Banner 468 x 60px

 

Jumat, 06 Juli 2018

Bersabar dalam doa

0 komentar

BERSABAR DALAM BERDOA
by.attambuni

قال الفضيل بن عياض رحمه الله :-
Berkata al Fudhail bin ‘Iyadh –semoga Allah merahmati beliau-:

” تعلمت الصبر من صبي صغير: ذهبتُ مرة إلى المسجد فوجدت امرأة داخل دارها تضرب ابنها وهو يصرخ ففتح الباب وهرب فأغلقت عليه الباب.

“Aku belajar tentang kesabaran dari anak yang masih kecil. Suatu ketika aku pergi ke Masjid, dan aku mengetahui ada seorang ibu didalam rumahnya sedang memukul anaknya. Lalu anaknya berteriak, membuka pintu dan berlari. Maka ibu itu menutup pintu darinya.

قال: فلما رجعتُ نظرتُ، فلقيت الولد بعدما بكى قليلا نام على عتبة الباب يستعطف أمه فرق قلب الأم ففتحت له الباب.

Ia (al-Fudhail) berkata : “Maka tatkala aku pulang, aku meninjau. Maka aku menjumpai anak laki-laki itu setelah menangis sebentar,  lalu ia tidur di ambang pintu.

Ia membuat iba ibunya dan melunakkan hati sang ibu. Maka ibunya pun membukakan pintu untuknya.

فبكى الفضيل حتى ابتلت لحيته بالدموع

Maka menangislah al-Fudhail hingga basah jenggotnya dengan linangan air matanya.

وقال: سبحان الله !لو صبر العبد على باب الله عز وجل– لفتح الله له…! “

Dan ia berkata: Subhanallah!” Jikalau seorang hamba bersabar dihadapan pintu Allah –‘Azza wa Jalla- niscaya Allah akan membukakan pintu untuknya.

قال أبو الدرداء رضي الله عنه: “جـدوا بالدعـاء فإنه من يكثـر
قـرع الباب يوشك أن يفتح له

Berkata Abu Darda’ –semoga Allah meridhainya- :

“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam berdoa, karena sesungguhnya siapa yang memperbanyak mengetuk pintu, maka akan dibukakan baginya.”

Read more...

Sabtu, 21 April 2018

Cara menyikapi perbedaan dari Imam Syafi’i

0 komentar

Sebuah Renungan:
~~~~~~~~~~~~~

*YANG MASIH TERUS BERTENGKAR KARENA PERBEDAAN MADZHAB, PERBEDAAN HARAKAH, PERBEDAAN ORMAS, PERBEDAAN GURU DAN PERBEDAAN USTADZ FAVORIT...*

SIMAKLAH DENGAN SEKSAMA KISAH DIBAWAH INI!

*KISAH INDAH PENUH HIKMAH WEJANGAN IMAM SYAFI'I KEPADA MURIDNYA*

Diriwayatkan bahwa Yunus bin Abdi Al-'Ala, berselisih pendapat dengan sang guru, yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi'i (Imam Asy Syafi'i) saat beliau mengajar di Masjid.

Hal ini membuat Yunus bangkit dan meninggalkan majelis itu dalam keadaan marah..

Kala malam menjelang, Yunus mendengar pintu rumahnya diketuk ... Ia berkata : "Siapa di pintu..?"
Orang yang mengetuk menjawab : "Muhammad bin Idris."

Seketika Yunus berusaha untuk mengingat semua orang yang ia kenal dengan nama itu, hingga ia yakin tidak ada siapapun yang bernama Muhammad bin Idris yang ia kenal, kecuali Imam Asy Syafi'i..

Saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut dengan kedatangan sang guru besar, yaitu Imam Syafi'i..

Imam Syafi'i berkata : "Wahai Yunus, selama ini kita disatukan dalam ratusan masalah, apakah karena satu masalah saja kita harus berpisah..?

Janganlah engkau berusaha untuk menjadi pemenang dalam setiap perbedaan pendapat...

Terkadang, meraih hati orang lain itu lebih utama daripada meraih kemenangan atasnya..

Jangan pula engkau hancurkan jembatan yang telah kau bangun dan kau lewati di atasnya berulang kali, karena boleh jadi, kelak satu hari nanti engkau akan membutuhkannya kembali.."

"Berusahalah dalam hidup ini agar engkau selalu membenci perilaku orang yang salah, tetapi jangan pernah engkau membeci orang yang melakukan kesalahan itu..

Engkau harus marah saat melihat kemaksiatan, tapi berlapang dadalah dan bimbinglah para pelaku kemaksiatan..

Engkau boleh mengkritik pendapat yang berbeda, namun tetap menghormati terhadap orang yang berbeda pendapat..

Karena tugas kita dalam kehidupan ini adalah menghilangkan penyakit, dan bukan membunuh orang yang sakit.."

Maka apabila ada orang yang datang meminta maaf kepadamu, maka segera maafkan...

Apabila ada orang yang tertimpa kesedihan, maka dengarkanlah keluhannya...

Apabila datang orang yang membutuhkan, maka penuhilah kebutuhannya sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadamu..

Apabila datang orang yang menasehatimu, maka berterimakasihlah atas nasehat yang ia sampaikan kepadamu..

Bahkan seandainya satu hari nanti engkau hanya menuai duri, tetaplah engkau untuk senantiasa menanam bunga..

Karena sesungguhnya balasan yang dijanjikan oleh Allah yang Maha Pengasih lagi Dermawan jauh lebih baik dari balasan apapun yang mampu diberikan oleh manusia.."

Beliaupun menangis dan merangkul Sang Imam sembari mohon maaf dan berterima kasih atas nasihatnya.
----------------------

Mari kita bersatu dalam Aqidah..

Bertoleransi dalam Khilafiyah..

Berjuang bersama dalam Da'wah..

SEMOGA KITA SEMUA BISA MENELADANI KEBESARAN HATI ULAMA ULAMA TERDAHULU. AAMIIN

Read more...

Selasa, 27 Maret 2018

Prinsip kyai Hasan Abdullah Sahal, pengasuh pondok Modern Darussalam Gontor

0 komentar

KYAI NUSANTARA

Belakangan ini Kyai Hasan Abdullah Sahal disebut oleh beberapa orang yang fanatik dengan pemerintah dengan sebutan "bukan kyai betulan". Gegara kalimat "Blue Shoe Cant" sepatu biru tidak bisa apa-apa (blusukan). Padahal bagi orang-orang yang mengenal secara pribadi, pasti tahu beliau adalah sosok Kyai yang mengeluarkan pemikirannya selalu dibarengi ilmu dan hati kecil (nurani).
Contoh, saat mengemukakan ketidaksenangannya terhadap seorang Ustadz di televisi yang kerap bermain-main, beliau menggunakan bahasa, "hati saya kok tidak sreg, saat melihat ustadz di televisi lebih banyak bermain ketimbang memberikan ilmu. Atau mungkin hati saya yang banyak dosa, astaghfirullah," ucapnya di hadapan para guru.
Lain hal saat ustadz membandingkan dirinya dengan Abu Rizal Bakrie, "Lebih kaya mana saya dengan Abu Rizal Bakrie? Saya sudah tidak lagi mencari harta. Saya sudah menyerahkan diri (wakaf) saya kepada Dzat yang memiliki semua kekayaan. Sedangkan Abu Rizal Bakrie masih terus mencari uang. Jadi sebenarnya siapa yang lebih kaya?"
Kyai Hasan, sejak dulu konsisten dengan bidangnya yaitu menjadi pengajar. Bahkan Kyai yang hafal 30 Juz ini, tidak pernah meninggalkan tugas menjadi imam sholat jumat di Gontor kecuali sakit dan berada di luar negeri. Jika ada kepentingan di Jakarta beliau pasti menyempatkan pulang untuk mengimami sholat Jum'at di Gontor Ponorogo Jawa Timur.
Tahu tidak, saat acara 90 tahun pondok Gontor, dengan tawadhu Kyai Hasan datang kepada santrinya Menteri Agama Luqman Saifuddin di Jakarta utuk menyampaikan undangan. Lalu santrinya yang saat itu tidak berada di kantor, dengan tergesa-gesa langsung datang ke kantor, "Ustadz kenapa susah payah datang ke sini? kalau antum suruh saya datang ke Gontor saya pasti datang."
Ustadz Hasan adalah sosok yang memegang teguh pendirian. Pernah, saat seorang presiden datang ke Gontor, ajudan kepresidenan mengganti tempat duduk. Sehingga antara tuan rumah (kyai) tidak bisa berbicara langsung dengan tamu (presiden) karena dipisah oleh tempat duduk gubernur. Tidak sesuai dengan adat bertamu, maka Kyai Hasan meminta untuk mengganti tempat duduk tersebut kepada protokoler Presiden. Karena tidak disetujui  maka esoknya Kyai Hasan tidak hadir. Beliau selalu berkata, tidak ada yang perlu ditakuti di dunia ini, di atas hanya Allah di bawah hanya tanah.
Apa salahnya, seorang Kyai memperhatikan keadaan bangsa? memperhatikan akhlak bangsa, ekonomi bangsa, kondisi umatnya. Malah kurang benar orang yang mengatakan, kyai urus umat (agama) saja jangan urus politik. Sama halnya, saat Kyai ikut mengembangkan perekonomian umat, lalu ada orang bilang, Kyai urus agama saja, jangan urus ekonomi. Jangan karena kita benci kepada sekelompok orang (politik) membuat  kita tidak adil terhadap mereka. Lalu lupakah dengan gerakan Kyai Dahlan, Kyai Hasyim yang ikut andil dalam membangun bangsa (politik) dengan caranya masing-masing. 
Semboyan di Gontor adalah "di atas dan untuk semua golongan". Tidak ada kaos partai, kaos ormas bahkan kaos klub sepakbola di dalam pondok. Tidak boleh berkumpul satu daerah kecuali ditentukan waktunya.Sampai jika Kyai Gontor menganut ideologi NU atau Muhammadiyah. Pondok tidak boleh diNUkan atau dimuhammadiyahkan.  Jadi bagaimana Gontor akan memihak partai? orang?. 
Lalu apa yang terjadi jika ternyata Ustadz Hasan Abdullah Sahal "bukan kyai betulan"? Tentu beliau akan ikut mencalonkan diri menjadi DPR RI. Atau Gubernur Jawa Timur. Bermain proyek. Lalu merestui berdirinya Partai Gontor.  Tapi apa kata beliau melalui ketua IKPM saat silaturohim nasional di Cirebon, "Jangan kalian menghajikan orang tua kalian dengan menjual sertifikat tanah orang tua". Artinya bisa jadi begini, alumni ingin membesarkan nama Gontor tapi dengan menggadaikan idelogi Gontor yang "di atas dan untuk semua golongan." Biarlah alumninya mengikuti partai politik, Kyainya harus tetap "ma'sum" dari perselisihan umat.
Berikut beberapa petikan pesan dan nasehat beliau:

“Kaya itu penting, tapi jangan yang penting kaya; yang penting kaya bisa menghalalkan segala cara. Maka kalau bisa orang itu kaya dan sehat. Sehat itu penting, karena maksiat saja perlu sehat, apalagi ketaatan dan kebaikan perlu kesehatan. Berusahalah jadi orang kuat.”

“Hidup itu nikmat dan indah, maka nikmatilah keindahan hidup. Yang membuat tidak nikmat itu manusianya. Allah sudah menjadikan semuanya indah di dunia ini. “Dia-lah yang membuat indah segala sesuatu yang Dia ciptakan” (Qs.[32]: 7).”
“Keindahan dan kenikmatan bagi seorang guru yaitu murid; bagi suami adlh istri; bagi orang tua adlah anak; bagi pemimpin adalah rakyat, dst. Ini surga kita: guru punya murid, murid punya guru,itu surga. Bayangkan murid tidak punya guru, atau guru tidak punya murid. Dokter tidak punya pasien, pasien tidak punya dokter.”

“Guru bukan sekedar mengajar ilmu, tapi juga mengajar kehidupan. Kiai yang bener itu ada di pondok 24 jam, 7 hari seminggu, 31 hari sebulan, dst; pesantren tidak boleh jadi sambilan, mendidik dan mengajar tidak boleh hanya sambilan. Harus totalitas; tenaga, pikiran, hati, dan keikhlasan.”

“Kita syukuri kenikmatan ini, dan kita nikmati kesyukuran ini. Jangan sampe kenikmatan kita disyukuri orang lain, atau kesyukuran kita orang lain yang menikmati. Ramadhan dan Idul Fitri, itu kesyukuran dan kenikmatan kita, jangan sampai malah orang-orang nasrani, yahudi, kapitalis, komunis, dll yang menikmati.”

“Memberi sedekah saat-saat sulit itu bagus, mulia. Memberi sedekah saat lapang itu biasa. Ingat hadis Rasul: “juhdul muqill”, kerja kerasnya orang yang serba terbatas; maka keterbatasan diri tidak boleh membuat orang tidak berbuat kebaikan.”“Maka, jangan sampe jadi manusia yang tidak punya prestasi. Berprestasilah, dan harus punya keunggulan. Berprestasilah dalam kebaikan, kemakrufan dan kebenaran.”

“Di pondok ini semangatnya adalah kebersamaan untuk memberi, bukan kebersamaan untuk bagi-bagi. Ingat, dalam berjuang dan berjihad jangan berpikir dapat apa, berapa, itu sampah-sampah perjuangan.”

“Di pondok ini kita tanamkan “bom,” yaitu “bom spiritual,” bukan bom kimiawi. Kita didik santri-santri ini menjadi “bom spiritual,” untuk “mengebom” sesuatu yang tidak benar, kemungkaran dan kemunduran.”

“Tiap orang punyz aib, tiap lembaga punya kekurangan. Boleh membaca aib orang, tapi jangan membacakannya. Bedakan antara membaca dan membacakan. Suasana sekarang ini semrawut, karena saling membacakan aib orang lain.”

“Ulama yang mempertahankan harga diri dan meninggalkan persatuan umat, menjauhi ukhuwah Islamiyah, tidak usah diikuti, itu ulama palsu. Umat ditinggalkan ulama itu pahit, tapi lebih pahit lagi kalo ulama ditinggalkan umat.”

*Rudy bin Abdurrahman*

Read more...

Sabtu, 17 Maret 2018

Sejarah pencipta lagu 17 agustus dan sejarah pangeran diponegoro adalah ulama besar

0 komentar

"PONOROGO - JETIS - TEGALSARI DAN SEJARAH BANGSA"
================
(Untuk para guru tolong di disampaikan ke murid2nya karna penting)

Dahulu, ada tokoh pendidikan internasional, bernama  Dr. Sudjatmoko (Rektor Universitas PBB).

Beliau pernah berkata, pada zaman akhir ini, alternatif pendidikan terbaik adalah pondok pesantren, dengan catatan: memakai manageman modern.

Secara metode mengaji tetap memakai kitab salafiyah, namun dalam hal tata-kelola menggunakan manajemen modern.

Santri pondok pesantren itu ampuh.

_Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti penjajah Belanda adalah santri dan tarekat/thariqah._

_Ada seorang santri yang juga penganut tarekat, namanya Abdul Hamid._

Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta.

*Mondok pertama kali di Pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH Hasan Besari.*

Abdul Hamid *ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani* Kertosuro.

*Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi* Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta.

Terakhir Abdul Hamid *ngaji ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad* Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama lima tahun, 1825-1830.

Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari.

Abdul Hamid adalah Putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur.

Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang.

Menjadi nama di Kodam Jawa Tengah.

Terkenal dengan nama: Pangeran Diponegoro.

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro.

Dalam kurun lima tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.

_Nama aslinya_ *Abdul Hamid.*
_Nama populernya_ *Diponegoro.*

Adapun *nama lengkapnya adalah* _Kyai Haji Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong._

Tidak hanya Diponegoro, anak bangsa yang didik para ulama menjadi tokoh bangsa.

Diantaranya, di Yogjakarta ada seorang ulama bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan.

Punya santri banyak, salah satunya bernama _Suwardi Suryaningrat._

_*Suwardi Suryaningrat*_ ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional *yang terkenal dengan nama* _*Ki Hajar Dewantara.*_

Jadi, *Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang ulama besar.*

Sayangnya, *sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah,* _yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani._
Itu sudah baik, namun belum komplit.

*Ki Hajar Dewantara*  _selain punya ajaran Tut Wuri Handayani,_ *juga punya ajaran Al-Quran Al-Karim.*

Perlu diketahui bahwa ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.

Sang Sayyid tersebut menyusun lagu syukur.

Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan _H Muthahar._

_H Mutahar_ Itu *bukan* _Haji Muthahar,_ *namun* _Habib Husein Muthahar,_ *yang menciptakan lagu syukur.*
Beliau adalah Pak Dhenya Habib Umar Mutohar SH Semarang.

_Jadi, *yang menciptakan* lagu *syukur* yang kita semua hafal adalah *seorang sayyid, cucu/ keturunan baginda Nabi Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wassalam.*_

Mari kita nyanyikan bersama-sama.

_Dari yakinku teguh_
_Hati ikhlasku penuh_
_Akan karuniamu_
_Tanah air pusaka_
_Indonesia merdeka_
_Syukur aku sembahkan_
_Kehadiratmu tuhan_

*Itu yang menyusun cucu nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga kauman Semarang.*

Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.

Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.

Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid.   Hebat !!!

Lebih hebatnya lagi, *Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.*

Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat dzuhur.

Sampai pada kalimat hayya alas shalâh, terngiang suara adzan.

Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.
Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S” nya, “A” nya, “H” nya.

Kemudian pena berjalan, tertulislah dan lahirlah lagu :

_17 Agustus tahun 45_
_Itulah hari kemerdekaan kita_
_Hari merdeka nusa dan bangsa_
_Hari lahirnya bangsa Indonesia_
_Merdeka_
_Sekali merdeka tetap merdeka_
_Selama hayat masih dikandung badan_
_Kita tetap setia tetap setia_
_Mempertahankan indonesia_
_Kita tetap setia tetap setia_
_Membela negara kita_

*Maka peran para ulama, kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.*

Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, _minta didampingi putra ulama atau kyai._

Tampillah seorang dari kampung Batu Ampar, Maya Kumbung, Sumatera Barat.
Siapa beliau?
H. Mohammad Hatta.
Beliau putra ulama.

*Bung Hatta* _adalah putra Ustadz Kyai Haji Jamil, *Guru Thariqah Naqsyabandiyyah – Kholidiyyah.*_

Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.

Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra ulama dan putra penganut tarekat/thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.

Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh.
*Jangan sekali-kali memotong sejarah.*
Jika anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah anda akan dipotong oleh Allah SWT. 
Semoga bermanfaat.

Read more...

Sabtu, 20 Januari 2018

Sumber Bencana Alam

0 komentar

~"WASPADALAH, SUMBER BENCANA"~
Oleh★ Kiai Hasan Abdullah Sahal★

#Manusia ingat dunia lupa akherat adalah sumber bencana, manusia berusaha tanpa berdoa adalah bencana, manusia berdoa tanpa berusaha adalah bencana. Yang di atas tidak merasa kalau di atas, tidak mau bertanggung jawab atas amanatnya. Yang di bawah juga tidak mau tahu kapan taat dan kapan tidak taat. Disinilah sumber bencana “Karena adanya kekosongan, al-ajwaf-jawfa’, keropos, memikirkan materi tidak memikirkan moral, orang memikirkan moral tidak memikirkan materi, akhirnya kekosongan”.

#Alam rusak karena manusia, manusia tidak menempatkan dirinya sebagai makhluk yang akan memimpin alam. Nabi kita, Nabi Muhammad itu rahmatan lil’alamin, "wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin, wa nunazzilu minal Qur’ani maa huwa syifaa’un wa rahmatun." Rahmah, untuk supaya ke-rahmatanlil’alamin-nya Nabi kita Muhammad, untuk menjadi fungsinya al Qur’an sebagai syifa’ dan rahmah perlu hidayah, dan Islam itu lah yang namanya hidayah .

#Bagaimana alam di sekitar ini tetap abadi, tetap terjaga, tetap bermanfaat? Semua itu untuk manusia di dalam beribadah kepada Allah, “Lakum” (untuk kalian manusia). Di dalam al Qur’an itu “khalaqo lakum maa fissamaawaati wal ardh” “ja’ala lakumul ardho”, lakum, “alladzii ja’ala lakumul ardho firoosyan wassamaa_a binaa_an", Lakum. Kamu kalau bertanya “Hai kebo, hai wedus, hai kadal, kodok, kamu diciptakan untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu wahai manusia”. Bertanya kepada nyamuk “Kamu nyamuk diciptakan di dunia untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu manusia”. Apalagi tumbuh-tumbuhan, untukmu . Tetapi manusia diciptakan “liya’buduni” untuk menyembah Allah.

#Sumber bencana karena apa? “Karena meninggalkan fungsi”. Jadi, mengapa terjadi bencana disana-sini? “Karena adanya kehilangan atau perpindahan atau kerusakan fungsi”. Manusia capek jadi manusia, binatang pengen jadi manusia juga nggak bisa, laki-laki bosan jadi laki-laki, perempuan juga bosan jadi perempuan, payah. Monyet-monyet itu sekarang itu pada protes, karena apa? Karena manusia ganti nama, kalau pacaran mereka jadi cinta monyet. Marah mereka, mbok cinta manusia kenapa cintanya kok cinta monyet? Mbok cintanya “cinta kirik (anak anjing)” gitu, kok nama saya yang dipake? Kerbau itu juga marah. Mereka pengen ganti nama, karena apa? Karena namanya sudah dikorup oleh manusia, dicopet oleh manusia, kenapa nama saya dipake? itu di atap kita ada cicak, mbok namanya “kumpul cicak” kenapa nggak itu?, kumpul tanpa akad nikah itu. Marah, kecewa mereka.

#Laki-laki bosan jadi laki-laki, pakai giwang, pakai anting-anting, pakai kalung, tinggal kasih lonceng aja itu. Perempuan capeee’ jadi perempuan, pengen jadi laki-laki. Cape’ bosan jadi perempuan, ulah tingkahnya itu, teruskan sendiri. Gajah cape, di Lampung itu gajah pakai jilbab, warnanya hijau, dihiasi, tapi di atasnya itu ada makhluk ndak pakai baju, yang tertutup auratnya hanya tinggal seperempat atau sepersepuluh dari badannya. Bingung, ini manusianya mana? binatangnya mana? Itu di Lampung, manusia cape berpakaian. Betul? Ya Allah…

#Sumber bencana, La hawla wa la quwwata illa billah. Kita yang bertanggungjawab mengembalikan manusia kepada kemanusiaan yang sempurna. Kamu jadi santri harus bisa macam-macam termasuk pramuka, renang dan lain-lain. Kamu kalau berada di sungai, di danau, naik sampan, meskipun kamu pinter bahasa Arab, pinter bahasa Inggris, Matematika 9, Fisika 9, tapi nggak bisa berenang, kalau sampan terguling apa yang terjadi? Hah? Bahasa Arabmu itu ghoiru musta’mal ketika itu.

“SOMBONGNYA MANUSIA KARENA BISANYA, LUPA BERAPA YANG TIDAK DIBISAI”. Itulah makanya, disinilah banyak kekosongan akhirnya banyak tidak beres, sumber bencana.

#Kita jangan menyalahkan orang lain. Yang harus disalahkan adalah diri kita sendiri. Sekarang di Indonesia, terjadi bencana. Dulu waktu Tsunami di Aceh, apa komentar orang? “itu gara-gara Aceh banyak maksiat, karena disana banyak bid’ah, banyak khurofat, atau mau keluar dari Indonesia, akhirnya diterjang oleh Tsunami”, yang ngomong itu kira-kira orang Jawa Barat. Habis itu ganti Jawa Barat kena Tsunami, banjir lagi. Apa kata orang Jawa Tengah? “Ooo, itu gara-gara banyak maksiat, disitu banyak molimo, disitu banyak syirik, banyak orang yang berbuat maksiat, makanya dapat adzab dari Allah”, seakan-akan dia orang yang sholeh.

#Habis itu kena lagi, ganti Jogja yang kena gempa, apa kata orang lain? “wah itu gara-gara banyak syirik, disana banyak bid’ah, banyak orang yang maksiat, banyak orang yang kumpul kebo, pasti itu dapat adzab dari Allah”, yang ngomong itu seakan-akan orang sholeh. Jalan lagi, Jawa Timur lumpur Lapindo. Apa katanya? “gara-gara maksiat”. Seakan-akan orang hanya tinggal menyalahkan orang lain, seakan-akan dirinya yang paling sholeh. Ini termasuk sumber bencana. Apa sumber bencana? “Karena merasa dirinya itu sholeh, seakan-akan dirinya itu paling takut atau taqwa, kemudian menyalahkan orang lain”.

#Celakanya, waktu ada Tsunami itu ada selebriti atau artis yang ngomong “Ini peringatan dari Tuhan supaya orang-orang jangan sombong, yang sombong itu adalah orang yang suka mengkritik artis-artis”. Padahal Ulama’ kemarin mengatakan “Kita mendapat bencana karena banyak zina, banyak maksiat, banyak mengumbar aurat, banyak hubungan yang tidak beres, dan sebagainya dan sebagainya”, yang dimaksudkan adalah kaum artis. Besok pagi baru artis ada yang ngomong, “gara-gara maksiat”, apa maksiatnya? “Itu lho orang-orang yang menjelek-jelekkan artis” . Ini yang menjadi sumber bencana “Menyalahkan orang lain, membela diri tidak pada tempatnya”.

#Maka, “MARI KITA ISI HIDUP INI DENGAN YANG BERMANFAAT, JADILAH MANUSIA YANG BERMANFAAT, JANGAN HANYA PANDAI MEMANFAATKAN DAN JANGAN SAMPAI HANYA DIMANFAATKAN”.

●Pesan saya kepada kalian, sama halnya saya berpesan kepada anak kandung saya sendiri meskipun bukan saya yang mengandung, “JANGAN SAMPAI KAMU TIDAK MEMPUNYAI KEUNGGULAN YANG DIANDALKAN”. Keunggulan yang baik-baik, bukan seperti: keunggulan saya adalah ngebut di jalanan, nongkrong di tepi jalan, dan sebagainya, diteruskan sendirilah. “BERSYUKURLAH KAMU MENJADI SANTRI” ●

●"Semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Kyai-kyai kita, guru-guru kita selalu mengharapkan dan mendoakan kita menjadi orang yang alim dan sholeh, mempunyai peradaban sendiri, merubah keadaan yang kacau ini menjadi baik. Dalam bahasa Ustadz Syukri “Kita punya peradaban sendiri, kita ini perang peradaban dengan orang luar (non muslim), maka pandai-pandailah kamu mempantas-pantaskan dirimu sebagai santri sebagai ustadz, sebagai alumni Gontor. Pantas pola pikirnya, sikapnya dan tingkah lakunya”●

★☆★Sambutan Beliau saat Musyawarah Kerja Koordinator Gerakan Pramuka di Pondok Modern Darussalam Gontor★☆★

[Jazaakumullah khairan bagi siapapun yang menulis ulang dan yang ikut sebarkan posting an #spiritGONTOR ini.... Semoga jadi amal jariyah bagi kita semua... Aamiinn Allahumma Aamiinn]

Read more...

Jumat, 12 Januari 2018

Kisah pengorbanan pimpinan pondok Modern Darussalam Gontor

0 komentar

Yah allah wahai zat maha mendengar rahmatilah guru kami dan mudahkan lah urusan beliau, dan berkahilah amal nya, dan mudahkan lah kami untuk meneladani nya

Satu hari, saya diperintahkan mengikuti Pimpinan Pesantren (Kyai Syukri) untuk perjalanan ke Subang dengan pesawat. Beliau diminta untuk memberikan sambutan peresmian sebuah Masjid di sebuah cottage di subang. Sampai disana, ternyata beliau tidak hanya meresmikan Masjid disana, tapi juga bertemu dengan IKPM, mengunjungi pondok alumni, bersilaturrahmi dengan saudara beliau di Bandung, mengunjungi sentra kebun nanas, dan berkunjung ke BEC untuk beli HP. Hari pertama saya sudah kewalahan mengiringi semua kegiatan beliau. Begitu datang langsung pertemuan dengan pemilik Masjid, kemudian langsung pergi ke pertemuan IKPM Subang, sampai jam 01 malam baru selesai, dan pulang sampai penginapan pukul 01.30 dini hari. Masih juga menemui tamu yang sudah lama menunggu beliau di cottage. Saya betul-betul kaget, karena pada pukul 04.00 beliau sudah siap untuk ke masjid dan memimpin Jamaah di sana. Saya yang masih muda saja teller mengikuti aktifitas beliau yang dahsyat itu.

Keesokan harinya, saya dipanggil beliau menghadap, Kemudian di hadapan sang pemilik Masjid, beliau menyatakan : “Ul (panggilan kecil saya memang UUL), kalau kamu kepengen tahu, darimana biaya perjalanan dinas saya di Subang ini, silahkan tanya sama Pak Ibrahim ini (pemilik masjid). Beliau inilah yang memberikan biaya perjalanan dinas kita hingga sampai disini sekarang ini. Jadi tidak pakai Uang Pondok. Kalau ada yang mempertanyakan, dari mana Kyai Gontor itu uangnya, kok kemana-mana jalan-jalan terus. Maka sepeserpun uang pondok tidak kami pakai, kecuali untuk acara yang memang di maksudkan untuk kepentingan pesantren sendiri….dari yang mengundang kami-lah biaya perjalanan dinas kami selama ini…” Aku terpaku, kembali harus aku akui…pengorbananku ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Usaha yang beliau sudah lakukan...

Sekali lagi saya mendengar hal yg mungkin menurut sebagian orang terasa "aneh". Sebuah kenyataan bahwa ternyata, bahkan sampai detik ini sekalipun KH Hasan Abd Sahal tidak punya Mobil Pribadi..!! Dan KH Abd Syukri Zarksyi itu, membeli mobil setelah beliau sakit. Setelah beliau tidak bisa mensopiri sendiri mobil beliau...Jadi selama ini mobil yg dipakai beliau berdua itu ternyata mobil dinas dari Pondok. Yang pemakaiannya ditentukan, hari apa yg dibayai pondok, hari apa saja yg beliau gunakan dengan biaya beliau sendiri.. Saya mendengar ini langsung dari Guru yang alumni Gontor. Sanhat dkat dengan Pak Hasan. Masya Allah...Gontor, pesantren dengan 24.000 santri di seluruh cabangnya. Kyai-nya belum punya mobil pribadi?? Ya Rahman...kecil nian apa yg saya lakukan ya Allah, jika di Banding apa yg beliau lakukan... "Ada dua orang yg mukafaah ("gaji" bulanan yg sama sekali jumlahnya tidak bisa ditentukan) tidak diambil sampai sekarang...Pak Syukri dan Pak Hasan..." Lanjut guru itu. "Saya ingat Pak Syukri dulu pernah berkata : Saya tidak pernah ambil mukafaah saya...tapi kalian lihat, anak istri saya tercukupi, anak saya bisa kuliah, saya punya rumah...itulah...hidup-hidupilah pondok, maka kalian akan hidup...!!" Kali ini mata beiau berkaca-kaca... *** Kyai kami...Ayah kami...Guru kami...Ya Allah Rahmati beliau berdua...

Read more...

Selasa, 26 Desember 2017

Kunci diterima nya amal

0 komentar

KUNCI DITERIMA AMAL

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu." 

▶ (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi).

🌸 Dalam lafadz lain:

فإن قبلت منه قبل سائر عمله وإن ردت عليه عليه رد سائر عمله

Apabila shalatnya diterima maka akan diterima semua amalnya. Dan apabila ditolak, maka akan ditolak seluruh amalnya."

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang benar benar menjaga shalatnya, rukun dan syaratnya serta kekhusyuannya akan menyebabkan  amal  lainnya diterima, oleh karena itu jagalah waktu-waktu shalat dan selenggarakan lah dengan berjamaah agar keutamaan shalat tersebut sempurna.

Hadits tersebut menegaskan juga bahwa satu satu nya cara untuk menebus shalat yang ketinggalan dan tidak sempat tertunaikan adalah dengan melakukan shalat shalat Sunnah. Tidak ditemukan cara yang yang dianjurkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk menyempurnakan dan mengganti  shalat  yang tertinggal  kecuali dengan 
cara seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut.

Terdapat lima tingkatan terkait dengan shalat seseorang, yaitu   :

🍁 *1. Mu’aqab (kelompok yang diazab).*
Mereka adalah _golongan manusia yang mengerjakan sholat, tetapi salah menjalankannya dan jauh dari sempurna. Selain syarat dan rukunnya diabaikan, mulai dari pelaksanaan wudlu hingga soal thaharah  lainnya juga tidak mendapat perhatian. Dapat dikatakan, mereka itu shalat asal-asalan. Waktu shalat sering dilakukan diluar waktunya,sering terlambat, bahkan seringkali tidak dilaksanakan. Merekalah dalam al-Qur’an disebut *An shalatihim sahun* _"orang yang dhalimun linafsihi" yaitu orang yang menzalimi diri sendiri_.

🍃 *2. Muhasab (kelompok yang dihisab)*.
Golongan ini adalah _mereka yang rajin melaksanakan shalat, menjaga waktu-waktunya, demikian juga syarat, wajib dan rukunnya. Secara lahiriyah seluruh ketentuan mengenai shalat sudah dipenuhinya. Wudlunya bagus, pakaiannya nenutup aurat, tidak terkena najis, menghadap qiblat, tepat waktu, demikian juga semua rukun shalat tidak cacat. Sayang, satu hal yang kurang pada kelompok ini adalah kehadiran hatinya. Pada saat shalat, hati dan pikirannya tidak dijaga sehingga melayang-melayang entah kemana_.

🌹 *3. Mukaffar’anhu (yang diampuni dosa-dosanya).*
Setingkat lebih baik lagi adalah _kelompok orang-oramg yang senantiasa menjaga batasan-batasan shalat, menjalankan wajib dan rukunnya, bahkan menjalankan sunnah-sunnahnya, sekaligus bersungguh-sungguh disisi Allah SWT dari segala godaan nafsu was-was yang mengotori pikiran dan perasaannya. Dalam shalatnya mereka sibuk menjaga hati dan pikirannya. Mereka berkosentrasi penuh agar setan tidak berkesempatan  mencuri shalatnya_.

🌻 *4.Mutsah (yang diberi pahala).*
Tak sekedar diampuni dosa-dosanya, _mereka termasuk orang yang berhak mendapat pahala yang berlimpah. Mereka ini adalah segolongan kecil orang  yang *aqimush-shalat* (menegakkan shalat),tidak sekedar menjalankannya. _Golongan ini menegakkan shalat dengan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan hatinya tenggelam dalam menjaga batasan-batasanya. Mereka tidak membiarkan hatinya sedikitpun terlena dari segala hal yang dapat mengganggu konsentrasi shalatnya. Pada tingkatan ini seluruh anggota tubuhnya berzikir, pikirannya berzikir, juga hatinya berzikir.

🍀 *5. Muqarrib min Rabbihi (yang mendekatkan diri kepada Allah.)*
Tingkatkan yang paling tinggi adalah orang yang menegakkan shalat sampai pada tahap *Muqarribin* yaitu _orang-orang yang dekat dengan Allah. Ketika shalat, golongan ini merasa benar-benar bertemu dan berhadapan dengan Allah. Jika tidak melihat Allah, maka mereka yakin bahwa Allah melihatnya. Mereka meletakan hatinya dihadapan Allah, merasa diawasi Allah, dan hatinya penuh dengan kedekatan kepada Allah. Dihatinya telah sirna segala was-was dan segala pikiran diluar shalat. Mereka itulah orang-orang yang disebut Nabi SAW sebagai_ *muhsinin*

Firman Allah Subhanahu wa Taala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ  اَنَا فَاعْبُدْنِيْ  ۙ  وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Innaniii anallohu laaa ilaaha illaaa ana fa'budnii wa aqimish-sholaata lizikrii

"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 14)

Read more...