Banner 468 x 60px

 

Senin, 29 Agustus 2016

Perbedaan Tour Leader dan Guide Leader

0 komentar

Perbedaan Tour Leader dan Tour Guide

Perbedaan antara Tour Leader dan Tour Guide dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Jadwal dan Durasi Perjalanan

Tour Leader memiliki jadwal dan durasi perjalanan yang sama dengan para wisatawan yang dipimpinnya. Artinya seorang Tour Leader harus menemani wisatawan dan mengikuti seluruh rangkaian tur dari awal hingga akhir.

Tour Guide hanya bertugas menjelaskan destinasi yang merupakan tanggung jawabnya saja. Misalnya seorang Tour Guide untuk Kota Yogyakarta hanya menjelaskan kepariwisataan di Kota Yogyakarta saja.

Jika wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di luar wilayah tanggung jawab dari Tour Guide, maka tugas dari Tour Guide sudah selesai.

2. Tanggung Jawab

Seorang Tour Leader tidak hanya bertanggung jawab untuk menemani wisatawan selama melakukan perjalanan wisata saja.

Tour Leader juga memiliki tanggung jawab untuk mengatur agar perjalanan wisata dapat berlangsung dengan lancar seperti melakukan morning call serta ontime scedhule dengan menyesuaikan antara kondisi saat itu dan itinerary yang telah disusun sebelumnya.

Tour Leader juga bertanggung jawab dalam memastikan keadaan dari wisatawan yang dipimpinnya dan harus selalu memeriksa apakah rombongannya lengkap atau ada yang tertinggal.

Namun, jika ada wisatawan yang memisahkan diri dari kelompok ketika sedang melakukan kegiatan wisata tanpa meminta izin dari Tour Leader, maka Tour Leader juga tidak memiliki bertanggung jawab terhadap wisatawan tersebut.

Untuk Tour Guide, tanggung jawab yang diemban hanyalah menjelaskan secara rinci (dan menyenangkan) mengenai seluk beluk kepariwisataan di destinasi yang menjadi tanggung jawabnya.

Karen penjelasan dari Tour Guide ini sangat berpengaruh terhadap persepsi wisatawan akan destinasi yang sedang dikunjungi, maka seorang Tour Guide harus memilikilisensi resmi dari dinas pariwisata setempat.

Ini juga menjadi batasan terhadap Tour Leader, bahkan tidak dianjurkan bagi Tour Leader untuk memberikan penjelasan secara rinci mengenai destinasi yang sedang dikunjungi kecuali Tour Leader memiliki lisensi sebagai Tour Guide di destinasi tersebut.

3. Pengetahuan Sejarah dan Budaya

Tour Leader memiliki cakupan kerja yang luas yaitu semua destinasi yang dikunjungi oleh rombongannya. Oleh karena itu, Tour Leader tidak dibebankan untuk mengetahui secara rinci mengenai sejarah dan budaya di masing-masing destinasi yang dikunjungi.

Selain itu, tugas utama seorang Tour Leader bukanlah menjelaskan suatu destinasi melainkan memimpin rombongannya.

Namun, Tour Leader sebaiknya memiliki pengetahuan secara umum mengenai destinasi yang sedang dikunjungi, serta sedikit memahami bahasa daerah dari destinasi tersebut (jika terdapat perbedaan bahasa) sehingga komunikasi antara masyarakat lokal dengan rombongan dapat terjalin dengan baik.

Karena telah memiliki lisensi untuk memandu wisatawan di destinasi yang menjadi tanggung jawabnya, maka Tour Guide wajib untuk mengetahui secara detail mengenai sejarah dan budaya di destinasi tersebut. Oleh karenanya, biasanya Tour Guide adalah penduduk lokal.

Tour Guide juga harus menyampaikan penjelasannya secara menyenangkan agar rombongan wisatawan tidak bosan.

Kesimpulan

Tour leader dan Tour Guide memiliki perbedaan dari sisi jadwal, tanggung jawab dan pengetahuan mengenai destinasi yang dikunjungi.

Seorang Tour Leader tugas utamanya adalah memimpin rombongan agar perjalanan wisata dapat berlangsung dengan lancar, sedangkan seorang Tour Guide memiliki tanggung jawab untuk memberikan penjelasan yang lengkap mengenai destinasi yang dikunjungi oleh rombongan wisatawan.

Disadur dari : studipariwisata.com (pusat referensi ilmu pariwisata)

Read more...

Metode Pendidikan Terbaik dari Zaman dulu hingga Sekarang

0 komentar

Mungkin postingan ini sudah pernah diterima namun ada baiknya kami ulang hanya untuk mengingatkan, karena ada tambahan.

*🐝🐝Sistem Pendidikan Terbaik🐝🐝*

*_Oleh: Muhammad Husnan..._*

*_~ Sekitar 4 tahun yang lalu tepatnya di awal Romadhon 1433 H,_*
*_~ saya mengikuti kuliah subuh di Masjid dekat rumah._*
*_~ Ustadz yang berceramah menceritakan kisah nyata dari seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia_*
*_~ yang sedang mencari sistem pendidikan terbaik yang dapat menghasilkan dan mencetak generasi yang cerdas, bermartabat dan bisa bermanfa'at bagi bangsa dan agama._*

_~ Untuk mencari sistem pendidikan terbaik,_
_~ rektor tersebut pergi ke TimurTengah untuk meminta nasihat dari seorang ulama terkemuka di sana._
_~ Ketika bertemu dengan ulama yang ingin ditemuinya,_
_lalu dia menyampaikan maksudnya untuk meminta saran bagaimana menciptakan sistem pendidikan terbaik untuk kampus yang dipimpinnya saat ini._

*_~ Sebelum menjawab pertanyaan dari rektor,_*
*_~ ulama tersebut bertanya bagaimana sistem pendidikan saat ini di Indonesia mulai dari tingkat bawah sampai paling atas_*
*_~ Rektor menjawab, "Paling bawah mulai dari:_*
*_☆ SD selama 6 tahun,_*
*_☆ SMP 3 tahun,_*
*_☆ SMA 3 tahun,_*
*_☆ D3 3 tahun_*
*_☆ atau S1 4 tahun,_*
*_☆ S2 sekitar 1,5 - 2 tahun,_*
*_☆ dan setelah itu S3 untuk yang paling tinggi._*

_~ Jadi untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun ya?_
_~ Tanya Sang Ulama._
_~ Iya, jawab rektor tersebut._
_~ Lalu bagaimana jika hanya lulus sampai di SD saja selama 6 tahun,_
_~ pekerjaan apa yang akan bisa didapat?_
_~ Tanya kembali Sang Ulama._
_~ Kalau hanya SD paling hanya buruh lepas atau tukang sapu jalanan, tukang kebun dan pekerjaan sejenisnya._
_~ Tidak ada pekerjaan yang bisa diharapkan jika hanya lulus SD di negeri Kami._
_~Jawab si rektor._

*_~ Jika lulus SMP bagaimana?_*
*_~ Untuk SMP mungkin jadi Office Boy (OB) atau cleaning service,_*
*_~ jawab kembali si rektor._*
*_~ Kalau SMA bagaimana_*
*_~ Kalau lulus SMA masih agak mending pekerjaannya di negeri kami,_*
*_~ bisa sebagai operator di perusahaan-perusahaan, lanjut si rektor._*

_~ Kalau lulus D3 atau S1 bagaimana?_
_~ Bertanya kembali Sang Ulama._
_~ Kalau lulus D3 atau S1 bisa sebagai staff di kantor_
_~ dan S2 bisa langsung jadi manager di sebuah perusahaan, kata si rektor._

*_~ Berarti untuk mendapatkan pekerjaan yang enak di negeri Anda minimal harus lulus D3/S1 atau menempuh pendidikan selama lebih 15-16 tahun ya?_*
*_~ Tanya kembali sang Ulama._*
*_~ Iya betul, jawab si rektor._*

_~ Sekarang coba bandingkan dengan pendidikan yang Islam ajarkan._
_~ Misal selama 6 tahun pertama (SD) hanya mempelajari dan menghapal Al-Qur'an,_
_~ apakah bisa hapal 30 juz? Tanya Sang Ulama._
_~ In-syaa Allah bisa, jawab si rektor dengan yakin._
_~ Apakah ada hafizh Qur'an di negeri Anda yang bekerja sebagai buruh lepas atau tukang sapu seperti yang Anda sebutkan tadi untuk orang yang hanya Lulus SD?_
_~ Kembali tanya Sang Ulama._
_~ Tidak ada, jawab si rektor._

*_~ Jika dilanjut 3 tahun berikutnya mempelajari dan menghapal hadits,_*
*_~ apakah bisa menghapal ratusan hadis selama 3 tahun?_*
*_~ Bisa, jawab si rektor._*
*_~ Apakah ada dinegara Anda orang yang hapal Al-Qur'an 30 juz dan ratusan hadits menjadi OB atau cleaning service?_*
*_~ Tidak ada, jawab kembali si rektor._*

_~ Lanjut 3 tahun setelah itu mempelajari tafsir Al-Qur'an,_
_~ apakah ada di negara Anda orang yang hafizh Qur'an, hapal hadits dan bisa menguasai tafsir yang kerjanya sebagai operator di perusahaan?_
_~ Tanya kembali ulama tersebut._
_~ Tidak ada, jawab si rektor._
_~ Rektor tersebut mengangguk mulai mengerti maksud sang ulama._

*~ Anda mulai paham maksud Saya?*
*~ Ya, jawab si rektor.*

*_~ Berapa lama pelajaran agama yang diberikan dalam seminggu?_*
*_~ Kurang lebih 2-3 jam, jawab si rektor._*

*_~ Sang ulama melanjutkan pesannya kepada si rektor,_*
*_~ jika Anda ingin mencetak:_*
*_♤ generasi yang cerdas,_*
*_♤ bermartabat,_*
*_♤ bermanfa'at bagi bangsa dan agama,_*
*_♤ serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti,_*
*_♤ Anda harus mengubah sistem pendidikan Anda dari orientasi dunia menjadi mengutamakan orientasi akhirat_*
*_♤ karena jika kita berfokus pada akhirat in-syaa Allah dunia akan didapat._*
*_♤ Tapi jika sistem pendidikan Anda hanya berorientasi pada dunia,_*
*_♤ maka dunia dan akhirat belum tentu akan didapat._*

_~ Pelajari Al-Qur'an karena orang yang mempelajari Al-Qur'an,_
_~ Allah akan meninggikan derajat orang tersebut di mata hamba-hambaNya._
_~ Itulah sebabnya Anda tidak akan menemukan orang yang hafizh Qur'an di negara Anda_
_~ atau dinegara manapun yang berprofesi sebagai tukang sapu atau buruh lepas_
_~ walaupun orang tersebut tidak belajar sampai kejenjang pendidikan yang tinggi_
_~ karena Allah yang memberikan pekerjaan langsung untuk para hafizh Qur'an._
_~ Hafizh Qur'an adalah salah satu karyawan Allah_
_~ dan Allah sayang sama mereka dan akan menggajinya lewat cara-cara yang menakjubkan._
_~ Tidak perlu gaji bulanan tapi hidup berkecukupan._

*_~ Itulah pesan Sang Ulama kepada rektor tersebut._*
*_~ Mari kita didik diri dan keluarga kita agar senantiasa:_*
*_☆ selalu membaca,_*
*_☆ mempelajari,_*
*_☆ dan menghapal Al-Qur'an_*
*_☆ agar hidup kita dimudahkan dan berkecukupan._*
*_☆ Totalitas menjadi karyawan Allah bukan hanya karyawan dari seorang manusia._*

*_♡ Silakan dishare agar semakin banyak yang terinspirasi untuk mempelajari dan menghapal Al Qur'an_*

_Sebarkan semoga menjadi amal kebaikan bagi kita semua._

*Semoga bermanfa'at*👏

Read more...

Kamis, 25 Agustus 2016

نصائح للمسافرين

0 komentar

(( اللهم ارزقنا الجنة ))

لست أبكي على نفسي إذا ماتت !
إنما أبكي على الجنة إن فاتت ,
هي حقيقة فماذا أعددنا لها؟

سبحان الله

حينما نُجهز متاع لسفر..
نخاف أن ننسى شيئآ ولو كان يسيرآ..
وكلما كانت مدة السفر أطول كلما كان الحرص أشد..
فما بالك بإقامة نهائية لا رجوع منها أبدآ..
إما جنة بخلود.. وإما نار بخلود..

لمثل ذاك السفر فأعدوا يا تلاميذ محمد (صلى الله عليه وسلم )

أخي الحبيب أختي الكريمة
كل منا.. كل عاقل فينا
يحتاج لوقفة تأمل .. ثم سؤال :
يا ترى كيف سيكون
أول صباح في الجنة ؟

وأنت واقف من
شُرفة قصرك ،
تنظر إلى الكنوز
والأنهار والجنان
وقد تبدلت عليك
السموات والأرض !

أنهار من لبن
وأنهار من عسل
وأنهار من خمر
وأنهار من ماء
شديد الصفاء !

قصور من
الذهب والفضة !
وأرضيات على
مد البصر من اللؤلؤ !

وكثبان من المسك !
وروائح طيبة تحفك !

وأشجار كثيرة
أغصانها الذهب !
وفواكه كثيرة بألوانها !

وخدم وملك عظيم
ومكانة عالية !

وحور عين
وغلمان مخلدون ،
وكل من فقدت من أهلك وكان صالحآ مقبول العمل
يجمع الله بينكم هناك !
هناك وما أدراك ما هناك..

ما لا عين رأت
و لا أذن سمعت
و لا خطر على قلب بشر !

أليس هذا كله يستحق
الصبر على فتن الدنيا ؟!

ومجاهدة النفس
على الطاعة ؟

والبعد عن المعصية ؟
والإخلاص في العمل ؟

اللهٌم اجمعنا وأحبتنا
ووالدينا وأزواجنا
وأولادنا وإخواننا
وأخواتنا ومن نحب
في الفردوس
الأعلى من الجنة
بغير حساب ولا سابقة عذاب
يارب العالمين .
اللـــــــــــــــــــــهم
َّ صّلِ وسَلّمْ عَلۓِ  سَيّدنَآ ونبينا مُحَمد ﷺ وعلى آله وصحبه والتابعين ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين..
💐🌹❤🌹💐
أرجو دعوة صالحة بظهر الغيب

Read more...

Rabu, 24 Agustus 2016

Kisah Ashabul Ukhdud

0 komentar

Raja dan Pemuda di Kisah Ashabul Ukhdud

KISAH ini terdapat di dalam shahih Muslim jilid 4/hadits no. 2005, dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ada seorang raja yang hidup sebelum kalian. Dia mempunyai seorang tukang sihir. Tatkala tukang sihir tersebut usianya telah tua, dia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya aku telah tua, maka kirimkanlah seorang pemuda kepadaku untuk aku ajari sihir!” Maka dikirimlah seorang pemuda kepadanya untuk diajari sihir.”

Dalam kelanjutan kisah disebutkan bahwa pemuda tersebut dalam satu perjalananya bertemu dengan seorang rahib (ahli ibadah yang mengikuti ajaran Nabi Isa), lalu dia berhenti di tempat rahib itu dan mendengarkan penuturannya. Si pemuda merasa tertarik dengan sang rahib. Akhirnya setiap kali berangkat ke tukang sihir dia selalu mengunjungi di tempat si rahib. Si rahib berkata, “Kalau kamu takut terhadap tukang sihir, maka katakan, ‘Keluargaku telah menahanku (untuk berangkat).’ Dan kalau kamu khawatir terhadap keluargamu maka katakan, ‘Tukang sihir telah menahanku (untuk pulang)’.”

Dalam suatu perjalanan, si pemuda melihat seekor binatang yang sangat besar, sedang menghalangi orang banyak. Maka berkatalah pemuda itu, “Pada hari ini aku akan mengetahui apakah tukang sihir yang lebih utama ataukah sang rahib. Ya Allah kalau apa yang disampaikan rahib lebih Engkau cintai daripada yang diajarkan tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini, sehingga tidak mengganggu orang.” Pemuda tersebut lalu melempar binatang tersebut, sehingga mati. Maka orang-orang pun dapat lewat lagi dengan aman.

Dia lalu menceritakan peristiwa tersebut kepada sang rahib, maka rahib pun berkata, “Wahai anakku, sekarang engkau lebih utama daripada diriku, engkau telah mencapai derajat yang aku impikan, dan sesungguhnya engkau nanti akan menghadapi ujian. Jika ujian itu datang maka janganlah engkau menunjukkan tentang diriku.” Disebutkan bahwa pemuda tersebut mampu mengobati segala macam penyakit, buta, tuli, dan berbagai jenis penyakit yang beraneka ragam.

Salah seorang yang dekat dengan raja, dan ia seorang buta, mendengar tentang pemuda itu. Dia menyiapkan hadiah yang sangat banyak untuk pemuda tersebut. Dia pun berkata, “Semua hadiah ini untukmu, jika engkau dapat menyembuhkanku.”

Pemuda itu menjawab, “Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan tidak lain adalah Allah subhanahu wata’ala. Jika Anda beriman kepada Allah, maka aku akan berdoa kepada-Nya dan Dia akan menyembuhkan Anda.”

Maka orang tersebut beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, dan atas kehendak Allah dia akhirnya sembuh dari kebutaan.

Orang tersebut datang menghadap sang raja sebagaimana biasanya.

Sang raja heran lalu bertanya, “Siapa yang mengembalikan penglihatanmu?”

Dia menjawab, “Rabbku.”

Raja bertanya, “Apakah kamu mempunyai Rabb selain aku?”

Lalu dijawab, ” Ya, Rabb saya dan Rabb paduka, yaitu Allah subhanahu wata’ala.”

Akhirnya sang raja menyiksa orang tersebut, dan terus-menerus menyiksanya hingga akhirnya dia bercerita tentang pemuda yang mengobatinya. Maka dipanggillah pemuda itu menghadap raja.

Raja berkata, “Hai anak muda, sungguh sihirmu telah mencapai tingkat dapat menyembuhkan orang buta dan tuli, dan engkau dapat melakukan ini dan itu.”

Si pemuda menjawab, “Sesungguh nya aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun, hanya Allah lah yang menyembuhkan.”

Raja lalu menyiksa si pemuda, dan dia terus menerus disiksa sehingga dia bercerita tentang sang rahib. Maka dipanggillah sang rahib, lalu raja berkata, “Tinggalkan agamamu!”

Namun rahib itu menolak.

Maka sang raja pun mengambil gergaji kemudian diletakkan persis di pertengahan kepala sang rahib, lalu menggergajinya hingga terbelah kepalanya lalu terjatuh di tanah. Kemudian orang dekat raja (yang sembuh dari kebutaan) juga dipanggil, dan dikatakan kepadanya, “Tinggalkan agamamu.” Namun dia pun menolak, dan akhirnya dia mengalami hal yang sama sebagaimana si rahib, digergaji kepalanya hingga terbelah.

Pemuda tersebut akhirnya dibawa menghadap sang raja, lalu dikatakan kepadanya, “Tinggalkan agamamu!” Namun dia menolak.

Sang raja lalu memerintahkan agar pemuda tersebut dilemparkan dari puncak sebuah gunung.

Maka dibawalah pemuda itu ke salah satu gunung. Sesampainya di atas puncak gunung pemuda berdo’a, “Ya Allah cukupilah (tolonglah) aku dari mereka menurut kehedak-Mu.”

Maka gunung tersebut bergetar, dan akibatnya orang-orang pun jatuh terpelanting dari atas gunung, kecuali pemuda itu yang selamat. Lalu dia pulang menemui sang raja dengan berjalan kaki.

Raja pun bertanya, “Apa yang terjadi dengan orang-orang yang membawamu?:”

Pemuda menjawab, “Allah subhanahu wata’ala telah mencukupi aku dari mereka.”

Raja lalu memerintahkan agar pemuda itu ditenggelamkan di tengah laut. Namun lagi-lagi, atas pertolongan Allah subhanahu wata’ala dia selamat dari rencana itu, sedangkan orang-orang yang akan mengeksekusinya justru yang tenggelam di laut.

Pemuda berkata kepada raja, “Sesungguhya engkau tidak dapat membunuhku sebelum melakukan apa yang aku perintahkan.”

Raja lalu bertanya, “Apa itu?”

Pemuda itu menjawab, “Kumpulkan manusia di suatu tempat, lalu saliblah aku di suatu batang pohon, kemudian ambillah anak panah milikku, letakkan anak panah itu pada busurnya dan ucapkanlah,’“Dengan menyebut nama Allah, Rabb pemuda ini.’ Kemudian lepaslah anak panah ke arahku, jika engkau lakukan itu, maka engkau dapat membunuhku.”

Raja menuruti perintah pemuda, dan sebelum membidikkan anak panah, raja mengucapkan, “Dengan menyebut nama Allah, Rabb si Pemuda.”

Dan ternyata benar, pemuda itu akhirnya meninggal.

Maka orang-orang pun ramai-ramai berkata, “Kami beriman kepada Rabb pemuda.”

Betapa marahnya raja ketika melihat orang-orang telah beriman kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dia lalu memerintahkan untuk membuat parit, kemudian dinyalakan api di dalamnya. Siapa saja yang tidak meninggalkan agamanya maka akan dilemparkan ke dalam parit itu. (Dari sinilah mereka disebut ash-habul ukhdud, yakni orang-orang yang menggali parit. Mereka adalah pembesar daerah Najran, Yaman, red)

Para hulubalang berdiri di pinggir-pinggir parit itu, mereka menawarkan kepada orang-orang, apakah memilih dilemparkan ke dalam parit ataukah mau meninggalkan agama mereka. Dan siapa saja yang tidak meninggalkan agamanya maka dia dilemparkan ke dalam parit yang menyala.

Di salah satu tepi parit, ada seorang wanita yang sedang menggendong bayinya, dia sangat mengkhawatirkan bayi itu, dia pun ragu-ragu. Namun tanpa diduga bayi itu berkata, “Wahai ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.”

Read more...

Senin, 22 Agustus 2016

Kelebihan memaafkan kesalahan orang lain

0 komentar

*MAAFMU, MENJADI SEBAB AKU & KAMU MASUK SURGA*

Pada suatu hari, Rasulullah sedang berkumpul dengan para sahabatnya.

Di tengah para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi depannya.

Umar r.a. yang berada di di situ, berkata, ‘Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?’

Rasulullah SAW menjawab, ‘Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah.

Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’.

Allah berkata, ‘Bagaimana mungkin saudaramu ini bisa melakukan itu, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya?’

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya’.

Sampai di sini, mata Rasulullah berkaca-kaca.

Beliau Rasulullah tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis.

Lalu, beliau Rasulullah berkata, ‘Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya’.

Rasulullah melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi, ‘Angkat kepalamu..' Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata,

‘Ya Rabb, aku melihat di depanku ada tempat yang terbuat dari emas dan istana-istana yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan intan permata.

Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Untuk syahid yang mana, ya Rabb?’

Allah berkata, ‘Istana-istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya’.

Orang itu berkata, ‘Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?’

Allah berkata, ‘Engkau mampu membayar harganya’

Orang itu terheran-heran, sambil berkata, ‘Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?’

Allah berkata...
*‘Caranya engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.*

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kini aku memaafkannya’

Allah berkata..
*'Kalau begitu, ambil tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu’.*

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah berkata, ‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai,

sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin’.

_Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih._

*Pekerjaan hati yg nilainya tinggi di hadapan Allah adalah minta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan.*

Semoga lelah kita semua menjadi Manfaat dihari perhitungan.... Aamiin

Maaf lahir batin yaaa...🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Read more...

Minggu, 21 Agustus 2016

Pemimpin muslim Vs Pemimpin Non muslim? Jawaban untuk pertanyaan Mana yang baik, Pemimpin Non muslim tapi jujur atau pemimpin muslim tapi Zalim?

0 komentar

“BANG, mau nanya!”

“Soal apa?”

“Soal itu, pemimpin muslim dan non muslim.”

“Wah, saya sudah ketebak arahnya ke mana nih.”

“Hehehe, jadi menurut Abang bagaimana? Lebih baik mana? Pemimpin non muslim tapi jujur, atau pemimpin muslim tapi zalim?”

“Pemimpin muslim tapi jujur.”

“Ya iyalah! Tapi kalau pilihannya cuma dua itu, bagaimana?”

“Sebenarnya pertanyaan kamu yang salah.”

“Memangnya yang benar bagaimana?”

“Yang benar, yang begini itu jangan ditanya. Saya bingung jawabnya.”

“Sudah terlanjur nanya, Bang. Jawab saja.”

“Kalau saya tanya kamu. Kamu pilih mana? Minum kopi sianida, atau racun serangga?”

“Wah! Sama-sama mati, dong.”

“Nah, kira-kira begitu.”

“Jadi Bang?”

“Begini, orang yang baik tapi bukan muslim, tetap tidak baik jika dia jadi pemimpin sebagian besar muslim. Sekali pun dia memang orang yang baik. Sedangkan pe …”

“Di sini yang aku tidak mengerti, Bang! Setelah banyak terdengar, ‘mendingan kafir jujur daripada muslim tapi zalim’. Seolah-olah hukum Allah itu salah. Nah, kita yang berpedoman dengan Al-Qur’an seolah-olah memang dibiarkan berada di bawah pemimpin zalim. Dipimpin oleh pemimpin zalim itu lebih baik daripada dipimpin oleh pemimpin non muslim walau dia baik. Kan begitu jadinya? Padahal Allah itu Maha Baik, kan?”

“Begini, saya tadi sebenarnya belum selesai ngomong. Untuk pemimpin yang baik tapi non muslim, perumpamaannya misalkan ada lahan yang harus ditanami padi, yang nanti hasilnya untuk makan orang banyak. Karena dia orang yang baik maka dia amanah, memenuhi kewajibannya. Dia menanam memang untuk kesejahteraan rakyatnya. Namun karena dia tidak mengetahui cara menanam padi, yang seharusnya padi itu ditanam dengan cara mundur, tapi dia menanamnya dengan cara maju, sehingga padi yang ditaman lalu terinjak olehnya. Maka jelaslah takkan tumbuh yang namanya padi. Yang ada cuma rumput liar. Alhasil, rakyat kelaparan. Pokoknya, apapun yang dilarang oleh Allah, itu berarti berakibat buruk jika kita melakukannya. Kira-kira seperti perumpamaan barusan.”

“Kalau pemimpin muslim tapi zalim?”

“Ya sebaliknya. Dia tahu aturan menanam padi, yaitu mundur. Tapi dia memilih menanam dengan caranya sendiri, padahal aturan yang dia tahu, itu yang paling baik. Alhasil, ya sama saja, rakyat tetap kelaparan.”

“Jadi, yang lebih baik?”

“Ya yang tadi, muslim tapi jujur.”

“Seriuslah, Bang.”

“Memangnya saya kelihatan main-main?”

“Ya tidak. Jadi, bagaimana?”

“Menurut kamu, jika kita yang sebagian besar muslim ini ditakdirkan oleh Allah untuk dipimpin oleh pemimpin non muslim, kira-kira kenapa?”

“Wah, tidak tahu, Bang?”

“Karena mungkin, jangan-jangan kita ini memang pantas mendapatkannya.”

“Wiiiih … iya kah?”

“Menurut kamu, jika kita sebagian besar muslim ini ditakdirkan oleh Allah untuk dipimpin oleh pemimpin muslim tapi zalim, kira-kira kenapa?’

“Jangan-jangan karena kita pantas mendapatkannya?”

“Betul! Jangan-jangan kita ini memang pantas.”

“Saya tidak puas dengan jawaban ini, Bang.”

“Oke, anggap saja begini … eemmm saya, kamu dan sebagian orang telah menetapkan–harga mati harus memilih pemimpin muslim. Kita ajak keluarga, teman dan orang-orang. Namun yang terjadi tetap non muslim yang jadi pemimpin. Tentu ini atas izin Allah, kan? Allah itu Maha Bisa. Jangankan satu kota, jika Dia menghendaki seluruh rakyat Indonesia memilih pemimpin muslim, maka itu pasti terjadi. Bahkan dunia. Pertanyaannya, kenapa Allah izinkan non muslim menjadi pemimpin? Kalau pun muslim, kenapa dia zalim?”

“Iya, ya. Jangan-jangan itu tadi, Bang. Jangan-jangan kita memang pantas mendapatkannya.”

“Mungkin.”

“Solusinya?”

“Dulu, sebelum wafat Rosulullah Sholallahu alaihi wassalam pernah berpesan, beliau bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dosa-dosa itu dapat mengubah nikmat-nikmat dan mengganti bagian yang mestinya didapatkan. Maka ketika manusia dalam keadaan baik, maka pemimpin mereka akan berbuat baik kepada mereka. Jika manusia dalam keadaan jelek, maka pemimpin mereka akan menghancurkan mereka. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman, “Dan demikian Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’aam : 129)”‘. [1]

“Bukankah di Indonesia masih banyak orang baik?”

“Mungkin. Tapi bisa jadi lebih banyak yang tidak baik. Malah kemungkinan besar kita termasuk di dalamnya. Coba kita ingat-ingat! Terhadap Allah kita ini bagaimana? Terhadap orang tua kita ini bagaimana? Terhadap guru kita ini bagaimana? Terhadap saudara kita ini bagaimana? Terhadap sesama kita ini bagaimana? Dan lain sebagainya. Ingat! Fir’aun menjadi raja pada masanya dikarenakan kaumnya tidak beriman kepada Allah, mereka tidak bertakwa, mereka zalim. Allah uji kaum itu dengan Fir’aun dan Fir’aun sendiri diuji dengan kekuasaannya.”

“Iya, Bang. Sholat suka nunda bahkan kadang lupa, sama orang tua sekadarnya, sama guru lupa, sama saudara musuhan, terhadap sesama tidak peduli, dosa besar dianggap enteng dosa kecil dianggap tidak ada, amal dianggap tidak berharga. Banyak kurangnya, Bang.”

“Iya, mungkin karena itu kita diberi pemimpin non muslim. Kalau pun muslim dia zalim.”

“Jadi, solusinya?”

“Perbaiki islam kita.”

“Kalau itu iya, Bang. Maksud aku jika harus memilih, pilih yang mana?”

“Kok masih nanya? Kamu tadi memperhatikan tidak? Coba ingat-ingat obrolan kita ini.”

“Oh, iya iya. Maaf, Bang. Iya, saya paham.”

“Kalau nanti terpilih pemimpin muslim namun dia zalim, sedangkan semua rakyatnya berubah jadi sholeh. Ya keroyokan saja berdo’a, minta dia diberikan hidayah oleh Allah. Do’a orang sholeh itu cepat sampainya. Apalagi do’a orang sholeh yang teraniaya. Ada saja cara Allah. Entah pemimpin itu dapat hidayah atau lengser dan diganti pemimpin yang amanah, kita tidak tahu?”

“Iya juga, ya. Tapi kalau terpilih pemimpin non muslim?”

“Ya tetap berdo’a berjamaah, semua berubah jadi sholeh. Minta sama Allah agar pemimpin itu diberi hidayah, memeluk islam dengan hatinya. Jangan sampai kita teriak-teriak anti pemimpin kafir tapi giliran masuk waktu sholat kebanyakan mikir, sholat dulu apa kerjaan dulu? Inilah yang namanya berislam setengah-setangah. Tapi pengennya pemimpin islam yang kaffah Usahakan saja sekuat tenaga kalau kita ini tidak pantas dipimpin oleh pemimpin non muslim atau pemimpin muslim yang zalim.”

Read more...

Mengapa malu dinafkahi Suami?

0 komentar

*Mengapa Malu Dinafkahi Suami?*

“Masa kita minta melulu sama suami? Malu lah…”
“Siapa sih yang gak pengen di rumah jagain anak aja? Tapi kan juga gak mungkin kita minta sama suami terus.”
“Wah saya ga biasa minta uang sama suami, mbak. Saya orangnya mandiri banget!”
“Kalau saya tidak kerja kantoran lagi, terus kalau mau beli apa-apa harus minta suami gitu? Wah gak banget!”
“Kaya’ ga punya harga diri gitu kita jadi istri kalau cuma bisa minta uang dari suami!”
“Wah bisa diinjak-injak suami kita kalau tidak berpenghasilan!”

…dan masih banyak lagi ungkapan serupa yang keluar dari seorang istri...

Seakan masuk akal, dan tidak sedikit yang meyakininya dengan sepenuh hati. Meminta uang pada suami adalah suatu hal yang menyedihkan.  Yang menurunkan harga diri. Yang diyakini nantinya akan membuat suami berhak semena-mena terhadap istrinya.

Sungguh sekali-kali tidak.

Dalam Q.S An Nisa:34, Allah berfirman:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”
(Qs. An Nisa’: 34).

Kata Qowamah yang disandingkan sebagai tugas suami pada ayat di atas tentu saja sama sekali tidak mudah. Salah satu Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi sumber nafkah untuk keberlangsungan hidup keluarga. Nafkah yang memberi fasilitas hidup dan ketenangan bagi seluruh anggota keluarga.

Ayat ini sudah  dilupakan oleh banyak keluarga muslim. Sehingga para suami kehilangan kendali kepemimpinan dan kelayakannya sebagai pemberi nafkah keluarga. Pelan tapi pasti, kewibawaan suami menghilang hingga hampir-hampir sirna. Bahkan telah ada yang sirna. Tak ada lagi sorot mata berwibawa penuh makna yang tak perlu mengeluarkan instruksi tetapi telah dipahami istri dan dilaksanakan.

Sementara itu, istri mulai mendesak masuk ke wilayah laki-laki. Kekekaran dan keperkasaan perlahan mulai terlihat jelas. Lama-lama, istri tak lagi memerlukan suami. Karena ia bisa melakukan semuanya, tanpa suami. Suami hanya sesosok wayang yang tak bergerak. Hanya ketika diperlukan, suami dirasakan kehadirannya. Tetapi sering kali suami hanya pelengkap, mungkin penderita. Tak ada lagi kekaguman, keterkaitan, kewibawaan suami di hati istri.

Jika seperti itu keadaan kebanyakan keluarga hari ini, bukankah sangat wajar ketika rumah tangga retak dan kemudian rata dengan tanah.

(Dikutip dan dirangkum dari penjelasan Ust. Budi Ashari,Lc dalam buku “Kemana Kulabuhkan Hati Ini”).

***

Hmmm….Menarik bukan?

Demikianlah, ternyata suami yang memberi nafkah istrinya merupakan salah satu kunci keutuhan dan kebahagian rumah tangga. Jadi kenapa ragu menerima nafkah dari suami sepenuhnya? Bukankah kita justru membantu dan memfasilitasinya untuk menjalani tugas Qowamah nya?

Masih gengsi? Masih malu? Ah tak perlu lah itu…

PS. Pak Suami, istrimu siap lahir bathin menerima nafkah darimu yaaa….

Yuk ah buruan….yang halal supaya berkah, itu yang terpenting …

#kesindir abiizzzz..

Happy weekend All👍

Read more...