudian mengusap orang sakit tersebut dengan jari tangannya kemudian membaca:

 بِسْمِ اللهِ تربَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بإِذْنِ رَبِّنَا

Bismillaah, turbatu ardhinaa, biriiqoti ba'dhinaa, yusyfaa saqiimunaa, bi-idzni robbinaa.

_"Dengan nama Allah, ini adalah debu tanah kami, dengan liur sebagian kami sembuhlah orang sakit kami dengan izin Rabb kami"_. (Muttafaqun alaihi)

Berkata Ibnu Hajar: berkata Ibnul Qoyyim:

Tata cara ini orang yang mengingkarinya tidak dapat mengambil manfaat dengannya, tidak pula orang yang menghinanya atau orang yang melakukan dengan mencoba-coba tanpa meyakini. [Fathul bari (10/205)]
Read more...

Senin, 17 Februari 2020

APAKAH BUNGA HALAL KARENA ALASAN INFLASI ?

0 komentar
APAKAH BUNGA HALAL KARENA ALASAN INFLASI ?

Bagi sebagian dari kalangan ekonom, adanya unsur BUNGA dalam transaksi utang-piutang adalah sesuatu yang wajar, bahkan dapat dikatakan sebagai kompensasi yang ADIL.

Oleh karena itu, bunga yang muncul dalam utang-piutang itu dihukumi HALAL.

Bagaimana argumennya?

Argumennya, fakta perekonomian menunjukkan bahwa nilai uang itu selalu mengalami PENURUNAN.

Jumlah uang masa kini mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada jumlah yang sama pada masa yang akan datang.

Oleh karena itu, bunga itu perlu diberikan dalam utang-piutang sebagai kompensasi untuk mengimbangi penurunan nilai dari uang tersebut.

Dengan kata lain, bunga itu perlu diberikan untuk mengimbangi laju INFLASI yang mengakibatkan menyusutnya nilai uang tersebut.

Dengan demikian, bunga itu tidak bisa dikatakan sebagai TAMBAHAN atau MANFAAT yang diberikan atas jasa utang-piutang, sebagaimana Hadits Nabi SAW:
كل قرض جر منفعة فهو وجه من وجوه الربا
“Setiap pinjam-meminjam yang menghasilkan manfaat adalah salah satu cabang daripada riba” (HR. Baihaqi).

Mengapa bunga tidak dapat dikatakan sebagai tambahan atau manfaat dari utang-piutang?

Sebab, dengan adanya bunga itu justru membuat jumlah nilai utang pada masa sekarang menjadi SAMA dengan nilai pengembalian utang di masa yang akan datang.

Kesimpulannya, bunga tidak dapat disamakan dengan RIBA. Bunga yang diberikan itu justru akan membuat transaksi utang-piutang menjadi ADIL.

Sebaliknya, jika dalam utang-piutang itu tidak ada tambangan bunganya, justru akan membuat pihak yang menghutangi TERZALIMI.

Mengapa?

Sebab, jika nilai uang yang dikembalikan itu jumlahnya sama, berarti nilai uang dari pihak pemberi utang akan menurun.  Ini adalah kezaliman.

Maka, sebagian ekonom berpendapat bahwa bunga bank itu HALAL, karena untuk mengimbangi inflasi.

Apakah masih sulit untuk difahami?

Jika kita masih sulit untuk memahaminya, kita harus memahami apa yang dimaksud dengan INFLASI.

Secara sederhana, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum.

Kenaikan harga satu atau dua jenis barang saja dan tidak menyeret kenaikan harga barang-barang lain, tidak dapat disebut sebagai inflasi.

Demikian juga kenaikan harga secara musiman, sebagaimana yang terjadi pada hari-hari raya, tidak dapat disebut sebagai inflasi.

Dengan kata lain, inflasi adalah fenomena dimana jumlah uang yang beredar LEBIH BANYAK daripada jumlah barang dan jasa di pasar.

Inflasi ditunjukkan oleh penurunan nilai mata uang kertas (fiat money).

Contoh: uang Rp 100 ribu pada tahun 2009,  berbeda nilainya dengan uang Rp 100 ribu tahun 2019 sekarang.

Itulah sebabnya, menurut pendapat sebagian ekonom, adanya bunga dari utang-piutang adalah suatu kewajaran sebagai imbangan terjadinya inflasi.

Nah, bagaimana kita dapat menjawab pendapat di atas?

Untuk menjawab pendapat ini, kita dapat melihat dalam beberapa segi.

Pertama, pendapat ini tidak dapat diterima, karena pendapat ini hanya berdasarkan DALIL AQLI (logika), bukan berdasarkan DALIL SYAR’I (wahyu).

Berbicara hukum Islam, artinya adalah berbicara hukum berdasarkan wahyu Allah (Al Qur`an dan As Sunnah), bukan hukum berdasarkan akal manusia.

Ketentuan ini berdasarkan dalil-dalil yang mewajibkan bagi kita untuk mengikuti hukum wahyu dari Allah SWT, misalnya dalam QS Al Maidah: 48 dan 49, QS Al Maidah: 50, QS Al A’raf: 3 dll.

Kedua, sesungguhnya kebijakan negara mencetak uang kertas (fiat money) adalah sebuah kesalahan.

Mengapa?

Karena, uang kertas tidak mempunyai nilai intrinsik (nilai pada dirinya sendiri), sehingga menyebabkan terjadinya INFLASI yang terus menerus.

Seharusnya yang dicetak adalah uang berbasis LOGAM MULIA (dinar dan dirham) yang anti inflasi, sebagaimana yang telah ditentukan dalam sistem ekonomi Islam.

Pada zaman Nabi SAW, harga 1 ekor kambing adalah 1 dinar, di zaman sekarang harganya masih tetap 1 dinar.

Harga dari 1 ekor ayam di zaman Nabi SAW adalah 1 dirham. Harga 1 ekor ayam pada masa sekarang juga tetap 1 dirham.

Dengan demikian, dinar dan dirham selama 1400 tahun tetap STABIL,

tidak mengalami inflasi sama sekali.

Oleh karena itu, membolehkan riba untuk mengimbangi inflasi akibat merosotnya nilai uang kertas, itu adalah sama saja dengan mengoreksi kesalahan dengan membuat kesalahan baru, atau “MENGATASI MASALAH DENGAN MASALAH”.

Seperti halnya membersihkan kotoran (yang najis) pada baju dengan menggunakan darah (yang juga najis).

Seharusnya, membersihkan kotoran itu dengan menggunakan air mutlak yang suci, bukan menggunakan darah yang sama-sama najis. 

Ketiga, kita juga dapat melihat kenyataan bahwa dalam perekonomian itu tidak selalu mengalami inflasi.

Terkadang perekonomian bisa mengalami inflasi, terkadang juga mengalami kondisi yang sebaliknya, yaitu DEFLASI.

Jika pengambilan bunga yang bersifat tetap di depan itu dianggap adil, karena untuk mengimbangi terjadinya inflasi, maka hal itu tidak sesuai dengan fakta dalam perekonomian.

Sebab, dalam kondisi perekonomian mengalami deflasi, maka pengutang akan semakin terzalimi dengan keberadaan bunga tersebut.

Dari hasil uraian di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa keberadaan bunga sebagai kompensasi yang adil dari utang-piutang, sesungguhnya tidak sesuai dengan fakta dalam perekonomian.
Read more...

Tahun wafat nya Nabi Muhammad saw dan para sahabat dan para tabiin, tabiina tabiin..

0 komentar
Tahun wafat nya Nabi Muhammad saw dan para sahabat dan para tabiin, tabiina tabiin.
تاريخ وفاة عظماء الاسلام الذين يكثر السؤال عنهم :
محمد صلى الله عليه وسلم 11 هجري
أبو بكر الصديق 13 هجري
عمر بن الخطاب 23 هجري
عثمان بن عفان 35 هجري
علي بن أبي طالب 40 هجري
عائشة بنت أبي بكر 57 هجري
ابن عباس 68 هجري
 ابن عمر 73 هجري
سعيد بن المسيب 94 هجري
عمر بن عبد العزيز 101 هجري
الحسن البصري 110 هجري
أبو حنيفه 150هجري
مالك بن أنس 179 هجريه
الشافعي 204 هجري
 ابن راهويه 238 هجري
 أحمد بن حنبل 241 هجري
أحمد بن سعيد الدارمي 253 هجري
 عبد الله بن عبد الرحمن الدارمي 255 هجري 
 البخاري 256 هجري
 مسلم 261 هجري 
 ابن ماجه 273 هجري
 أبو داود 275 هجري
 الترمذي 279 هجري
عثمان بن سعيد الدارمي 280هجري
 النسائي 303 هجري
 ابن جرير الطبري 310 هجري
 ابن خزيمة 311 هجري
 ابن حبان 354 هجري
 الدارقطني 385 هجري 
 الحاكم 405 هجري 
 ابن حزم 456 هجري
 البيهقي 458 هجري 
 ابن عبد البر 463 هجري 
 الخطيب البغدادي 463 هجري 
 ابن العربي 543 هجري 
 ابن رشد الحفيد 595 هجري 
ابن الجوزي 597 هجري
 القرطبي صاحب تفسير الجامع لأحكام القرآن 671 هجري
النووي 676 هجري
 ابن تيمية 728 هجري
 الذهبي 748 هجري
 ابن القيم 751 هجري
 ابن كثير 774 هجري
 ابن رجب 795 هجري
 ابن حجر العسقلاني 852 هجري
 السيوطي 911 هجري
 الأمير الصنعاني 1182 هجري
محمد بن عبد الوهاب 1206 هجري
الشوكاني 1250 هجري
 الألوسي 1342 هجري
 ابن سعدي 1376 هجري
 الشنقيطي 1393 هجري
ابن باز 1419 هجري
 الألباني 1420 هجري
 ابن عثيمين 1421 هجري
مقبل بن هادي الوادعي 1422 هجري

 .. أرسلها للجميع
.. ثقف من حولك من هم 
.. عظماء الاسلام
Read more...

Jumat, 07 Februari 2020

Langkah-langkah agar Mutqin dalam ilmu (Tahdir dan Muzakarah)

0 komentar
Langkah-langkah agar mutqin dalam ilmu (Tahdir dan Muzakarah) 

________

Pada pertemuan pertama (01/02) Daurah Syarh kitab al-Yaqut an-Nafis bersama Syekh Musthafa Abdunnabi beliau menyampaikan nasehat yang begitu berharga sebelum masuk dalam pembahasan kitab yang akan beliau syarah. Sebelumnya beliau paparkan bahwa Daurah Fikih ini adalah 'Mukadimah' bagi daurah² atau dars² selanjutnya bersama beliau yang akan diadakan di Ruwaq Indonesia. Sehingganya siapapun yang ingin tetap melanjutkan dars dan berkomitmen bersama beliau musti harus menguatkan pondasinya semenjak dars pertama ini supaya nantinya mendapatkan keterangan syekh secara menyeluruh. 

Beliau memulai nasihatnya dengan mengatakan bahwa nasehat ini sebetulnya sudah berulang² saya sampaikan, yaitu ; "sebelum kalian mendatangi pelajaran maka wajib bagi kalian untuk mempersiapkannya sebelum itu (تحضير), jangan pernah mendatangi dars dalam keadaan kosong sama sekali".

Kalau ada yang menyanggah (i'tirad), ilmu kan di kitab syekh? Cukup kita baca kitab bersama antum? 
Memang ilmu di kitab, tapi terkadang kamu membacanya tapi tidak paham. Sampai² dikatakan :

إن نصف عالم أضر على الناس من جاهل

"setengah² alim itu lebih berbahaya dari orang bodoh sama sekali"

Kenapa demikian? Orang bodoh ketika ditanya akan mengatakan : "aku tidak tau!" urusan selesai. 
Tapi kalau setengah alim yang mengira dirinya sudah tau maka akan menyesatkan orang lain karena dia sendiri sesat (ضال مضل).
Oleh karenanya wajib kalian mempersiapkan sebelum datang ke majelis. 

........

Bagaimana cara persiapan (tahdir)? 
Begini, umpamanya dars kita adalah matan Yaqut Nafis, maka kalian persiapkan sekadar yang akan kita baca nanti. Karena setiap dars kita tidak akan baca kurang dari itu tapi kadang lebih. 

Bacanya dengan cara taanni, santai dan tidak tergesa-gesa dan diulang²ngi tiga, empat dan bahkan 10 kali. Sekalipun sedikit. Setelah itu lihat penjelasan yang ditulis muallif. Seandainya setelahnya kamu baca Syarh tertentu (spt Mu'nis al-Jalis) maka itu lebih baik lagi. 

Setelah rangkaian tahdir diatas kamu kerjakan, kamu pasti memahami banyak hal dan juga bingung atau belum paham sebagiannya. Bahkan malah pemahamanmu tidak benar, tidak sesuai dengan maksud dan tujuan muallif. Ini ada, sering kali terjadi. 

Maka ketika kalian menghadiri dars, kalian akan memberikan "perhatian khusus" ketika sampai pada penjelasan yang tidak kalian pahami dan dianggap ruwet sebelumnya. Sehingganya kalian akan paham secara komplit setelah itu. 

Tapi,,,, kalau kalian tidak persiapan terlebih dahulu, maka mungkin kalian akan tidur. Ini sering dan bahkan banyak terjadi. Dia berdalih 'aku suka tidur ketika dars'. Ini tentunya dari setan.
Muzakarah

Setelah selesai dars maka jangan tidur sebelum mengulang pelajaran. Kalau kalian tidur sebelum mengulanginya maka kalian telah menyia²kan usaha yang telah dimulai.*
*Seandainya memungkinkan maka baca syarh atau hasyiyah yang berkaitan dengan pembahasan kita, seperti Hasyiyah Bajuri, ini sangat rekomendasi. Dengan begitu akan kalian dapati lebih banyak dari yang telah kita pelajari.

Namun tidak berhenti sampai disitu, kalian usahakan untuk mentalkhis atau mentasyjir lalu dimuzakarahkan, kamu bacakan dan temanmu menyimak atau sebaliknya. Kalian tidak punya teman untuk muzakarah /mudarasah maka duduklah di depan dinding atau cermin, bermuzakrah lah sendiri.

Jika kalian melakukan seluruh nasihat yang aku sampaikan ini, aku JAMIN kalian akan mendapatkan pemahaman lebih dari yang dipelajari, atau bahkan kalian telah melewati 70% ronde dalam mendalami mazhab melalui matan kecil ini. 

Ya dengan matan kecil ini ! Karena fikih itu bagaikan kota. Umpamanya ada sebuah kota besar, maka untuk memasukinya musti melalui jalur pintu. Karenanya kalau kamu masuk melalui pintu ini dengan mudah, maka jalan setelah itu akan lebih mudah. Maka kitab Yaqut Nafis ini adalah diantara pintu-pintu fikih. Karena kitab-kitab yang setelahnya seperti minhaj ath-thalibin dan syarah-syarahnya adalah dibangun dengan semisal kitab ini. Seandainya kalian telah memahami asal, maka furu akan mudah bagi kalian.

Ada ungkapan :

الفقه بابه من حديد وباقيه من قصب

Fikih itu pintunya bagaikan besi, setelah itu bagaikan tebu.

Itulah sekelumit nasihat beliau ketika dars pertama. 

Oya bagi asâtidzah yang ingin mendengarkan dars beliau silakan bergabung dengan channel telegram dibawah ini, in syaa allah audio akan kita bagikan setiap selesai dars (Selasa, Rabu, Jumat dan Sabtu).
Adapun video in syaa allah akan menyusul. 

https://t.me/RekamanDaurahFikihYaqutNafis

حفظ الله تعالى معلمنا الشيخ مصطفى عبد النبي

http://t.me/sahabatmuhajirun
Read more...

Tangan Pencari Nafkah yang dicium oleh Rasulullah Salallahu alaihi wassalam

0 komentar
TANGAN PENCARI NAFKAH YANG DI CIUM OLEH RASULULLAH SAW

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari, seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitaman seperti lama terpanggang matahari.

ماهذا الذى اكتسبت يداك

Rasulullah bertanya, "Kenapa tanganmu ?"

يارسول الله اضرب بالمرو المسحاة فانفقه على عيالى

Sa’ad menjawab, "Wahai Rasulullah, tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah/batu dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku,"

هذه يد لا تمسها النار ابدا

Seketika itu, Rasulullah mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, "Inilah tangan yang tidak pernah tersentuh api neraka,"

Rasulullah SAW tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Kabilah, Raja atau siapapun.

Sejarah mencatat hanya putrinya Sayyidah Fatimah Az Zahra dan tangan Sa'ad si tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda pula :
“Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah.

Kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah.

Kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itupun fi sabilillah ”.

Hikmah dari kisah ini yaitu terdapat tanggung jawab seorang Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari dalam menafkahi anak dan istrinya melalui rizki yang halal. Tangan yang semata-mata berada di jalan Allah SWT dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan Amanah.

Bekerjalah dengan pekerjaan yang Halal, maka ALLAH akan memberikan Keberkahan dalam setiap detiknya...
.
Silahkan dishare/bagikan, banyak teman-teman anda menunggu untuk membaca diberandamu, Artikel yang bermanfaat ini.
Mudah-mudahan kita semua mendapat keberkahannya.. Aamiin....
Read more...

Jumat, 10 Januari 2020

Jangan Pernah Sebut Customer Yang tidak Jadi beli itu PHP, Kenapa?

0 komentar
"JANGAN PERNAH SEBUT CUSTOMER YG GAK JADI BELI ITU PHP, KENAPA??"

Ada beberapa customer Japri

"Mau coklat ini dunk bro.. Kirim kesini yah... "
Minta ditotalin... Minta no.rek saya...
Minta diskon pula (Masya Allah)
Janji bahwa besok tf (ini artinya sudah ada akad jual beli yah )

Dan selang 1 hari -> Tanpa kabar

Selang 2 hari -> krik krik krik ( suara jangkrik) senyap

Selang 3 hari -> saya sapa lewat chat.. 
"Assallamuallaikum... Mas.. Mohon.maaf ini coklatnya mau diambil gk yah...?

Jawabanya : oh iya bro.. Maaf.. Gk jdi ambil bro.. Maaf yaa... Soalnya bla bla bla bla bla

Saya jawab " okey Mas "

Dalam hati saya... " Allhamdulillah... Hari ini luntur sudah dosa2ku.. Dari seseorang tersebut.

Selang 1bulan kemudian dia chat lagi.. Tanya hrga coklat nya...
Sya jawab dgn sopan dan baik
Saya gk marah kenapa ?????

Karna 👇👇👇

Nih Hukumnya dalam Syariat Islam

Tadi shubuh denger kajian Ustadz Erwandi, tentang hukum jual beli. Ternyata apabila kita sebagai pedagang mendapatkan pembatalan pembelian dari calbuy atau customer, dosa2 kita akan berguguran, bisa jadi jalan di hapusnya dosa. MasyaAllah indahnya Syariat Islam, semuanya di atur dengan adil, tidak ada yang sia-sia.

‘Iqalah‘ atau ‘menerima pembatalan transaksi’ adalah perbuatan yang sangat dianjurkan, mengingat sabda Nabi ﷺ, 

مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا أَقَالَ اللهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ

"Barang siapa yang menerima pembatalan transaksi yang diminta oleh seorang muslim maka Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahannya pada hari kiamat nanti."
(HR Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Baihaqi dari Abu Hurairah. Hadis ini dinilai sahih oleh As-Sakhawi dalam Al-Maqashid Al-Hasanah, no. 465; oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1333 dan dalam Silsilah Shahihah, no. 2614; dan oleh Muqbil Al-Wadi’i dalam Shahih Musnad, no. 1373).”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Siapa yang menerima pengembalian barang dari seorang muslim, maka Allah akan mengampuni kesalahannnya di hari kiamat."
(HR. Ahmad 7431, Ibnu Hibban 5030 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Jadi jangan marah, uring2an atau pun kecewa kalau ada yang tidak jadi beli produk kita atau membatalkan, insyaAllah akan Allah ganti dari arah yang tidak di sangka-sangka, dan semuanya bernilai pahala.

Jadilah pedagang yang jujur & amanah..

Berdagang bukan masalah untung dan rugi tapi surga dan neraka..

Dan kata ustadz Erwandi bagi umat muslim belajarlah, kalian harus tahu tentang Syariat Islam, sebelum melakukan akad maka pelajari dulu hukumnya..

Sumber : Irwan Syah
Read more...

Senin, 02 Desember 2019

Dua Bait misteri dalam nadzom Alfiyah Ibnu Malik

0 komentar
الفيۃ ابن مالك
DUA BAIT MISTERI DALAM NADZOM ALFIYAH IBN MALIK 

Nadhom Alfiyah Ibn Malik karya Assyaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik, merupakan sebuah karya yang sangat fenomenal, yang tidak akan pernah terhapus dalam khazanah intelektualitas pesantren. Khususnya pesantren salaf.

Kitab ini bertemakan tentang qaidah-qaidah gramatika bahasa arab, seputar nahwu shorof, dan diantara keunikan  dari kitab ini adalah penempatan kata-kata dan contoh dalam nadzhom yang tidak sembarangan, melainkan mempunyai maksud dan isyaroh tersendiri. Semisal kalam-kalam hikmah, falsafah dan nasehat hidup.

Beliau menamai nadzhom tersebut dengan nama Alfiyah, diambil dari jumlah bait dalam nadzom tersebut yakni seribu, (baca dalam bahasa arab; alfun).

Namun pada kenyataannya, jumlah bait dari nadzhom alfiyah itu sendiri adalah 1002 bait, ada tambahan 2 bait di muqoddimah, dan juga ada cerita menarik dibalik penambahan 2 bait tersebut.
Tentang arti dari sebuah rasa bangga, tentang ta’dzim kepada sang guru, tentang tulusnya sebuah karya, juga tentang adab terhadap orang yang sudah meninggal.

Diceritakan bahwa Syaikh Ibnu Malik dalam menyusun nazhom Alfiyah ini terinspirasi dari almarhum sang guru yang sudah terlebih dahulu menyusun sebuah nadzhom yang berjumlah 500 bait. Beliau adalah Syaikh Ibn Mu’thiy. Karyanya tersebut diberinama Alkaafiyah, namun mashur juga disebut dengan Alfiyah Ibn Mu’thiy. 
(Disebut Alfiyah, karena terdiri dari 1000 satar, adapun satar,adalah setengah bagian dari satu bait).

Ketika beliau sudah mantap menyimpan semua gambaran nadzhom alfiyah dalam memori otaknya, beliaupun memulai untuk menulis untaian nadzom-nadzom indah tersebut.

Hingga pada saat beliau menulis bait ke lima, bagian satar ke sepuluh yang berbunyi;

وتَقتضِى رضًا بغير سخطٍ  #  فائقةً ألفيّةً ابن معطى
(Dan kitab alfiyah itu akan menarik keridhoan yang tanpa didasari kemarahan
Dan kitab alfiyah ini lebih unggul dari kitab alfiyahnya ibnu mu’thiy)

Seketika semua hafalan yang sudah tersimpan rapi dalam memori otak beliaupun lenyap. Beliau tidak ingat satu hurufpun.
Syaikh ibnu malik pun merasa cemas, sedih, juga bingung, entah apa yang harus beliau lakukan.  Hingga akhirnya beliaupun tertidur pulas.

Dalam mimpinya, beliau dibangunkan oleh seorang kakek yang memakai pakaian serba putih, jubahnya hampir menutupi sebagian kepalanya sehingga wajahnya tidak nampak secara jelas.
Kakek itu menepuk pundak syaikh ibnu malik sambil berkata;

“wahai anak muda, bangunlah!, bukankah kamu sedang menyusun sebuah kitab?”

“Iya kek,” seketika ibnu malik terbangun.

“namun aku lupa semua hafalanku, sehingga aku tak mampu tuk melanjutkanya” lanjutnya.

Kakek itu pun bertanya, “sudah sampai mana kamu menulisnya?”

“baru sampai bait kelima”,  beliau menjawab sambil membacakan bait yang terakhir.

“bolehkah aku melanjutkan hafalanmu,?” tanya kakek tersebut.

“tentu saja”.

Kakek itupun membacakan sepasang bait ;

فائقةً من نحو ألف بيتي  #  والحيّ قد يغلب ألف ميّتي
(Seperti halnya mengungguli dalam seribu bait #
Orang yang masih hidup, terkadang mengalahkan 1000 orang yang sudah meninggal)

Seketika setelah mendengar satu bait yang diucapkan oleh kakek tersebut, Syaikh Ibn Malik pun terbangun. Dan beliaupun menyadari satu hal, bahwa kakek dalam mimpinya itu tidak lain adalah sang guru, yakni Syaikh Ibnu Mu’thiy yang dengan jelas menegur Syaikh Ibnu Malik dengan sindiran di bait tersebut.
Beliau juga sadar, bahwa ungkapan bangga yang beliau ungkapkan dalam bait kelima tersebut ternyata merupakan perasaan takabbur yang timbul dari nafsunya, perasaan yang secara tidak langsung telah menerobos sebuah adab, akhlaqul karimah seorang murid  kepada gurunya.

Sadar akan hal itu, Ibnu Malik pun bertaubat kepada Sang pencipta atas rasa takabburnya. Beliau juga hendak meminta maaf kepada Ibnu Mu’thiy, beliau berziarah ke makam Syaikh Ibnu Mu’thiy.

 Selepas berziarah, beliaupun hendak melanjutkan karangan tersebut dengan menambahkan 2 bait di bagian Muqoddimah yang pada awalnya tidak masuk dalam rencana, dengan harapan bahwa hafalannya akan pulih kembali.

2 bait tersebut berbunyi seperti ini :

وهو بسبق حائز تفضيلا # مستوجب ثنائي الجميلا
Dan dia (ibnu mu’thiy) memang lebih dahulu dan mendapatkan keunggulan
Dia juga pantas mendapatkan pujian (legitimasi) yang sangat baik dariku

والله يقضي بهبات وافرة # لي وله في درجات الآخرة
Semoga Alloh memberikan anugerah yang sempurna
Untukku dan juga beliau dalam derajat yang tinggi di akhirat kelak

Secara ajaib, semua memori hafalan nadzom yang ingin beliau tulis itupun kembali tergambar jelas di otak dan hatinya. Beliaupun sangat bersyukur dan kemudian melanjutkan karangannya.

Hingga akhirnya terciptalah sebuah mahakarya yang terkenal di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Nadhoman yang sangat popular dikalangan santri, khususnya santri salaf. Dan sampai saat ini pun, masih banyak santri-santri yang menghafalnya.

Konon katanya, hafalan Alfiyah itu sendiri lebih cepat hilang dibanding Al-qur’an apabila si penghafalnya berbuat maksiat. Dan juga orang yang hafal Alfiyah itu punya daya tarik tersendiri.Wallohu a’lam.

Banyak sekali versi yang tersebar tentang 2 bait tambahan dalam nadzom Alfiyah Ibnu Malik, salah satunya diceritakan dengan jelas dalam Syarah Alfiyah itu sendiri, yakni dalam kitab Qodhi Al-qudhot. 

Namun inti nya sama, yakni cerita yang mengandung pesan tentang adab kita kepada seorang guru yang harus tetap dilakukan, meskipun kemampuan kita telah melebihi sang guru tersebut. Atau meskipun guru kita telah meninggal dunia.

Karena tidak ada yang namanya “mantan guru”…

Copas : Sabilul Huda Media
Read more...

keajaiban surat Al-ikhlas

0 komentar
Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.
Pada suatu pagi Rasulullah SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.

Tak lama kemudian Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril.

Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril : "Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?"

"Ya Rasulullah, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya." jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW bertanya lagi : "Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?"

"Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat." jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW bertanya lagi : "Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari?"

Kemudian Malaikat Jibril menjawab : "Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu."

"Siapakah dia, wahai Jibril?" tanya Rasulullah SAW.

"Dialah Muawiyah...!!!" jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW bertanya lagi : "Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?"

Malaikat Jibril menjawab : "Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al-Ikhlas."

Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : "Dari itulah Allah SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyah tersebut."

SubhanAllah..
Walhamdulillah..
Wala ilaha illallah..
Wallahu akbar.

Rasulullah SAW bersabda : ''Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?" Mereka menjawab, "Bagaimana mungkin kami bisa membaca sepertigai Al-Qur'an?" Lalu Nabi SAW bersabda, "Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an.'' (H.R. Muslim no. 1922)
Read more...

Selasa, 29 Oktober 2019

Seorang Hakim yang mengundurkan diri dari Jabatannya

2 komentar

Saya Mengundurkan Diri Dari Jabatanku

Suatu ketika seorang ulama yang Masyhur, yaitu al-Imam al-Qadhy Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani yang menjabat sebagai Qadhy (Hakim) di Lebanon Masa Itu dihadapkan pada suatu kasus pembunuhan.

Saat persidangan berlangsung, didatangkan pemuda yang menjadi tersangka pembunuhan.

Terjadi dialog antara Syekh Yusuf An-Nabhani selaku Qadhy dengan Pemuda tersebut.

Syekh Yusuf Pun Bertanya :
Apa betul kamu telah melakukan suatu pembunuhan

Sang pemuda menjawab :
Iya, betul...Saya telah membunuh seseorang wahai Syekh...

Lalu Syekh Yusuf bertanya lagi :
Kalau boleh Kau jelaskan apa motif dari pembunuhanmu wahai Anak Muda?

Dijawab oleh Sang pemuda :
Orang Itu...telah menghina Rasulullah SAW terang-terangan....Saya tidak sanggup lagi menahan amarahku terhadap orang-orang yang mencaci Rasulullah SAW dihadapanku... Lantas aku membunuhnya...

Syekh Yusuf diam sejenak...Lalu bertanya lagi :
Tangan yang mana Kau gunakan untuk membunuh orang itu... Kanan atau Kiri?

Dijawab olehnya:
Tangan kananku ini wahai Syekh...

Lalu Tiba-tiba Syekh Yusuf An-Nabhani turun dari singgasana Hakim menuju ke arah pemuda tadi. Meraih tangan kanannya lalu  menciumnya berkali-kali seraya berkata :

Tangan Ini kelak yang akan membawamu ke sorga....
Wahai hadirin sekalian...
Saksikanlah, mulai hari Ini saya mengundurkan diri dari jabatanku selaku Qadhy di sini, Karena saya tidak akan pernah sanggup menghukum seseorang yang telah membunuh yang disebabkan membela kehormatan Rasulullah SAW...!!

Masyaa Allah.....

Demikian cinta dan hormatnya Syekh Yusuf An-Nabhani Kepada Rasulullah SAW dan agamanya...

Berbeda dengan ulama-ulama yang sekarang, meski belajarnya sampai ke Australia atau Eropa, tapi sibuk membela orang kafir meski telah jelas-jelas melecehkan ayat suci al-Qur'an.
barakallahufykum

Read more...

Jumat, 18 Oktober 2019

Uang itu milikmu, tapi sumber daya alam milik kita bersama

0 komentar

Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup foya2.

Ketika saya tiba di Hamburg, saya bersama rekan2 masuk ke restoran. Kami lihat banyak meja kosong. Ada satu meja di mana sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada 2 piring makanan & 2 kaleng minuman di meja mereka.

Saya bertanya dalam hati apa hidangan yang begitu simple dapat disebut romantis & apa si gadis akan meninggalkan si pemuda kikir tersebut?

Kemudian ada lagi beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika makanan dihidangkan, pelayan membagi makanan tersebut & mereka menghabiskan tiap butir makanan yang ada di piring mereka.

Karena kami lapar, rekan kami pesan lebih banyak makanan. Saat selesai, tersisa kira2 sepertiganya yang tidak dapat kami habiskan di meja. Begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yang dari meja sebelah berbicara pada kami dalam bahasa Inggris, kami dan teman2 paham bahwa meraka tidak senang kami memubazirkan makanan.

Lalu temanku berkata kepada wanita tua itu, "Kami yang bayar kok, bukan urusan kalian berapa banyak makanan yang tersisa."

Wanita2 itu meradang. Salah satunya segera mengeluarkan HP & menelpon seseorang. Sebentar kemudian seorang lelaki berseragam Sekuritas Sosial pun tiba. Setelah mendengar tentang sumber masalah pertengkaran, ia menerbitkan surat denda Euro 50 (kira2 denda Rp. 750.000) pada kami.

Kami semua terdiam..

Petugas berseragam tersebut berkata dengan suara yang galak, “ *PESAN* *HANYA YANG SANGGUP* *ANDA* *MAKAN, UANG ITU* *MILIKMU TAPI* *SUMBER DAYA ALAM* *INI MILIK* *BERSAMA. ADA* *BANYAK ORANG LAIN DI* *DUNIA YANG* *KEKURANGAN.* *KALIAN TIDAK PUNYA* *ALASAN UNTUK* *MENYIA-NYIAKAN* *SUMBER DAYA ALAM* *TERSEBUT.”*

Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tersebut membuat kami semua malu bener, KAMI SUNGGUH HARUS MERENUNGKAN HAL INI. Kita ini dari negara yang tidak makmur2 amat. Untuk gengsi, kita sering pesan banyak & sering berlebihan saat menjamu orang.

*PELAJARAN INI* *MENGAJARI KITA* *UNTUK SERIUS* *MENGUBAH* *KEBIASAAN BURUK* *KITA.*

“MONEY IS YOURS BUT RESOURCES BELONG TO THE SOCIETY.”

Jadi kawan2, mari mulai mengurangi pemubadziran, karena *"uang memang milikmu," tapi ... "sumber daya alam itu milik bersama."*

*#Ayo direnungkan...*
Di pesta pernikahan yang kita hadiri, sering sekali kita lihat sisa makanan dalam piring sudah waktunya kita membuat catatan di dalam undangan : *AMBILLAH* *MAKANAN YANG* *SANGGUP ANDA* *HABISKAN. JANGAN* *MUBAZIR*

Ayo kita mulai gerakan anti kemubaziran di kalangan keluarga: dan teman2 kita.
🎋Mubazir tanda tiada bersyukur nikmat🌴

Memeperingati Hari Pangan Sedunia

Read more...

Jumat, 16 Agustus 2019

Kambing adalah Unggas, dan hubungan erat antara Niat baik dan hasil yang baik

0 komentar

KAMBING ADALAH UNGGAS

"Tarli, you tahu filosofi Al Fatihah?" pertanyaan itu dilontarkan oleh Dr. Hidajat Nataatmadja (1932-2009) pada sebuah obrolan Jumat lagi, nun bertahun-tahun silam, di sebuah hotel di bilangan Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Setiap Jumat pagi, dua kali sebulan, saya akan menemuinya di tempat itu untuk mendiskusikan sejumlah hal. Di usianya yang lebih dari tujuh dekade, lelaki kurus berkepala hampir plontos itu masih sanggup pulang pergi Bogor-Solo untuk mengajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pagi itu, saya yang ditanya hanya bisa mengangkat alis.

"Al Fatihah menjadi ummul kitab karena tujuh ayat itu mengajarkan konstruksi nilai yang sangat dasar, yaitu bahwa tujuan yang baik itu (ibadah) haruslah dikerjakan dengan cara yang baik (shirathal mustaqim) dan dimulai oleh niat yang baik pula (Bismillah)," ujarnya, sembari menghisap rokok kegemarannya, Dji Sam Soe.

"Itu konstruksi nilai yang tidak bisa ditawar. Bukan hanya dalam agama, tapi juga dalam ilmu pengetahuan. Tidak bisa niatnya saja yang baik, namun jalannya tidak baik. Begitu juga halnya dengan hasil baik, belum tentu bernilai ibadah, karena bisa jadi hasil baik itu sesungguhnya bermula dari niat yang tidak baik. Jadi, konstruksi dan konsistensi nilai tadi sangat penting," jelasnya.

Saya mengangguk-angguk.

"Jika konstruksi nilainya tidak konsisten, mustahil kita akan sampai pada 'kebenaran'. Yang akan kita temui paling hanyalah 'kebetulan-kebetulan' belaka."

Lalu Hidajat bercerita tentang "Doktrin Instrumentalisme Friedman". Friedman yang dimaksud adalah Milton Friedman.

"Bagi Friedman, ilmuwan dianggap tidak perlu untuk menguji konsistensi logika dari suatu perangkat aksiomatika, atau asumsi dari sebuah teori, melainkan cukup menguji implikasi empiris yang diturunkan dari perangkat aksiomatik ataupun teori tersebut. Jadi, menurut Friedman, asumsi boleh saja palsu, asalkan teorinya bisa menghasilkan prediksi yang akurat. Bagi saya, itu seperti ilmu sulap, di mana orang tidak perlu menerangkan atau bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi, cukup diterima saja apa yang nampak. Bagaimana tukang sulap bisa mengubah batu menjadi merpati tidak penting untuk ditanyakan. Dan batu itu bisa bernama 'homo economicus', bisa juga bernama 'pasar persaingan sempurna'," ujar Hidayat, sembari terkekeh prihatin.

Pandangan Friedman yang sedang dikritik Hidajat adalah pandangan sebagaimana yang ditulis ekonom Chicago itu dalam bukunya, "Essay in Positive Economics" (1953), sebuah buku klasik yang juga terpajang di kamar saya sejak awal-awal kuliah dulu.

Saya teringat kembali pada percakapan dengan Pak Hidajat itu gara-gara membaca komentar-komentar yang berseliweran di timeline sejak kemarin. "Mau menteri atau bahkan presiden berkewarganegaraan apapun, saya tidak masalah, asal tidak korupsi dan sanggup menyejahterakan masyarakat". Demikian salah satunya. Lontaran itu mirip dengan pernyataan ini: "apapun ideologinya tidak penting, yang penting bisa menyejahterakan masyarakat".

Jika pernyataan-pernyataan itu dilontarkan orang awam, kita barangkali akan maklum. Tapi karena pernyataan-pernyataan itu dilontarkan oleh orang-orang yang sebenarnya sangat terdidik, tak urung dahi saya jadi berkerut.

Bagi saya, lontaran-lontaran itu tak ada bedanya dengan pernyataan, "Mau ayam atau babi, yang penting halal"; atau "Mau ayam atau kambing, yang penting unggas". Banyak orang tidak menyadari jika setiap tujuan selalu memiliki andaian mengenai cara pemenuhannya, dan setiap kategori nilai selalu memiliki batasan dan syarat. "Halal", sebagaimana halnya "unggas", adalah sebuah kategori yang memiliki batasan dan syarat, di mana baik babi maupun kambing tidak memenuhi batasan dan syarat yang telah ditetapkan itu.

Hal yang sama juga berlaku bagi "menyejahterakan masyarakat". Untuk menyejahterakan masyarakat agraris tentu saja berbeda caranya dengan menyejahterakan masyarakat nelayan; menyejahterakan masyarakat daratan berbeda caranya dengan menyejahterakan masyarakat kepulauan; menyejahterakan negara bekas koloni pasti berbeda cara dengan menyejahterakan negara bekas imperialis; demikian seterusnya.

Persis di situ, untuk menyejahterakan masyarakat kita terikat pada hal-hal spesifik di mana tak semua kerangka generik akan bisa diterima. Singkatnya, "menyejahterakan masyarakat" merupakan sebuah kategori nilai yang pasti memiliki batasan dan syarat, di mana tak semua jalan boleh dan bisa ditempuh untuk mewujudkan nilai tersebut. Jika batas dan syarat itu dilanggar, maka kita akan ketemu kekacuan penalaran. Bagaimana bisa seekor kambing, misalnya, dianggap sama sebagai unggas?!

Negara, hukum, kewarganegaraan, ideologi, imigrasi, di atas kertas memang hanyalah soal administrasi. Tapi administrasi adalah cara manusia mematerialkan batas-batas dan syarat-syarat untuk melindungi nilai-nilai yang hidup bersamanya. Jika kebangsaan dianggap sebagai imajinasi, maka pernyataan bahwa "kita adalah anak kandung kebudayaan dunia", yang menganggap bahwa identitas kebangsaan adalah sejenis omong kosong, sesungguhnya juga tidak kalah imajiner dan omong kosongnya.

Kita memang lahir ke dunia ini dalam keadaan telanjang. Tapi dengan apa tubuh telanjang kita pertama kali akan ditutupi, dengan batik, ulos, lurik, songket, atau sasirangan, sangat tergantung pada tempat di mana kita lahir.

Sayangnya, doktrin instrumentalisme Friedman kini sepertinya kian menyegala, tak hanya hidup dalam tembok ilmu ekonomi. Banyak orang kini tak lagi melakukan problematisasi atas keyakinannya. Konsistensi dan koherensi antara niat, cara dan tujuan tidak lagi penting untuk diperhatikan.

Ketika orang berpikir bahwa setiap tujuan bisa menghalalkan semua cara, persis di situ saya akan teringat kembali pada obrolan dengan Dr. Hidajat mengenai filosofi ummul kitab tadi.

Sumber: FB Tarli Nugroho

Read more...

Rabu, 07 Agustus 2019

9 Fakta Pondok Modern Darusssalam Gontor yang patut ditiru lembaga pendidikan se - Indonesia

0 komentar

*9 Fakta Pondok Modern Gontor Yang Harus Ditiru Lembaga Pendidikan se-Indonesia*

(Role Model Pesantren dan Sekolah Masa Depan)

Mungkin belum banyak orang yang tahu tentang pondok modern Gontor ini. Letaknya jauh dari keramaian kota dan asing dari publikasi media menambah keasingan orang dalam mengenal pesantren yang telah berdiri sejak 93 tahun silam.

Namun, bagi para pendidik, kiprahnya sudah tidak diragukan lagi. Hal itu tidak lepas dari nilai dan sistemnya yang tergambar dalam 9 hal berikut:

*1. Wakaf*

Pendirinya mewakafkan seluruh harta warisan orang tua untuk pondok. Dengan itu, bukannya ponpes kian surut dan pendiri menjadi melarat.

Pesantren justru tambah berkembang pesat, meluas, serta mandiri dalam segala hal.

Sementara itu, para kyai pendiri, meskipun tidak digaji oleh pondok, dapat hidup dan menghidupi keluarganya dengan cara hidup sederhana.

Dengan statusnya sebagai wakaf, siapapun termasuk anak keturunan dari kiyai tidak bisa mengambil alih, mengklaim, menjual pondok. Gontor tidak bisa diakuisisi dan dipolitisasi kepentingan ormas dan partai tertentu.

Para ilmuwan yang pernah meneliti wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor mengatakan bahwa Gontor memiliki sistem pengembangan wakaf produktif, yang dengan sistem tersebut wakaf berkembang, bukan malah berkurang

*2. Visioner*

Pendiri mencanangkan Panca Jangka; Pendidikan dan Pengajaran, Kaderisasi, Khizanatullah, Pergedungan, dan Kesejahteraan Keluarga sebagai pedoman yang memudahkan kyai atau Pimpinan Pondok dan generasi penerus mengemban amanah, mengendalikan haluan.

Siapapun yang akan memimpin harus berpedoman pada Panca Jangka tersebut agar tidak lepas dari jalur yang semestinya.

Panca Jangka ini acuan para pengelola ponpes tentang apa saja yang harus dilakukan untuk masa depan.

Semua yang dikerjakan harus berpendidikan dan untuk pendidikan. Pengajaran harus selalu berjalan, karena pengajaran adalah nafas lembaga pendidikan. Selalu harus ada kader penerus pendidikan di Gontor, mesti ada ahli di bidang tertentu untuk setiap generasi, ajal silih berganti datang. Pesantren harus mandiri, tidak boleh bergantung dan terikat pada siapapun dalam urusan finansial. Jiwa berkembang, fisik juga harus berkembang.

"Kereta boleh berganti, tapi relnya tidak boleh bergeser."

*~K.H. Hasan A Sahal*

*3. Orientasi Pendidikan*

Secara konsisten, ponpes mengadakan Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy (P3KA) setiap awal tahun pelajaran.

Saat itu kyainya mengajarkan dan berbicara dengan lantang, konsekuen, dan konsisten tentang jiwa-jiwa pesantren (Keikhlasan, Kesederhanaan, ukhuwwah Islamiyah, kemandirian, dan Kebebasan) sebagai filsafat hidup, pandangan hidup, dan jalan hidup kepada para santrinya.

Bukan hanya itu. Beliau juga siap menjadi contoh nyata yang dapat dilihat dan ditiru oleh para santrinya.

Sangat disadari oleh Pimpinan pondok bahwa pesantren dalam pandangan Gontor adalah lembaga pendidikan yang meletakkan kyai sebagai sentral figur dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwai. Pekan Perkenalan ditujukan untuk “tajdidu an-niyat” alis penyucian niat bahwa kehadiran santri di ponpes untuk mendalami ilmu dan para ustadz mengajar bukan mencari penghidupan.

Mengenai P3KA, silakan baca artikel “OSPEK Pondok Modern Darussalam Gontor“.

*4. Mandiri*

Pondok tidak memasang advertensi atau iklan dalam penerimaan siswa baru, tetapi yang mendaftar tetap banyak. Umumnya sekolah, untuk menjaring siswa baru, akan memasang iklan dengan informasi tentang sekolah sebegitu rupa agar calon siswa mau mendaftar.

Mandiri di sini, Gontor tidak bergantung pada SPP santri untuk tetap hidup mendidik generasi. Dengan begini, setiap santri dan wali santri yang mendaftar merasa mereka tidak diundang, bahkan mereka yang berharap dapat diterima oleh Gontor.

*5. Tegas Berdisiplin*

Pondok menerapkan disiplin ketat, tanpa mengkaitkan dengan atau mempertimbangkan ketidakkerasanan santri. Artinya, dengan disiplin ketat, ponpes atau kyai tidak khawatir santrinya akan berkurang, kabur, atau tidak kerasan karena takut disiplin.

Logikanya, jika santri berkurang, pemasukan pondok juga akan berkurang, dst. Bagi Gontor, disiplin adalah mutlak.

Dengan disiplin, pembentukan atau pendidikan karakter akan berjalan dengan baik. Dengan tegas pula, Gontor justru mengatakan, “Kalau siap menerima disiplin, ya, silakan masuk Gontor, kalau tidak siap, silakan pulang saja!”.

"Tidak akan ada kemajuan tanpa kedisiplinan dan tidak ada kedisipilinan tanpa keteladanan."

*Kyai H Hasan A Sahal*

*6. Kemapanan*

Sistem Gontor kokoh dan tetap konsisten dengan sistem Kulliyyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyyah (KMI) 6 tahun sejak berdirinya, bukan dengan sistem SMP-SMA atau Tsanawiyah-Aliyah.

Dengan sistem tersebut, penilaian atau evaluasi terhadap siswa dapat dilakukan secara mandiri oleh pesantren, bebas intervensi pemerintah atau lembaga lain.

Ditambah dengan sistem asrama penuh, penanaman jiwa pondok dan pendidikan karakter benar-benar lekat dan dapat menjadi pegangan hidup, sistem pendidikan di kelas dan di luar kelas (asrama) berlangsung integral; guru di kelas adalah juga guru pembimbing di asrama.

*7. Berdikari*

Ajaran jiwa kemandiriannya membuat Gontor membalikkan (baca: meluruskan) paradigma, bahwa sebuah lembaga itu “disumbang karena maju, bukan maju karena disumbang”.

Kemandiriannya dalam hal pendanaan dan sistem pendidikan membuat Gontor bebas dan konsisten tidak tergantung kepada lembaga manapun.

Kemandirian ini sangat penting bagi pondok pesantren. Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi pernah berkata:

“Kalian ini mau nuruti kata hati atau nuruti kata orang?

Kalau nuruti kata hati, jangan pedulikan kata orang. Sebab orang itu kita bergerak kemanapun pasti dikomentari. Saya dulu buka UKK (koperasi Guru) dan KUK (Toko besi pesantren) dan Toko Buku saja habis-habisan dikomentari, dibilang Kyai Bisnis, Kyai Mata duitan, Kyai Matre, tapi saya jalan terus.

Sekarang semua baru terbuka, pada ramai-ramai ikut-ikutan buka usaha. Saya tahu bahwa Pesantren ini butuh biaya, utamanya untuk kesejahteraan Guru. Tapi bagaimana biar ini tidak membebani santri, kesejahteraan Guru tidak boleh diambilkan dari dana santri.

Kenapa?

*Biar para santri tidak berkata “Kamu kan sudah saya bayar….!!”*

Ini yang ingin saya hindari, maka saya buat Unit-Unit Usaha yang saat ini mencapai 23 buah. Itu semua untuk kesejahteraan guru…

Maka jangan dengarkan kata orang jika ingin maju.

Bagus atau jelek, jalani saja. Kalau jelek ya dievaluasi ditengah jalan. Sebab dengerin kata orang itu ndak ada habisnya. Bahkan kita tidak bergerak sekalipun, itu tetap akan dikomentari, ‘ini orang masih hidup atau sudah mati, kok cuma diam saja gerakannya’.

Maka itu, ikuti kata hatimu. Kata Rasulullah “Istafti Qalbak”, Gontor sudah kenyang dicaci maki, Gontor juga sudah kenyang dipuji-puji…..!”

*8. Anomali Ujian*

Paradigma lain yang dipegang oleh Gontor hingga saat ini adalah “Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian.” Juga, “Ilmu itu akan didapat sebelum ujian, ketika ujian, dan setelah ujian.” Sehingga “tidak naik kelas” adalah hal biasa, namun tetap menjadi hal yang tidak diharapkan.

Yang terpenting di Gontor bukanlah naik kelas, tetapi seberapa banyak ilmu yang sudah didapat/diamalkan santri. Tidak naik bukan masalah, yang penting ilmunya bertambah. Itu yang harus disyukuri. Pada beberapa siswa, untuk naik kelas, memang dibutuhkan perjuangan ekstra, ada yang sampai 8, 9 bahkan 12 tahun mengenyam pendidikan di Gontor.

Ini juga salah satu alasan kenapa pondok modern Gontor tidak ikut  serta dalam ujian nasional pemerintah.

*9. Guru Tidak Digaji*

Gontor tidak menggaji guru-gurunya, tetapi memberikan kesejahteraan, dengan standar sekadar untuk bekal beribadah atau bekal mengabdi di ponpes. Pesannya, *“Asalkan mau hidup sederhana, insya Allah tidak akan kelaparan.”* Alhamdulillah, kenyataannya, guru-guru Gontor tidak ada yang melarat.

*Kesejahteraan guru itu tidak diambilkan dari SPP, melainkan dari hasil usaha pondok; percetakan buku, pabrik roti, toko material, pertanian dan perkebunan yang dikelola para ustadz sendiri.*

Hal ini membuat guru bisa tampil berwibawa di hadapan para santrinya di depan kelas; mengajar dengan tidak membedakan siapa yang sudah membayar SPP dan siapa yang belum atau malah tidak membayar SPP sama sekali.

Santri dan walinya juga tidak bisa mengatakan, *“Kamu sudah saya gaji”.*

Karena gaji ustadz tidak diambil dari iuran santri, Pondok Modern Gontor dapat menekan biaya SPP ke tingkat serendah mungkin. Ada kalanya Gontor menurunkan uang bayaran pelajar.

*Melihat hal ini, para santri memang benar-benar berhutang jasa pada para guru. Maka, wajar saja jika ada murid yang dikeluarkan karena melawan ustadz.*

Sementara ini saja sedikit dari banyak hal yang tidak mudah dipahami dari Pesantren Gontor. Terlepas dari kekurangan yang ada pada lembaga ini. Semoga pondok ini istiqomah dan lebih baik lagi.

👍👍👍

-Akhukum-

Read more...

Jumat, 19 Juli 2019

Nasehat kyai Hasan Abdullah Sahal

0 komentar

*PESAN DAN NASEHAT PIMPINAN PM DARUSSALAN GONTOR K. H HASAN ABDULLAH SAHAL DALAM ACARA WISUDAWAN/TI ANGKATAN KE 33 DI AULA BPPM*

Kamis, 18 Juli 2019

[ 1 ]Jangan terkecoh dengan ilmu, jangan terkecoh dengan puja-puji dari kanan kiri.
لا تكن مغرورا بعلمك

[ 2 ]Pondok pesantren adalah suatu sumber kebenaran, kebenaran yang abadi.

[ 3 ]Manusia saat ini adalah tanggungjawab kita sebagai kholifah

[ 4 ]Sekarang perebutan antar peradaban. Antara barat dan timur, antara islam seperti zionisme.

[ 5 ]Kita belajar di pesantren sesuatu yang abadi. Islam itu abadi, ilmu dan pengetahuan itu abadi maka jangan sampai keabadian ini diobrak-abrik oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

[ 6 ]Nilai-nilai kehidupan yang abadi ada 5 : Islam, Alqur'an, Syari'at, Bahasa Arab, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

[ 7 ]Ilmu tidak akan diambil, tapi ulama'lah yang akan diambil.

[ 8 ]Banyak sekarang ma'mum meninggalkan imam, karena ketidak mampuannya.

[ 9 ]Islam sampai kiamat tidak akan pernah hilang. Alquran tidak akan pernah berubah. Syariat tidak akan hilang. Bahasa Arab akan terus hidup dan IPTEK akan terus berkambang dan tidak akan pernah habis sampai hari kiamat. Itulah Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok tapi modern. Modern tapi Pondok bukan seperti sekarang Binatang tapi Modern, Modern Tapi Binatang.

[ 10 ]
إن الله لا ينزع العلم انتزاعا....

Ilmu tidak akan dibuang dari bumi ini, tapi ulama'nya yang diambil.

[ 11 ]Nanti akan ada Guru yang tinggalkan Murid, Murid ditinggalkan Guru. Pemimpin tinggalkan rakyat, rakyat tinggalkan pemimpin. Imam tinggalkan ma'mum. Ma'mun ditinggalkan imam.

[ 12 ]Orang-orang kafir sama dari dulu sampai sekarang
سواء عليهم أأنذرتهم...
Sekarang orang kafir tidak miskin, ada yang kaya raya punya teknologi.

[ 13 ]Tidak ada kenikmatan, tidak ada kebahagian kecuali tanpa doa kepada Sang Ilahi. Yang terjadi sekarang kebahagiaan ila sabili partai, ila sabili perut.. padahal dalam alquran yaa ayyautuhan nafaul muthmainnah ..
يا أيها النفس المطمئنة إرجعي إلى ربك...../ ادعوا إلى سبيل ربك...... /فربك فكبر....
Tapi sekarang fapartaika fakabir.. fajaibika fakabir... nafsuka fakbbir.. hartaka fakabir inilah yang terjadi saat ini.

[ 14 ]Terjadi sekarang ini, pintu neraka dibuka banyak-banyak seluas-luasnya selain itu juga pintu syurga dibuka banyak-banyak dan seluas-luasnya, maka pilihlah
فمن شاء فليؤمن فمن شاء فليكفر

[ 15 ]Insya allah.. Fakultas kedokteran berdiri sebelum 1 abad. Entah ditolong atau tidak ditolong. kita minta kepada Allah Swt. Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan sekarang kapan lagi.

[ 16 ]Harapan pimpinan pondok kepada cucu-cucu trimurti agar menjaga nilai-nilai pondok dan mengembangkannya, harus lebih maju dan meningkat.

[ 17 ]Kita harus mencetak miliu, jangan jadi budak miliu.

[ 18] Kita harus berani menyatakan kebenaran,  bukan membenarkan pernyataan.

[ 19 ]Kalian (para wisudawan/ti) itu mahal. Walaupun kalian makan hanya SKS (Sambel Krupuk Sayur).

[ 20 ]Kalian masih muda, jangan berhenti sampai sini. Jangan merasa cukup
شبابك قبل حرمك
[ 21 ]Kita menghadapi KOMUNIS, kita menghadapi PKI, menghadapi KAFIR.

[ 22 ]Lucu... ada orang yang tidak mau dikatakan kafir. Padahal kita tidak pernah mengkafirkan orang tapi kalau ada orang yang tidak mempercayai ALLAH SWT namanya KAFIR. Kalau orang tidak bisa berbicara namanya BISU. orang yang tidak bisa mendengar namanya TULI. Orang yang tidak bisa melihat namanya BUTA.

[ 23 ]Kalau ada yang meninggal ketika menuntut ilmu, itu namanya mati syahid.

[ 24 ]Jangan pernah putus asa karena kita masih bisa maju kedepan
لا تخذرن من المعروف شيئا

[ 25 ]Hati-hati.. musuh-musuh sedang mengendap-ngendap, mengintip-intip ingin memusnahkan islam dan pesantren.

[ 26 ]Islam tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini, tapi Islam bisa hilang di Indonesia.

[ 27 ]Islam tidak butuh pembelaan, Islam tidak butuh pembenaran dan dukungan. Islam tidak butuh mayoritas. Islam akan tetap berjaya. Cuman masalahnya kamu dan kita bertanggungjawab.

[ 28 ]Adakah ayam bertarung dengan ayam, adakah kambing membunuh kambing, adakah kucing membunuh kucing? Tapi kenapa manusia membunuh manusia?

[ 29 ]Kebenaran ini tidak butuh pembenaran, tidak butuh pengakuan, tidak butuh dukungan, tidaku butuh Pembelaan. Kita harus berani bilang 2 × 2 = 4. Tapi sekarang 2 x 2 = 5 bahkan ada yang 2 × 2 = 4 plus komisi.

[ 30 ]Renungkanlah, apa yang harus kita perbuat, apakah yang harus kita berikan?. Dunia ini saling memberi. Unida pondok telah mengajarimu bukan take take take, tapi give, give, give.

Read more...

Selasa, 19 Maret 2019

Keistimewaan Solat Sunnah di rumah dibandingkan di Masjid

0 komentar

*🌾🏡 JIKA SANGGUP; MENGERJAKAN SHALAT SUNNAH DI RUMAH ITU LEBIH BESAR PAHALANYA 🌾🏡*

Mengapa jika sanggup? Karena bila mengakibatkan malas dan justru malah jadi tidak shalat sunnah sama sekali dikarenakan banyak penghalang jika pulang ke rumah; maka tentu saja dikerjakan di masjid jadi lebih baik baginya.

Sedang jika sanggup, jelas saja di rumah itu yang terbaik. Simak tiga hadits berikut ini.

1⃣ Dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu 'anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda :

صلاةُ الرجلِ تطوعا حيثُ لا يراهُ الناسُ تعدلُ صلاتَه على أعيُن الناسِ خمسا وعشرين

_"Shalat sunnah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat oleh manusia; itu sebanding dengan dua puluh lima kali shalat sunnahnya di tengah orang-orang."_ -SHAHIH- (Shahih Al Jami', 3821) HR. Ad-Dailami (II/244)

2⃣ Dan tersebut satu hadits lain semakna dengan ini, kata Nabi Muhammad ﷺ:

تطوُّعُ الرجل في بيتِهِ يزيدُ على تطوُّعِه عندَ الناس، كفضْلِ صلاة الرجل في جماعةٍ على صلاتهِ وحدَه

_"Shalat sunnah seseorang di rumahnya lebih utama daripada shalat sunnah yang dikerjakannya di tengah manusia. Seperti keutamaan shalat berjama'ah di atas shalat sendirian."_ -SHAHIH- (Ash-Shahihah, 3149) HR. Ibnu Abi Syaibah (II/256)

3⃣ Lantaran banyak manfaat¹ bila shalat sunnah itu dikerjakan di rumah, Rasulullah ﷺ memesankan hal ini kepada umatnya:

لا تتركوا النوافل فيها

_"Jangan tinggalkan pengerjaan shalat sunnah di rumah-rumah."_  -HASAN LI GHAIRIH- (Ash-Shahihah, 1910) HR. Ad-Dailami (II/141)

¹ Seperti: lebih mudah untuk ikhlas, menghidupkan rumah dengan ibadah, dan memberi contoh baik pada istri dan anak-anak.

Bila kita muslim, semoga bisa diamalkan. Sedang jika muslimah, harapannya bisa memotivasi suami atau saudara laki-lakinya untuk mengisi rumah dengan shalat sunnah.

Read more...

Kamis, 28 Februari 2019

Muslimah hebat dari Abad pertengahan

0 komentar

*Beberapa Muslimah Hebat dari Abad Pertengahan*

*Mariyam “Al-Astrolabiya” al-Ijliya*

Maryam hidup sekitar Abad 10 masehi. Sayangnya, tidak banyak yang diketahui tentang identitasnya. Bahkan nama Mariyam pun adalah nama yang disandangkan padanya oleh the Syrian Archaeological Society. Dan “Al-Astrolabiya” tidak lain adalah julukan yang diberikan oleh para ilmuan Eropa kepadanya atas jasanya dalam bidang astronomi.[1] Orang-orang lebih banyak mengenalnya melalui karyanya yang luar biasa, yaitu Astrolabe.

Astrolabe yang berarti (star finder) atau alat pemburu bintang, adalah GPS pertama di dunia. Inilah alat pertama yang digunakan untuk menentukan lokasi, waktu (tahun, bulan dan tanggal), dan peredaran matahari. Menurut Harold Williams seorang ahli di bidang astrofisika (Astrophysicist), Astrolabe adalah alat penghitung astronomi yang paling penting sebelum komputer digital ditemukan, dan instrumen observasi astronomi yang paling penting sebelum teleskop ditemukan.[2]


Meski teknologi pembuatan Astrolabe ini sudah ditemukan sejak zaman Yunani kuno dan juga sempat dikembangkan oleh banyak ilmuan Muslim. Tapi Mariyam membuat desain dan teknik pembuatannya lebih rumit, inovatif dan lebih presisi.[3] Menurut Prof. Saleem Al-Husaini, yang dikutip dari Arab Times, “Mariyam adalah Muslimah pertama pembuat cikal alat transportasi dan komunikasi untuk dunia modern. Pekerjaan yang dilakukannya rumit dan berkaitan dengan persamaan matematis tapi ia mampu membuktikan kemampuannya dalam bidang ini”.[4]

Meski tidak banyak yang diketahui tentangnya, namun sosoknya begitu menginspirasi para ilmuan modern, khusus di kalangan ahli astronomi. Pada tahun 1990, seorang astronom bernama Hendry E. Holt menemukan sabuk utama asteroid 7060 di pusat observasi Palomar. Ia menamakan temuannya ini dengan ’Al-‘Ijliya’, untuk menghormati wanita hebat dari abad ke 10 Masehi ini.[5]

*Sutayta al-Mahamali*

Sutayta al-Mahamali adalah seorang ahli matematika. Kepakarannya di bidang ini bahkan di puji oleh banyak ulama pada zamannya seperti seperti Ibnu al-Jauzi, Ibnu al-Khatib Baghdadi, dan Ibnu Katsir. Ia hidup pada sekitar paruh kedua abad 10 masehi.

Sutayta berasal dari keluarga berpendidikan di Baghdad. Ayahnya adalah seorang hakim bernama Abu Abdallah al-Hussein. Ia adalah penulis beberapa kitab termasuk Kitab fi al-fiqh, Salat al-‘idayn. Pamannya adalah seorang sarjana Hadis, dan putranya adalah juga hakim bernama Abu Hussein Mohammed bin Ahmed bin Ismail al-Mahamli yang terkenal karena keputusan-keputusannya yang bijak.[6]


Kemahiran Sutayta dalam bidang matematika tak bisa dilepaskan dari peranan sang ayah, Abu Abdallah al-Hussein. Selain dibimbing ayahnya, Sutayta juga menimba ilmu matematika dari beberapa ahli matematika pada masa itu, di antaranya Abu Hamza bin Qasim, Omar bin Abdul Aziz al-Hashimi, Ismail bin al-Abbas al-Warraq, dan Abdul Alghafir bin Salamah al-Homsi.[7]

Sebenarnya, Sutayta al-Mahamali adalah sosok yang multi talenta. Ia dikenal berpengetahuan luas dalam banyak hal, memiliki kemahiran dalam bidang hadist dan syariah. Tapi dari semua itu, ia lebih dikenal sebagai pakar matematika, khususnya aritmatika. Aritmatika merupakan cabang ilmu matematika yang mengkaji bilangan bulat positif melalui penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.


Pada masa itu, aritmatika menjadi cabang matematika yang berkembang cukup baik. Dan Sutayta salah satu ilmuwan yang berhasil memecahkan solusi sistem persamaan dalam matematika. Catatannya tentang sistem persamaan pun banyak dikutip oleh para matematikawan lainnya. Sutaita tutup usia pada tahun 987 M.

*Zaynab Shāhdā*

Disamping bidang keilmuan, para Muslimah hebat ini juga tak kalah prestasinya di bidang seni. Salah satu seni yang paling prestisius dalam dunia Islam adalah seni kaligrafi. Untuk mendapatkan gelar kaligrafer (Khattat), seseorang harus melewati jenjang pendidikan yang ketat, serta proses-proses belajar dan pelatihan yang panjang disertai disiplin yang tinggi. Bagaimana tidak, karena tujuan akhir dari seorang khattat adalah kemampuan untuk menulis ayat suci yang benar, dan tidak hanya sekedar benar, tetapi juga harus indah. Dengan demikian, seorang khattat, selain harus memahami Al-Quran dia juga memiliki kualifikasi tertentu.[8] Baru setelah berhasil melewati fase pendidikan yang berat ini, mereka layak mendapat ijazah kelulusan, yang sekaligus sebagai sertifikat keahliannya dalam bidang ini dan bisa di sebut Khattat. [9]

Salah satu kaligrafer yang paling menonjol di abad pertengahan adalah Zaynab Shāhdā binti Ahmad bin Al-Faraj bin Umar Al-Abrī. Selain seorang kaligrafer, Zaynab juga dikenal sebagai sosok yang berpengetahuan luas dan menguasai cukup banyak bidang ilmu, seperti hadist, syariah, dan sains. Dalam bidang kaligrafi, kompetensinya tidak tanggung-tanggung. Ibn Khallikān, yang dikenal sebagai sejarawan penting era ini, menulis bahwa Zaynab telah menerima pelajaran dan ijazahnya dari para ilmuwan penting di abad ke-5 Hijriah seperti Abu al-Hattāb Nasr bin Ahmad al-Butruvānī dan Abū ‘Abdullāh Hussain bin Ahmad bin Talha an-Niālī. Bahkan sumber lain juga menyebutkan bahwa Muhammad bin ‘Abdul Mālīk, dari sekolah Mesir, adalah gurunya.[10] Disamping kaligrafi, ia menghabiskan waktunya untuk belajar sains dan sastra. Zaynab Shāhdā meninggal di Baghdad, saat berusia hampir 100 tahun, pada hari Minggu siang, 13 Muharram, 574 H/1178 M. Ia meninggalkan beberapa karya di Baghdad dan sejumlah madrasah.


Selain Zaynab Shāhdā, masih cukup banyak Muslimah yang menggeluti dunia kaligrafi dan sastra dari abad pertengahan. Hilal Kazan menulis nama-nama mereka dalam bukunya “Female Calligraphers: Past & Present”. Beberapa diantaranya:

Duhtar-i ibn Mukla Shirāzī, yang hidup pada abad ke-10 masehi. Ia juga salah seorang guru kaligrafi yang cukup terkenal pada masanya. Seni kaligrafisnya memiliki sentuhan khas yang diwariskan secara turun temurun. Saat ini salah satu karyanya yang tersisa masih bisa dilihat di Mir ‘Imād Calligraphy Museum di Tehran, Iran.
Muznā, yang hidup pada abad  ke 10 masehi. Ia adalah salah satu juru tulis Khalifah al-Amir an-Nāsīr lī-Dīnillāh dan juga Abdurrahmān III (350/961). Namun sayang, tak satu pun dari karya-karyanya masih bertahan hingga hari ini. Ia meninggal pada 358/969.
Fātima, yang juga merupakan selir Khalifah Abdurrahman III. Ia hidup pada abad ke 10 masehi di Andalusia. Ia adalah salah satu kaligrafer yang mendapatkan kesempatan langka diperbolehkan menulis banyak buku dengan gaya tulisannya yang unik bagi Khalifah dan putranya Mālik Hakem II. Disamping itu, ia juga banyak menyalin banyak buku, baik buku sains ataupun seni.
Masih banyak lagi Muslimah-Muslimah hebat pada bidang ini yang ternyata sangat besar jasanya bagi pembangunan peradaban kita sekarang. Beberapa nama lain diantara mereka adalah; Safiyyā binti Abdurrabī’ (417/1026); Fātima binti Zakarīyā bin ‘Abdullāh as-Shebbarp (427/1036); terakhir adalah Fātima, putri Zakarīyā bin ‘Abdullāh, yang telah berhasil meng-copie banyak buku-buku penting dalam tulisan tangan yang indah, sehingga ringan dibaca oleh banyak ilmuan pada masanya. (AL)

Bersambung…

Read more...

Rabu, 02 Januari 2019

Pesan & Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal

0 komentar

Pesan & Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal

1. Lagu hymne ditutup dg kata IBUKU....
Pondok adalah ibu, dan ibu tdk akan melepaskan anaknya, meskipun anaknya sdh jd presiden, ibu akan tetap menasehati anaknya. Dan anak jg akan selalu minta nasehat ibunya.
Sementara bapakmu adalah gurumu, walikelas, aktivitas, organisasimu dll.
Apa yg dikerjakan bpk dan ibu ada di pondok.

2. Dr kandungan yg sama akan lahir anak2 yg berbeda.

Gontor dituduh bkn aswaja, wahabi, dll.

Gontor itu aswaja, aswaja yg cerdas!

3. Dg sering kumpul, akan muncul ide gagasan. Di jawa ada kata 'cangkir' pd saat berkumpul. Cangkir = nyencang pikir. Sering bertemu akan bnyak nyencang fikir.

4. Jangan mudah silau, 'Laisa kullu ma yalmau dzahaban.' Blm tentu rumput tetangga lbh hijau. Kita sdh diajarkan pondok (bpk ibumu) ttg hal itu.

5. Dtg ke pondok tdk hanya utk ngecash, tp utk membaca raport kita. Ttg keikhlasan kita, kesederhanaan dll.
Apakah kita sdh menerapkan keikhlasan yg tlh diajarkan gontor dlm kehidupan nyata? Bgmn dg sederhanaan kita? Baca!

Juga membaca raport pondok. Adakah nilai2 gontor yg berubah. (Gontor insyaAllah akan ttp istiqamah dlm menjaga nilai2).

6. Gontor tdk takjub dg berbagai profesi alumninya, tp akan takjub dg keistiqomahan menjalani profesi tsb berdasarkan pd nilai2 yg tlh diajarkan pondok. (Komitmen thd nilai2.)

Inna fi kholqi samawati wal ardl...
Itu cerminmu, apakah kalian sdh yadzkurullaha qiyaman wa quudan wa'ala junubikum atau blm?

Bercerminlah dr berbagai arah.

Nilai2 utk bercermin.

7. Gontor tlh memberikan kunci.
Bhs arab kita kalah dg lipia, inggris kalah dg sekolah umum.
Tp anak gontor bisa menggunakan kunci tsb dg baik (yahanu).

8. Dunia semakin luas, sementara buminya tdk semakin luas. Jika kita tdk mengembangkan kunci2 tsb kita akan semakin tersingkir.
Punya kunci tp tdk dipakai.
9. Jaman skrg bnyk org yg keblinger. Org2 melakukan istighosah ktk gang doly mau ditutup. La haula wala quwata illa billah.

10. Gontor bukan lembaga pergerakan, tp lembaga pendidikan.

Gontor mendidik anak2 yg akan mendidik presiden, menteri, jendral. Dll.

11. Gontor mendididik santri dg cara: muamalah (sosial/kehidupan bermasyarakt), muasyaroh (kekeluargaan) mukholatoh (pembauran).

Gontor menghadapi yatim lbh dr 4000 (krn tdk ada ortunya).
Maka Santri2 dikerumuni, dikeloni slm 24 jam.

12. Bnyk yg ingin meniru spt gontor, tp yg dilihat hanya kulitnya sj, tdk nilai2 dan jiwa yg ada di dlmnya. (Yg ditiru hny bhs arab inggrisnya, pengelolaan asrama).

13. Jadilah kalian Mundzirul kaum sesuai dg profesinya masing2.

14. Apa yg kami lakukan skrg adalah warisan yg lalu, yg tlh dirintis oleh trimurti. Tdk ada yg keluar dr nilai2.

15. Pak hasan dlm bnyk pertemuan srg membacakan piagam wakaf pm gontor. Agar semua tahu apa yg diwasiatkan oleh trimurti.

16. Jika kita mengatakan saat ini blm waktunya menegakkan nilai2 islam? Kira2 anak cucu kita nanti pasti akan mengatakan hal yg sama. Yaitu Blm waktunya.

Kalau tdk skrg kapan lagi, kalau tdk kita siapa lagi.

Bung Karno kl tdk dipaksa utk proklamasi oleh para pemuda waktu itu maka kemerdekaan akan tertunda.

Jika pingin kawin jgn nunggu punya kasur yg mentul2.

Inilah pola yg dipakai oleh gontor? Penuh kesakralan.
Pondok ini anti intervensi. Buka mata, telinga, hati, otak luas2. Tutup mulut.!
Blm melihat, mendengar, tp maunya nerocos terus. (Krn didorong tendensi)

4H (head, heart, hand, hidayah).

Nasehat pak sahal kpd santri lama.
"Kunjungilah pondokmu walaupun aku sdh tdk ada"..!!"

Read more...

Jumat, 16 November 2018

Cara agar anak menjadi pintar dan cerdas dalam ilmu pelajaran dan ilmu lainnya

0 komentar

*AYAH BUNDA, DOAKAN ANAK-ANAK KITA*

Tidak semua anak bisa kita ubah dengan metode pendidikan terbaik sekalipun. Nasihat tidak didengar, pujian tidak membuatnya termotivasi, hukuman tidak membuatnya takut. Apalagi yang akan kita lakukan sebagai orang tua atau guru?

Dudukkan anak di pangkuan, peluk, usap kepalanya, lalu doakan kebaikan untuknya. Mungkin, metode pendidikan modern tidak pernah menganjurkan Anda menggunakan metode ini. Tapi, metode ini dipraktikkan Nabi, sang murabbi sejati. Dan metode ini benar-benar efektif.

Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas:

ضمني رسول الله صادلى الله عليه وسلم إلى صدره وقال: اللهم علمه الحكمة.

_"Rasulullah saw. mendekapku ke dadanya, lalu berdoa: 'Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya.'"_

Dalam riwayat lain:

اللهم فقهه في الدين و علمه التأويل.

_"Ya Allah jadikanlah ia seorang yang fakih tentang agama ini dan ajarilah ia ilmu tentang takwil (tafsir Al-Qur'an)."_

Berkat doa tersebut, di kemudian hari Ibnu Abbas ra. menjadi ulama besar dan pakar tafsir Al-Qur'an.

Ummu Sulaim pernah membawa Anas kepada Rasulullah Saw. Lalu berkata, "Wahai Rasulullah, inilah Anas kecil, anakku. Saya bawa kepadamu agar ia membantumu maka doakanlah ia!"

Rasulullah Saw. pun mendoakannya,

اللهم أكثر ماله وولده وبارك له فيما أعطيته

"Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah ia dalam apa yang Engkau berikan kepadanya."

Anas berkata: "Demi Allah, hartaku banyak! Sedangkan anak dan cucuku, hari ini, jumlahnya sekitar seratus silih berganti mengunjungiku."

Orang tua dan guru jangan bosan mendoakan anak atau anak didiknya. Karena, doa orang tua dan guru untuk anak dan anak didiknya dikabulkan. Apalagi pada waktu-waktu yang mustajab. Bawalah anakmu dan anak didikmu kepada orang shalih agar didoakan.

Belum tentu metode ini diterapkan di sekolah paling favorit sekalipun. Terapkan di lembaga pendidikan yang Anda kelola.

Sukoharjo, 17 November 2018

*Hawin Murtadlo*

Read more...

Jadi Tahu

0 komentar

*JADI TAHU*

~ JADI TAHU
siapa yang pertama memberitakan kemerdekaan Indonesia? : koran-koran ARAB.

~ JADI TAHU siapa yang pertama mengakui kedaulatan Republik Indonesia? : ARAB Mesir & Palestina.

~ JADI TAHU
siapa yang pertama mengirim bantuan senjata dari luar Indonesia pasca Proklamasi? ARAB, senjata dari Mesir diangkut atas biaya Arab Saudi.

~ JADI TAHU
siapa tokoh yang pertama mengucapkan selamat atas kemerdekaan Indonesia? ARAB, Syaikh Ismail Husein Mufti Palestina.

~ JADI TAHU
Proklamasi 1945 dibacakan di rumah orang ARAB, Faraj Martak. Jalan Proklamasi 56.

~ JADI TAHU
Bung Karno sakit beri-beri sebelum proklamasi, sembuh diberi MADU ARAB oleh Faraj Martak.

~JADI TAHU
Kakeknya Bung Hatta belajar di ARAB.

~ JADI TAHU
Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai Hasyim menimba ilmu di ARAB.
Orang yang dianggap berbahaya oleh Snouck Hurgronje adalah orang yang pulang dari ARAB, karena itu ditandai dengan gelar HAJI.

~ JADI TAHU
Yang menyelamatkan Bendera Pusaka saat agresi militer Belanda II 1948 adalah orang ARAB, Mayor Husein Muthahhar. Beliau juga penyusun lagu Dirgahayu Indonesiaku, Hymne Syukur dan Mars Pramuka.

~ JADI TAHU
Salah satu bapak pendiri bangsa kita adalah orang ARAB, AR. Baswedan anggota BPUPKI dan Wakil Menteri Penerangan 1946. Kakek Anis Baswedan Gubernur Jakarta.

~
JADI TAHU
Lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, dibuat oleh keturunan ARAB, Syarif Abdul Hamid al-Kadrie. Sultan Pontianak.

~
JADI TAHU
Sultan Syarif Kasim II keturunan ARAB, menyerahkan mahkota, istana, dan hampir seluruh kekayaan Kesultanan Siak Sri Inderapura kepada pemerintah RI termasuk Uang sebesar 13 juta gulden setara 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah. Segepok uang itulah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Sukarno. Belum lapangan minyak Stanvac yang menjadi pemasukan utama NKRI selama 73 tahun ini

~
JADI TAHU
Dan banyak lagi ...
*Dalam praktik hidup kita alami juga banyak sekali W.N.I. turunan Cina yang pergi dan memihak kepada bangsa aslinya: RRC. Warga negara keturunan Arab boleh dikatakan tidak ada yang semacam itu. Indonesia sudah benar-benar menjadi Tanah Airnya*.

JADI TAHU
Arab banyak memberi bantuan gratis, bukan hutang yang disebut bantuan, benar-benar gratis, dari pendidikan, keagamaan, bantuan saat bencana dan lainnya. Arab hampir tak pernah meminta-minta pada Indonesia, justru banyak memberi. Kalau tak bisa membalas budi, setidaknya kata-kata yang manis dan ucapan terima kasih.
Sukrooon
Aina sukron... 😄😫😇

Read more...